Abdul Haris Qodir
Silaturrahim melalui dunia maya
Sabtu, 01 Maret 2025
RPL2B Tugas
Minggu, 02 Februari 2025
Wongso Leksono 1
Selasa, 07 Januari 2025
TK5 Pet 1
TK-5 Darunnajah adalah wakaf dari Keluarga Bapak Dr. K.H. Muhammad Ridho Zarkasyi, M.M. dan Ibu Hj. Meitria Cahyani, S.H., M.M. yang berlokasi di Petuk angan Utara.
Ikrar wakaf tanah dan ba ngunan telah dilaksanakan di hadapan Pengurus Pesantren Darunnajah dan Pejabat Pem buat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) Kecamatan Pesanggrahan, pada hari Rabu, 26 Januari 2022.
Pada acara pertemuan yang dilaksanakan di TK Darus salam yang dihadiri guru-guru TK Darussalam Petukangan Utara, TK Darunnajah Pusat, Darunnajah 10, Pengurus Pesantren Darunnajah dan perwakilan tokoh masyarakat Petukangan Utara, wakif menyampaikan bahwa keluarga wakif akan kembali bergabung ke Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo untuk memperkuat Universitas Darussalam yang sedang dikembangkan.
Wakif menyerahkan ke Darunnajah karena percaya dengan Pesantren Darunnajah yang sudah berpengalaman me nyelenggarakan pendidikan pra sekolah.
Dengan demikian, di ba wah Pesantren Darunnajah ada lima unit pendidikan pra seko lah:
1. Toodler, Play group dan TK Islam Darunnajah Pusat, di
Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan
2. PAUD dan Raudlatul Athfal Darunnajah 2 di Cipinin, Cigudeg, Bogor
3. PAUD dan Raudlatul Athfal Darunnajah 10 di Pesanggrah an
4. TK Islam Modern Darunnajah 14 di Sindangheula, Pabuaran Serang
5. TK-5 Islam Darunnajah di Petukangan Utara, Pesang grahan.
--
Pendidikan seni tari anak usia dini di TK Islam 5 Darunnajah adalah suatu kegiatan dalam proses mendidik anak agar mampu mengontrol dan menginterpretasikan gerak tubuh, memanipulasi benda-benda dan menumbuhkan harmoni antara tubuh dan pikiran. Pendidikan tari anak usia dini menekankan pada gerak, ketidakharmonisan gerak, mengontrol gerak baik motorik kasar maupun motorik halus yang dapat mengembangkan kecerdasan anak. Beberapa tarian yang diajarkan di TK Islam 5 Darunnajah ada tarian dari Papua Yamko Rambe Yamko, Tari Saman dari Sumatera dan Tari Wonderland serta Tari Ondel-Ondel dari Betawi dengan durasi latihan menari 30 sampai 45 menit yang dipandu oleh Ibu Inda dan Ibu Irma sebagai pelatihnya. Ekskul menari dilaksanakan setiap minggu di hari rabu. Peserta Ekskul menari beberapa kali mengikuti lomba menari yang diadakan oleh Lembaga Madrasah Ibtidaiyah di lingkungan sekitar sekolah. TK Islam 5 Darunnajah pernah meraih juara harapan dua pada Porseni yang diadakan oleh Organisasi IGTK se-Jakarta Selatan di Ancol. Kegiatan ekstrakurikuler menari merupakan salah satu program tambahan untuk meningkatan bakat dan minat siswa. Selain itu ada beberapa ekskul yang diselenggarakan di antaranya ekskul Tahfidz dan Futsal yang bisa dipilih oleh siswa/siswi. Ekskul menari di TK Islam 5 Darunnajah ini di selenggarakan setiap hari Kamis bersama salah satu guru TK Islam 5 Darunnajah. Tahun ini peserta yang mengikuti ekstrakurikuler menari sebanyak 11 siswa putri yang sangat energik dan berbakat. Pada acara-acara besar di TK Islam 5 Darunnajah ekstrakurikuler menari ini dapat menampilkan tarian mereka. Seperti pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW, anak-anak yang mengikuti ekstrakurikuler menari menampilkan tarian Islami. Anak-anak menampilkan tarian mereka dengan riang gembira dan juga kompak. Di acara Akhirussanah dan Pentas Seni di TK Islam 5 Darunnajah, ekskul menari juga berkesempatan untuk tampil dengan menampilkan tarian Ondel-Ondel khas Betawi. Mereka menggunakan aksesoris/ kostum Betawi. Penonton atau para orang tua wali murid terlihat sangat antusias menyaksikan penampilan dari ekstrakurikuler menari ini, tidak tertinggal untuk mengabadikan momen anak-anak mereka yang sudah berani tampil menari. Adanya ekstrakurikuler menari ini, dapat menumbuhkan minat dan rasa percaya diri anak, serta dapat mengembangkan beberapa aspek perkembangan anak. Selain itu, dapat mengenalkan sejak dini mengenai tari-tarian serta lagu-lagu tradisional dari berbagai daerah yang ada di Indonesia.
21. DARUNNAJAH 20, SERANG
Selasa, 31 Desember 2024
PTK Ekonomi 5
PENINGKATKAN MINAT BELAJAR SANTRI
DALAM MATA PELAJARAN EKONOMI
MELALUI METODE KONTEKSTUAL
PADA KELAS 5G TMI DARUNNAJAH JAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2023-2024
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Oleh:
H. Abdul Haris Qodir, S.Mn.
Guru TMI Darunnajah Jakarta
2024
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat diselesaikan tepat pada waktnya
PTK ini dilaksanakan untuk meningkatkan minat belajar santri dalam mata pelajaran ekonomi melalui metode Kontekstual pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional di kelas 5G TMI Darunnajah.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian penulisan ini
Kami menyadari bahwa penyusunan laporan PTK ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi maupun dari teknik penelitian. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca.
Jazakumullah khairan jaza’
Jakarta, 10 Maret 2024
Penulis
ABSTRAK
“Meningkatkan Minat Belajar Santri dalam Mata Pelajaran Ekonomi Melalui Metode Konstektual pada Kelas 5G TMI Darunnajah Jakarta Tahun 2023-2024”
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan Peningkatan minat belajar santri dalammata pelajaran Ekonomi melalui metode Konstektual pada Kelas 5G TMI Darunnajah Jakarta.
Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Pada Siklus 1 dan siklus 2 terdiri dari tahapan penelitian dibagi menjadi empat tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi, kemudian dilanjutkan ke siklus berikutnya.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2024 dengan subjek penelitian adalah santri kelas 5G pada mata pelajaran Ekonomi tahun pelajaran 2023 - 2024 yang berjumlah 29 orang.
Pada penelitian ini guru yang bertindak sebagai penulis mencoba menerapkan metode pembelajaran Konstektual melalui pelajaran Ekonomi kelas 5G pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional. Penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan terdiri dari 2 (siklus) siklus pertama terdiri dari dua observasi pembelajaran, masing-masing siklus terdiri dari 4 (empat) tahapan yakni perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Tindakan pembelajaran pada siklus I mengenai materi Kerja Sama Ekonomi Internasional. Tindakan pembelajaran pada siklus II mengenai materi Kerja Sama Ekonomi Internasional.Teknik pengumpul data hasil belajar dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik tes dalam bentuk tes tertulis yang dilaksanakan pada akhir siklus 1 dan akhir siklus 2.
Dan data hasil pengamatan dikumpulkan dengan teknik pengamatan (observasi). Observasi memungkinkan untuk mengetahui kesesuaian antara harapan dan kenyataan dari penelitian tindakan kelas. Observasi dilaksanakan secara komprehensif dalam kelas. Aspek-aspek dalam pengamatan meliputi: perilaku santri waktu belajar, kegiatan diskusi santri, partisipasi santri dalam presentasi dan diskusi. Sehingga dapat diketahui secara jelas bagaimana aktifitas santri selama proses pembelajaran. Validasi diperlukan agar diperoleh data yang valid. Pada penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data hasil nilai ujian siklus I dan II dan data hasil pengamatan. Untuk mendapatkan data nilai ujian yang valid maka disusun kisi-kisi soal dan soal test. Data hasil pengamatan divalidasi melalui triangulasi sumber, yaitu data berasal dari santri, pengamat (observer) dan peneliti sendiri.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mata pelajaran ekonomi seringkali dianggap pelajaran yang kurang diminati di kalangan santri. Hal ini terlihat pada perolehan nilai evaluasi santri kelas 5G TMI Darunnajah Jakarta pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional yang masih di bawah KKM. Hal tersebut terjadi karena kurangnya keaktifan santri dalam pembelajaran di kelas, materi pembelajaran Kerja Sama Ekonomi Internasional harus melibatkan analisis, sehingga santri dituntut untuk dapat berfikir kritis dalam memahami tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran ini penulis menggunakan mode pembelajaran Kontekstual. Penulis mengamati beberapa santri memiliki kemampuan dan kemauan untuk membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan memahami Kerja Sama Ekonomi Internasional. Sehingga dapat dilakukan diskusi kelompok dengan melibatkan santri yang prestasi akademiknya cukup baik untuk membantu santri lain yang masih mengalami kesulitan memahami materi pelajaran.
Sebagai seorang guru, penulis merasa terpanggil untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran, termasuk juga rendahnya hasil belajar santri.
Penulis merasa menemukan pemecahannya yaitu melalui metode pembelajaran Kontekstual diharapkan santri mampu berdiskusi secara kelompok serta mampu meningkatkan minat belajar santri terhadap mata pelajaran ekonomi. Oleh karena itulah penulis membuat penelitian tindakan kelas dengan judul:
MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SANTRI
MATA PELAJARAN EKONOMI
MELALUI METODE KONTEKSTUAL
PADA KELAS 5G TMI DARUNNAJAH JAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2023-2024
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, indikasi masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Santri kelas 5G memperoleh nilai yang kurang maksimal
2. Santri kelas 5G kurang aktif dalam pembelajaran mata pelajaran Ekonomi pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional walaupun terdapat materi yang kurang dimengerti.
3. Santri kelas 5G cenderung bertanya kepada teman bila ada yang belum dimengerti.
4. Sebagian santri secara keseluruhan tidak aktif dalam pembalajaran mata pelajaran ekonomi terutama pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan indikasi masalah di atas, penelitian ini dibatasi hanya pada meningkatkan minat belajar santri melalui metode Kontekstual pada Mapel Ekonomi pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang dihadapi santri yaitu santri kurang aktif bertanya kepada guru, cenderung bertanya kepada teman, serta keterbatasan pembelajaran, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana meningkatkan minat dan keaktifan santri dalam kelas 5G TMI Darunnajah Jakarta dalam pembelajaran ekonomi pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional ?
2. Apakah metode Kontekstual dapat meningkatkan minat belajar santri kelas 5G TMI Darunnajah Jakarta dalam pembelajaran Ekonomi pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional ?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui peningkatan keaktifan santri pada kelas 5G TMI Darunnajah Jakarta dalam pembelajaran ekonomi pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional.
2. Mengetahui peningkatan minat belajar santri kelas 5G TMI Darunnajah Jakarta dalam pembelajaran Ekonomi pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional melalui metode pembelajaran Kontekstual.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi santri, guru, dan sekolah baik secara langsung atau tidak langsung dalam upaya peningkatan mutu proses dan hasil belajar santri, serta peningkatan mutu pendidikan pada umumnya.
1. Manfaat Bagi Santri:
a. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar santri dalam kegiatan pembelajaran.
b. Penelitian ini diharapkan dapat membantu santri agar dapat memahami konsep materi pelajaran ekonomi secara optimal.
2. Manfaat Bagi Guru:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi/alternatif bagi guru dalam memilih/menyiapkan metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan santri sesuai dengan yang diharapkan.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran di dalam kelas berupa peningkatkan kemampuan santri pada mata pelajaran Ekomomi maupun mata pelajaran yang lain dan dapat juga dipakai pada kelas-kelas lainnya di TMI Darunnajah Pusat dan Cabang.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Tindakan Kelas
1. Pengertian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Masalah di dalam kelas atau ruang kuliah itu dapat diselesaikan atau dicari solusinya melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Istilah PTK dikenal juga dengan Classroom Action Research. PTK merupakan bagian dari penelitian tindakan (Action Research).
Menurut Suharsimi Arikunto (2006) Menjelaskan Penelitian Tindakan Kelas sebagai suatu pencermatan terhadap kegiatan pembelajaran berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. PTK yang merupakan suatu kegiatan ilmiah terdiri dari Penelitian-Tindakan-Kelas.
• Penelitian merupakan kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan aturan metodologi untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi si peneliti.
• Tindakan merupakan suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
• Kelas merupakan sekelompok santri yang sama dan menerima pelajaran yang sama dari seorang pendidik.
Tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk mengubah perilaku mengajar guru, perilaku santri di kelas, peningkatan atau perbaikan praktik pembelajaran, dan atau mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas yang diajar oleh guru tersebut sehingga terjadi peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses pembelajaran.
2. Langkah - langkah Penelitian Kelas
Arikunto (2013:17) menjelaskan bahwa satu siklus PTK terdiri dari empat 5 langkah yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksaan, (3) pengamatan dan (4) refleksi. Adapun deskripsi alur PTK yang dapat dilakukan oleh guru pada setiap siklusnya terjadi dalam Gambar 2.1 berikut ini.
Dari Gambar 2.1 dapat diuraikan prosedur Penelitian Tindakan Kelas sebagai
berikut:
1. Perencanaan (planning)
Sebelum melaksanakan PTK, seorang guru hendaknya mempersiapkan terlebih dahulu konsepnya dengan membuat perencanaan dalam bentuk tulisan. Arikunto (2010:17) mengemukakan bahwa perencanaan adalah langkah yang Perencanaan Pengamatan SIKLUS I, Perencanaan SIKLUS II, Pengamatan Refleksi, Pelaksanaan Refleksi, Pelaksanaan dilakukan oleh guru ketika akan memulai tindakannya.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini yakni:
a. Membuat skenario pembelajaran
Skenario pembelajaran merupakan bagian utama yang harus disiapkan oleh seorang guru dalam penulisan PTK. Hal inilah yang mendasari konsep PTK itu sendiri karena skenario pembelajaran mencerminkan upaya atau strategi yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran yang tertuang dalam serangkaian langkah-langkah sistematis. Berangkat dari skenario pembelajaran yang sitematis, PTK tentunya dapat berjalan sesuai dengan rencana. Dengan kata lain keberhasilan pembelajaran di tentukan oleh baik atau tidaknya skenario yang di rumuskan. Skenario pembelajaran yang baik setidaknya dibuat sesuai dengan konsep metode pembelajaran yang akan digunakan dan memiliki langkah yang sistematis.
Bentuk nyata skenario pembelajaran dalam PTK adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pembahasan tentang RPP akan diuraikan lebih terperinci pada bab selanjutnya.
b. Membuat Lembaran Observasi
Observasi adalah proses sitematis dalam merekam pola perilaku manusia, objek dan kejadian-kejadian tanpa menggunakan pertanyaan atau berkomunikasi dengan subjek. Menurut Arikunto (2013:199) observasi sebagai suatu ativitas yang sempit yakni memperhatikan sesuatu dengan mata. Di dalam pengertian psikologik, observasi atau disebut pula pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Untuk dapat merealisasikan kegiatan observasi maka dibuatlah lembar observasi. Implikasi pembuatan lembar observasi dapat mendukung keabsahan dan menghindarkan hasil PTK dari unsur biasa.
Secara khusus lembar observasi dimaksudkan guna mengukur keberhasilan peneliti dalam hal ini guru dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga diketahui kelebihan dan kekurangannya guna keperluan refleksi.
c. Mendesain alat evaluasi
Untuk dapat mengetahui hasil tindakan pada setiap pertemuan pembelajaran, seorang guru harus membuat desain alat evaluasi yang digunakan. Alat evaluasi atau sering disebut “tes” secara umum dibagi menjadi empat; yaitu tes lisan, tes objektif, soal uraian, dan soal terbuka (Suwarsono, 2009:109).
Setiap guru harus cermat dalam menentukan alat evaluasi yang digunakan. Sejatinya tidak ada alat evaluasi yang sempurna sehingga ada beberapa peneliti yang menggunakan kombinasi antara satu alat evaluasi dengan lainnya guna memperoleh data hasil penelitian yang akurat. Perlu diperhatikan bahwa alat evaluasi yang dibuat harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk itu alat evaluasi tersebut perlu diujicobakan terlebih dahulu di luar subjek penelitian. Namun bila waktu tidak memungkinkan dapat dikoreksi oleh ahlinya dalam hal ini
pembimbing guna memperoleh alat evaluasi yang sahih dan layak digunakan untuk penelitian.
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Tahap ini merupakan pelaksanaan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Seorang guru akan melakukan tindakan harus memahami secara mendalam tentang skenario pembelajaran beserta dengan langkah-langkah praktisnya.
Lebih jauh Arikunto (2010:18) memaparkan secra rinci hal-hal yang harus diperhatikan guru antara lain:
a. Apakah ada kesesuaian antara pelaksaan dengan perencanaan?,
b. Apakah proses tindakan yang dilakukan pada santri cukup lancar?,
c. Bagaimanakah situasi proses tindakan?,
d. Apakah santri-santri melaksanakan dengan bersemangat? dan
e. Bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu?.
3. Pengamatan (Obeserving)
Pengamatan adalah proses mencermati jalannya pelaksanaan tindakan (Arikunto,2010:18). Kegiatan ini merupakan realisasi dari lembar observasi yang telah dibuat pada saat tahap perencanaan. Artinya setiap kegiatan pengamatan wajib menyertakan lembar observasi sebagai bukti otentik. Ada anggapan yang mengatakan bahwa pengamatan lebih baik dilakukan oleh orang lain. Arikunto (2010:19) memaparkan tentang siapa yang melakukan pengamatan pada pelaksanaan tindakan sebagi berikut :
a. Pengamatan dilakukan oleh orang lain, Yaitu pengamat yang minta oleh peneliti untuk mengamati proses pelaksaan tindakan yaitu mengamati apa yang dilakukan oleh guru, santri maupun peristiwanya.
b. Pengamatan dilakukan oleh guru yang melaksanakan PTK.
c. Dalam hal ini guru tersebut harus sanggup mawas diri, apa yang sedang dilakukan, sekaligus mengamati apa yang dilakukan oleh santri dan bagaimana proses berlangsung. Agar hasil PTK yang bebas dari bias atau tindak objektif, guru sebaiknya menggunakan pengamat dari luar. Pengamat atau disebut juga observer dari luar seharusnya guru yang memilki pengalaman tentang pembelajaran seperti guru senior atau minimal sama masa kerjanya, mengajar pada mata pelajaran yang sama atau serumpun.
Selain itu memiliki karakter yang baik dalam penilaian yakni jujur sehingga hasil penelitian objektif bukan subjektif.
4. Refleksi (Reflecting)
Refleksi atau dikenal dengan peristiwa perenungan adalah langkah mengingat kembali kegiatan yang sudah lampau yang dilakukan oleh guru maupun santri (Arikunto, 2010:19) Pada tahap ini hasil yang diperoleh pada tahap observasi akan dievaluasi dan dianalisis. Kemudian guru bersama pengamat dan juga santri mengadakan refleksi diri dengan melihat data observasi, apakah kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya target yang akan ditingkatkan dalam penelitian misalnya hasil belajar, motivasi, kemampua menulis, kemampuan membaca dan lain sebagainya.
Perlu diingat bahwa refleksi adalah koreksi atas kegiatan tindakan jadi peran pengamat dan santri sangat membantu keberhasilan peneltian. Dari hasil refleksi bersama akan diperoleh kelemahan dan cara memperbaikinya guna diterapkan pada siklus berikutnya.
B. Minat dan Prestasi Belajar
Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir dan kemampuan lain (Hakim, 2004:1). Secara harfiah belajar mempunyai arti suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan atau sesuatu yang telah dipelajari (Djamarah, 1991:21).
Dari definisi di atas, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemampuan orang itu dalam berbagai bidang.
Belajar adalah proses terjadinya perubahan tingkah laku individu. Oleh karena itu terjadinya perubahan tingkah laku yang mengarah pada perubahan yang baik dapat dikatakan sebagai sebuah prestasi belajar. Aktivitas belajar akan memberikan hasil yang berupa terjadinya perubahan pada diri individu. Jika di dalam suatu proses pembelajaran seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, dapat dikatakan orang tersebut sebenarnya belum mengalami proses pembelajaran atau dengan kata lain akan mengalami kegagalan di dalam proses pembelajaran.
Aktivitas belajar harus berorientasi pada tujuan. Tujuan yang ingin dicapai dalam aktivitas belajar adalah terjadinya perubahan. Perubahan yang diharapkan dari terjadinya aktivitas belajar ini adalah perkembangan diri individu seutuhnya.
Rumusan bahwa belajar dapat dikatakan sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang menyangkut unsur cipta, rasa, dan karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotor (Djamarah, 1991:21).
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah:
1. Faktor internal, meliputi:
a. Faktor biologis (jasmaniah)
Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. Keadaan jasmani yang perlu diperhatikan adalah:
1) kondisi fisik yang normal,
2) kondisi kesehatan fisik.
b. Faktor psikologis
Faktor psikologis yang mempengaruhi keberhasilan belajar ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang. Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar adalah kondisi mental yang mantap dan stabil.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar individu itu sendiri. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan sekolah, faktor lingkungan masyarakat, dan faktor waktu.
Benyamin S. Bloom membagi kawasan belajar yang mereka sebut sebagai tujuan pendidikan menjadi tiga bagian yaitu kawasan kognitif, kawasasn afektif, dan kawasan psikomotor. Prestasi belajar secara luas tentu meliputi ketiga kawasan tujuan pendidikan tersebut. Walaupun demikian kita akan membatasi prestasi belajar pada kawasan kognitif saja dengan penekanan pada bentuk prestasi yang tertulis. Prestasi belajar mengandung 2 kata yang masing-masing mempunyai pengertian. Oleh karena itu sebelum diartikan secara harfiah, maka harus didefinisikan terlebih dahulu masing-masing kata.
Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru (WJS. Poerwadarminta, 1991:787). Prestasi belajar dapat juga diartikan sebagai hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individu maupun kelompok (Djamarah, 1994:19).
Dari beberapa uraian di atas, kemudian dapat diambil kesimpulan tentang pengertian prestasi belajar. Prestasi adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas, sedangkan belajar adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu, yakni perubahan tingkah laku. Dengan pengertian sederhana prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh dari berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Prestasi belajar membutuhkan suatu pengukuran tertentu untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar. Pengukuran ini yang kemudian dikenal dengan nama Tes Prestasi Belajar. Tes prestasi belajar dibedakan dari tes kemampuan lain bila dilihat dari tujuannya, yaitu mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Tujuan ini membawa keharusan dalam konstruksinya untuk selalu mengacu pada perencanaan program belajar yang dituangkan dalam silabus mata pelajaran. Sebagaimana halnya pada bentuk-bentuk tes yang lain, hakikat penyelenggaraan tes sebenarnya adalah usaha-usaha menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambila keputusan.
Dalam kaitannya dengan tugas seseorang tenaga pengajar, tes prestasi belajar merupakan salah satu alat pengukuran di bidang pendidikan yang sangat penting artinya sebagai sumber informasi guna pengambilan keputusan (Azwar, 1996:9). Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terencana untuk mengungkap performansi maksimal subjek dalam menguasai bahan bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal di kelas, tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan-ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ujian akhir nasional.
C. Model Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontektual (contekstual theaching and learning) merupakan proses embelajaran yang holistik, bertujuan membantu siswa untuk memahami materi ajar dan mengakaitkannya dengan konteks kehidupan siswa sehari hari (kontek pribadi, sosial dan kultural) sehingga mereka berpengetahuan, berketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkontruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Siswa bisa belajar dengan baik bila materi ajar terkait dengan penngetahuan dan kegiatan yang terlah diketahuinya dan terjadi di sekelilingnya.
Pembelajaran contekstual theaching and learning (CTL) adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang dianjurkan dalam penerapan kurukulum tingkat satuan pendidikan, maka pembelajaran tersebut perlu dikembangkan.
Pembelajaran kontekstual (Contextual theaching learning) yaitu pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan antara materi yang diajarkn dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sehari- hari. Hal ini melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu; konstruktivisme (constructivism), bertanya (quetioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning commonity), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penelitian sebenarnya (authentic assessment).
Proses pembelajaran bukan sekedar mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalaminya, lebih mementingkan strategi daripada hasil pembelajaran, siswa didorong untuk mengerti apa arti belajar, apa manfaatnya belajar, dan bagaimana mencapainya. Dengan demikian mereka memposisikan diri sebagai pihak yang membutuhkan bekal hidup di masa depan.
Pembelajaran kontekstual(Contextual theaching learning) adalah sebuah sistem pembelajaran yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, suatu pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan knoteks kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran kontektual (contextual theaching learnig) merupakan model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam banyak konteks di dalam dan di luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif maupun nyata, baik secara individu maupun bersama-sama.
Pembelajaran ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), siswa tidak sekedar pendengar pasif. Pembelajaran inimengutamakan pada pengetahuan dan pengalaman nyata (real word learning), berfikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, kreatif, memecahkan masalah, siswa belajar menyenangkan, mengasikkan, tidak membosankan, (joyfull and quantum learning) dan menggunakan berbagai sumber belajar.
2. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual (Contextual theaching learning)
Beberapa item yang menjadi karakteristik pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan komunikasi yang komunikatif (making meaningfull conection) Siswa memposisikan diri sebagai orang belajar aktifdalam mengembangkan minat secara individual, orang yang dapat bekerja mandiri atau kerja kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (Laerning by doing).
b. Melakukan aktivitas-aktivitas yang signifikan (doing significan work). Siswa mengkait-kaitkan antara sekolah dan berbagai konteks dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
c. Belajar dengan pengaturan sendiri (self-regulated learning). Siswa melakukan kegiatan yang signifikan : ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya atau hasil yang sifatnya nyata.
d. Berkerjasama (colaborating). Guru dan siswa berkolaborasi secara efektif dalam kelompok, guru membantu siswa memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomonikasi.
e. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat berpikir ke tingkat yang lebih tinggi, kritis dan kreatif dengan menganalisis, membuat sintesis, memecahkanmasalah,membuatkeputusan dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
f. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara pribadinya dengan mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri walaupun siswa memerlukan dukungan orang dewasa.
g. Mencapai standar yang tinggi (reaching highs standard). Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi, maka guru harus mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru menunjukan kepada siswa untuk mencapai (excellece).
h. Dengan penilaian autentik (using autentic assessment). Untuk tujuan yang baik (bermakna) siswa mempergunakan pengetahuan akademik dalan dunia nyata. Contohnya, siswadapat menggambarkan informasi akademik yang telah dipelajarinya untuk dipublikasikan dalam kehidupan nyata.
3. Komponen Pembelajaran Kontekstual (Contextual Theaching Learning)
Komponen utama model pembelajaran kontekstual (Contextual Theaching Learning) adalah sebagai berikut :
a. Konstruktivisme (constructivim)
Kanstruktivisme yaitu mengembangkan pikiran siswa untuk belajar lebih baik dengan cara bekerja sendiri, mengkonstruksi sendiri, pengetahuan dan ketrampilan barunya. Hal ini adalah landasan berpikir pembelajaran bagi pendekatan (Contextual Theaching Learning). Pengetahuan riil baginya adalah suatu yang dibangun atau ditemukan oleh siswa sendiri. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang harus diingat siswa, tetapi siswa harus merekonstruksi pengetahuan itu kemudian mengartikan melalui pengalaman nyata.
b. Menemukan (Inquiry)
Inquiry merupakan proses pembelajaran yang berdasarkan pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistimatis, proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, siswa belajar dengan ketrampilan berfikir kritis. Dalam hal ini guru harus merencanakan situasi kondusif supaya siswa belajar dengan prosedur mengenali masalah, menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur penelitian (investigasi), menyiapkan kerangka berfikir, hipotesis dan penjelasan yang relevan dengan pengalaman pada dunia nyata.
c. Bertanya (question)
Question adalah mengembangkan sifat ingin tahusiswa dengan dialog interaktif oleh kesluruhan unsur yang terlibat dalam komonitas belajar. Dengan demikian pembelajaran lebih hidup, mendorong proses dan hasil pembelajaran lebih luas dan mendalam. Dengan question mendorong siswa selalu bersikap menolak suatu pendapat, ide atau teori secara mentah. Hal ini mendorong sikap selalu ingin mengetahui dan mendalami (coriosity) berbagai teori dan dapat mendorong untuk belajar lebih jauh.
d. Masyarakat belajar (learning commonity)
Learning commonity adalah pembelajaran yang didapat dari berkolaborasi dengan orang lain. Dalan pembelajaran ini selalu dilaksanakan dalamkelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberu tahu yang belum tahu dan seterusnya. Dalam prakteknya terbentuklah kepompok-kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas,bekolaborasi dengan kelas paralel, bekerja kelompok dengan kakak kelas dan bekolaborasi dengan masyarakat.
e. Pemodelan (modeling)
Dalam pembelajaran perlu ada model yang dapat dicontoh oleh siswa. Terkait hal ini model bisa berupa cara mengoperasikan, cara melempar atau menendang bola dalam olah raga, cara melafalkan dalam bahasa asing, atau guru memberi contok cara mengerjakan sesuatu. Ketika guru sanggup melakukan sesuatu maka siswa akan berfikir sama bahwa dia juga bisa melakukannya.
f. Refleksi (reflektion )
Reflektion merupaksuatu upaya untuk melihat,mengorganisir,menganalisis, mengklarifikasi dan mengevaluasi hal-hal yang telah dipelajari. Untuk merealisasikan, di kelas dirancang pada stiap akhir pelajaran, guru menyisahkan waktu untuk memberikan kesempatan kepada siswa melakukan refleksi dengan cara: pernyataan langsung dari siswa tentang apa apa yang diperoleh setelah melakukan pembelajaran, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa tentang pembelajaran hari itu, diskusi dan ragam hasil karya.
g. Penilaian Otentik (Authentic Assessment)
Untuk mengukur hasil pembelajaran selain dengan tes, harus diukur juga dengan assessment authentic yang dapat memberikan informasi yang benar dan akurat tentang apa yang benar-benar diketahui dan bisa dilakukan siswa atau tentang kualitas program pendidikan. Penilaian otentik adalah proses pengumpulan data beragam data untuk melukiskan perkembangan belajar siswa. Data tersebut berupa hasil tes tertulis, proyek (laporan kegiatan), karya siswa, performence (penampilan presentasi) yang dirangkum dalam foto folio siswa.
E. Prinsip-Prinsip Dasar Pembelajaran Kontekstual
Menurut ditjen dikdasmen depdiknas 2002 menjelaskan bahwa Kurikulum dan pembelajaran kontektual harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut
1. Ketergantungan (keterkaitan), relevansi (relation). Pebelajaran hendaknya ada keterkaitan dengan bekal pengetahuan (Prerequisite knowledge) yang teah dimiliki
2. Pengalaman langsung (experiencing).
Hal ini bisa didapatkan dengan kegiatan eksplorasi, penemuan (discorvery, inventory, investigasi, penelitian dan lain-lain. Experiencing dinilai sebagai jantuk pembelajaran kontekstual. Proses pembelajaran ini berlangsug cepat bila siswa mendapat kesempatan untuk memanipulasi peralatan, memanfaatkan sumber belajar, dan melakukan bentuk-bentuk kegiatan penelitian secara aktif.
3. Aplikasi (aplying). Mengaplikasikan fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang dipelajari dalam kelas bersama guru yakni memecahkan masalah dan mengerjakan tugas bersama adalah strategi pembelajaran pokok pembelajaran kontekstual.
4. Transwerring
Adalah menekankan pada kemampuan siswa untuk mentranswer situasi dan konteks yang lain adalah pembelajaran tingkat tinggi, lebih dari sekedar hafal.
5. Koopertatif (cooperating).
Yakni kerjasama dalam konteks saling tukar pikiran, tanya jawab, komonikasi interaktif antar sesama siswa.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip di atas adalah acuan untuk menerapkan model pembelajaran kontekstual lebih mengutamakan strategi pembelajaran daripada hasil belaja, proses belajar secara alami, dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transwer pengetahuan dari guru kepada siswa. Dengan pembelajaran Contextual Theaching Learning, pendidik telah melaksanakan tiga prinsip ilmiah modern yang menunjang dan mengatur segala sesuatu di alam smesta yakni :
1. Prinsip saling ketergantungan
Segala sesuatu yang ada di alam raya ini saling ketergantugandan saling berhubungan satu dengan lainnya. Dalam pembelajaran Contextual Theaching Learning mengajak pada guru untuk mengenali keterkaitan mereka dengan guru lainnya, dengan siswa-siswa, dengan masyarakat dan dengan lingkungan. Prinsip ini mengajak siswa untuk saling bekerjasama, saling mengetengahkan pendapat, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, merancang rencana dan mencari solusi dari persoalan yang ada.
2. Prinsip deferensiasi
Prinsip ini merujuk pada motivasi terus-menerus dari smesta alam untuk menghasikan keragaman, perbedaan dan keunikan. Dalam Contextual Theaching Learning prinsipdeferensiasi membebaskan para siswa melakukan penjelajahan bakat pribadi, memunculkan cara belajar masing-masing individu, berkembang dengan langkah mereka sendiri.
3. Prinsip Pengaturan diri
Segala sesuatu diatur, dipertahankan dan disadari oleh diri sendiri. Prinsip ini mengajak para siswa menunjukan segala potensinya. Mereka menerima tanggungjawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti.
F. Kegiatan dan Strategi Pembelajaran
Kegiatan dan strategi pembeajaran kontekstual (Contextual theaching learning) berupa kombinasi dari kegiatan kegiatan berikut ini:
1. Pembelajaran otentik (authentic instruktion) merupakan pembelajaran yang memungkinkan belajar siswa dalam kontek yang bermakna, dengan demikian dapat menguatkan ikatan pikiran dan ketrampilan memecahkan masalah-masalah penting dalam kehidupan.
2. Pembelajaran berbasis inquiri (inquiry basad learning) adalah memaksakan strategi pembelajaran dengan metode-metode sains, dengan demikian mendapat pelajaran yang bermakna.
3. Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), adalah pendekatan pembelajaran dengan menggunakam masalah-masalah di dunia nyata atau di sekelilingnya sebagai konteks bagi siswa untuk belajar kritis dan trampil memecahkan masalah dam mendapat konsep utama dari suatu mata pelajaran.
4. Pembelajaran layanan (serve learning), adalah metode pembelajaran yang menggabungkan layanan masyarakat dengan struktur sekolah untuk merefleksikan layanan, menekan hubungan antara layanan yang dalami dan pembelajaran akademik di sekolah.
Pembelajaran berbasis kerja (work based learning), merupakan pembelajaran dengan konteks tempat kerja dan membahas penerapan konsep mata pelajaran di lapangan. Prinsip pembelajaran ini adalah penekanan pada penerapan konsep mata pelajaran lapangan, masalah-masalah lapangan untuk dibahas di sekolah.
G. Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual (Contextual theaching learning)
Langkah-langkah pembelajaran Contextual Theaching Learning adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan pikiran bahwa siswa bisa belajar lebih berkualitas dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri, pengetahuan dan ketramilan barunya.
2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik.
3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4. Menciptakan masyarakat belajar.
5. Menghadirkan model sebagai contoh belajar.
6. Melakukan refleksi diakhir pertemuan
7. Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.
J. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Theaching Learning)
Kelebihan, Pembelajaran (Contextual Theaching Learning) menjadi lebih bermakna. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Theaching Learning) lebih produktifdan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.23.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan model pembelajaran(Contextual Theaching Learning) adalah siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan pengetahuan siswa berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya.
Kelemahan,pembelajarankontekstual( Contextual Theaching Learning), guru lebih intensif dalam membimbing karena dalam metode CTL karena guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya.
Peran guru bukanlah sebagaiinstruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
Guru memberikanperhatian dan bimbingan yang eksra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.26.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelemahan model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) adalah guru harus dapat mengelola pembelajaran dengan sebaik-baiknya agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tecapai dengan maksimal.
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan kelas yaitu penelitian yang bertujuan untuk pencapaian hasil belajar santri.
A. Setting Penelitian 1
1. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di TMI Darunnajah Jakarta, karena penulis mengajar di sekolah ini
sebagai bahan dan observasi dari Penelitian Tindakan Kelas.
2. Subjek
Subjek penelitian ini adalah santri kelas 5G TMI Darunnajah Jakarta yang berjumlah 29 orang santri perempuan.
3. Waktu
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada April 2024.
B. Prosedur Penelitian
Pada tahapan penelitian dibagi menjadi empat tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi, kemudian dilanjutkan ke siklus berikutnya. Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus. Secara visual hubungan keempat komponen dalam sistem siklus dapat di gambarkan sebagai berikut :
Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dirancang dan akan dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Pada siklus I dan siklus II, tiap siklus ada 2 (dua) observasi pembelajaran terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pelaksanaan tiap siklus akan diambil satu kelas yang sama. Hal ini ditempuh untuk membandingkan dan menggambarkan proses pembelajaran pada tiap-tiap siklus.
Dalam Penelitian Tindakan pembelajaran pada siklus I mengenai materi Kerja Sama Ekonomi Internasional. Tindakan pembelajaran pada siklus II yakni mengenai materi. Adapun Tahapan siklus I dan siklus II sebagai berikut :
SIKLUS 1
a. Tahap Perencanaan
Pada kada kegiatan ini guru melakukan:
1. Merencanakan pembelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi Kerja Sama Ekonomi Internasional.
2. Menyiapkan soal pre test yang akan diberikan kepada santri untuk mengukur pengetahuan awal.
3. Menyiapkan LKPD yang digunakan sebagai bahan diskusi santri.
4. Menyiapkan instrumen penelitian (lembar observasi, tes evaluasi)
b. Pelaksanaan
Pada kegiatan ini guru:
1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat.
2. Melaksanakan tahapan-tahapan dalam pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Kontekstual
c. Pengamatan
Pada kegiatan ini, kolaborator (observer) melakukan pengamatan dengan mencatat
beberapa hal, yaitu:
1. Aktivitas dan gaya guru sebagai fasilitator dalam melaksanakan pembelajaran Ekonomi pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional dengan menggunakan metode pembelajaran Kontekstual
2. Aktivitas santri selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan melakukan wawancara setelah pembelajaran selesai.
d. Refleksi
Pada kegiatan ini :
1. Guru dengan observer membahas tentang kelemahan atau kekurangan proses pembelajaran yang telah dilakukan.
2. Menganalisis data yang diperoleh untuk memperbaiki dan menyempurnakan tindakan pada siklus selanjutnya.
3. Menganalisis temuan saat melakukan pengamatan proses pembelajaran yang telah dilakukan menganalisis kelemahan dan kelebihan dari proses pembelajaran yang berlagsung dan mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Siklus II
Pada siklus II, penulis berdiskusi dengan observer melakukan revisi proses pembelajaran,agar proses pembelajaran pada siklus II menjadi lebih baik. Siklus II ini dilaksanakan dengan mengikutitahapan-tahapan sepertipada siklusI. Tapi, pada siklus II ini dilakukan perbaikan atau penyempurnaan terhadap pelaksanaan pembelajaran siklus I agar mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan.
C. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data
a. Teknik Pengumpul Data
Teknik pengumpul data hasil belajar dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik tes dalam bentuk tes tertulis yang dilaksanakan pada akhir siklus 1 dan akhir siklus 2. Dan data hasil pengamatan dikumpulkan dengan teknik pengamatan (observasi). Observasi memungkinkan untuk mengetahui kesesuaian antara harapan dan kenyataan dari penelitian tindakan kelas.
Observasi dilaksanakan secara komprehensif dalam kelas. Aspek-aspek dalam pengamatan meliputi: perilaku santri waktu belajar, kegiatan diskusi santri, partisipasi santri dalam presentasi dan diskusi. Sehingga dapat diketahui secara jelas bagaimana aktifitas santri selama proses pembelajaran.
b. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah :
1. Tes
Tes adalah seperangkat rangsangan (stimulus) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka. Dalam penelitian ini jenis tes yang digunakan adalah adalah tes tertulis dalam bentuk soal pilihan ganda.
2. Lembar Penilaian Proses Belajar
Lembar penilaian proses belajar dipergunakan untuk menilai santri dalam ulangan harian. Lembar penilaian ini berupa format-format penilaian proses belajar mengajar.
3. Lembaran Observasi
Lembar observasi digunakan untuk pengamatan kegiatan masing-masing santri selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam penyusunan lembar observasi dilakukan langkah-langkah sebagai, yaitu: (1) Menentukan indikator-indikator penilaian terhadap kegiatan santriyang diamati selama proses pembelajaran berlangsung dan (2) Merancang lembar observasi yang
akan digunakan.
D. Validasi data
Validasi diperlukan agar diperoleh data yang valid. Pada penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data hasil nilai ujian siklus I dan II dan data hasil pengamatan. Untuk mendapatkan data nilai ujian yang valid maka disusun kisi-kisi soal dan soal test. Data hasil pengamatan divalidasi melalui triangulasi sumber, yaitu data berasal dari santri, pengamat (observer) dan peneliti sendiri.
E. Analisis data
Data dianalisis secara deskriptif komparatif yaitu mengemukakan fakta-fakta dan temuan-temuan yang terjadi selama penelitian berlangsung dan membandingkan nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kinerja. Analisis data bertujuan untuk melihat apakah terdapat peningkatan hasil belajar. Dalam analisis nilai digunakan rumus:
Rata-rata hitung: Keterangan: rata-rata tes = nilai peserta tes N (Banyak peserta tes)
F. Indikator Keberhasilan
Tujuan utama dari penelitian ini adalah meningkatkan minat belajar santri kelas 5G pada mata pelajaran ekonomi pada materi Kerja Sama Ekonomi Internasional. Apabila peran guru selama proses pembelajaran sesuai dengan skenario dan aturan-aturan dalam sintaks pada proses pembelajaran yang menggunakan metode Kontekstual.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Mulyani, Endang dan Nurcahyanto, Asep. 2017. Buku Ekonomi untuk Kelas XI SMA
Kurikulum 2013. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Nurlita, Nella. 2021. Buku Ekonomi untuk SMA-MA Kelas XI Kurikulum 13. Bandung: Yrama Widya. P2LPTK
https://www.kajianpustaka.com/2019/03/penelitiantindakan-kelas-ptk.html
https://irpan1990.wordpress.com/2011/08/11/metode-pembelajaran-diskusi-kelompok/
https://scholar.google.co.id/scholar?q=metode+pembelajaran+pbl&hl=id&as_sdt=0&as _vis=1&oi=scholart
Jumat, 01 November 2024
456: Kepergian yang Indah
456: Kepergian yang Indah
Malam Jumat itu, usai sholat Maghrib, menjadi malam yang penuh makna sekaligus menyayat hati. Kakak kandung saya telah kembali ke pangkuan Ilahi.
Usai sholat berjamaah dan wiridan di musholla, para jama'ah menyandarkan punggung mereka ke dinding, melantunkan tahlil dengan penuh khidmat. Tetapi, berbeda dengan yang lainnya, kakak tetap duduk di tempatnya, diam, seakan sedang menanti sesuatu. Tidak lama kemudian, tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke belakang. Putranya yang duduk tidak jauh darinya langsung mendekat, membopongnya, dan membawanya ke rumah. Saat itulah kami sadar bahwa Allah telah memanggilnya pulang.
Kehilangan ini begitu mendalam bagi kami. Kami sangat mencintainya, tetapi Allah lebih mencintainya. Kakak adalah sosok yang mandiri, hidup sendiri setelah suaminya mendahului berpulang. Anak-anaknya pun kini sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Namun, walau sendiri, dia tetap memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam kegiatan keagamaan.
Pada hari itu, setelah sholat Asar, kakak masih sibuk mengatur acara doa untuk mengenang tujuh hari wafatnya mertuaku, yang juga berpulang di malam Jumat seminggu sebelumnya. Kehadirannya selalu terasa di musholla, baik saat ia mengatur imam sholat, Bilal tarawih, dan berbagai kegiatan lainnya sejak suaminya yang dikenal sebagai tokoh kampung meninggal.
Saat itu, saya sedang berada di Jakarta, menyelesaikan tugas akhir tahun. Sebelumnya, saya sempat pulang ke kampung saat mertuaku wafat. Tidak pernah terlintas di benak saya bahwa kepulangan tersebut menjadi pertemuan terakhir dengan kakak.
Telepon itu datang saat selepas Maghrib, mengabarkan berita duka yang tidak pernah saya sangka. Anak-anaknya pun kaget dan seakan tak percaya. Salah seorang putranya yang berada di Jakarta, yang baru saja selesai sholat Maghrib di musholla komplek, juga mendengar kabar dari temannya. Grup WhatsApp keluarga pun ramai dengan ucapan duka.
Kepergian kakak yang tenang di malam Jumat ini mengajarkan kami tentang ketulusan dan keikhlasan. Dia pergi dengan penuh kedamaian, diiringi doa dan cinta dari orang-orang yang begitu menghormati dan mencintainya.
Kamis, 08 Agustus 2024
Peran Wanita
PERANAN WANITA DALAM PERJUANGAN
Sambutan pada Pembukaan Apel Tahunan Pembukaan Porseka dalam rangka
Pekan Khutbatul Arsy di Pesantren Khusu Putri Al Hasanah Darunnajah 9 Pemulang
Salam,
Basmalah,
Hamdalah,
Marilah kitamendo'akan para pendiri Darunnajah
para Wakif, para guru kita yg telah wafat,
lahum, alfatihah
Pada Pekan Khutbatul Arsy ini, para santri diberi kesempatan untuk
menjadi panitia mengadakan acara, menjadi even organizer.
Ada panggung gembira, ada Malam Bineka Tunggal Ikha, ada HUT
Indonesia.
Tujuannya adalah latihan kepemimpinan. Wanita juga harus “Sanggup
memimpin dan siap dipimpin.”
Pesantren Darunnajah, sejak awal, tahun 1974, telah membuka
pesantren putra-putri, karena pimpinan saat itu melihat pentingnya wanita untuk
memimpin.
Pada saat itu, di Jakarta, majlis ta'lim pimpinannya adalah wanita.
Darunnajah juga menyelenggarakan lembaga pendidikan pesantren
khusus putri, yaitu Darunnajah 3 dan Darunnajah 9.
Dalam sejarah, banyak wanita yg tampil sebagai pemimpin.
Sejarah Nusantara
1.
Ratu Shima dari Kerajaan
Kalingga
2.
Ratu
Pramodawardhani dan Ratu Tribhuwana Tunggadewi dari Kerajaan
Mataram Kuno dan Majapahit
3.
Ratu Suhita dari Kerajaan
Majapahit.
Tokoh Pejuang Wanita dalam kancah Dunia yang Terkenal:
1.
Harriet Tubman
dari Amerika Serikat
2.
Rosa Parks di
Amerika Serikat
3.
Marie Curie di
Polandia-Prancis
4.
Malala
Yousafzai dari Pakistan
5.
Rani Lakshmibai
dari India
6.
Boudicca dari
Britania
Di Indonesia kita mengenal:
1.
Raden
Adjeng Kartini
2.
Cut
Nyak Dien
3.
Dewi
Sartika
4.
Cut
Meutia
5.
Martha
Christina Tiahahu
6.
Laksamana
Malahayati
7.
Nyi
Ageng Serang.
Pada Awal Perjuangan Islam, kita tahu antara lain:
1.
Khadijah
binti Khuwailid
2.
Fatimah
az-Zahra
3.
Aisyah
binti Abu Bakar
4.
Nusaiba
binti Ka'ab al-Anshariyyah
5.
Asma
binti Abu Bakar.
Fatimah al Fihri
Fatimah al-Fihri adalah seorang muslimah yang memiliki peran
sangat penting dalam sejarah pendidikan dunia. Beliau pendiri Masjid
dan Madrasah Al-Qarawiyyin pada tahun 859 Masehi di Fez, Maroko.
Madrasah ini kemudian berkembang menjadi Universitas
Al-Qarawiyyin yang diakui sebagai salah satu universitas tertua di
dunia.
Rahmah El Yunusiyah
Rahmah El Yunusiyah ialah seorang tokoh wanita Indonesia
yang sangat berpengaruh dalam bidang pendidikan dan perjuangan kemerdekaan.
Beliau dikenal sebagai pendiri Diniyah Putri, sebuah lembaga
pendidikan Islam khusus wanita yang didirikan pada tahun 1923 di Padang
Panjang, Sumatera Barat.