Intermeso 30: Dicegat
Tentara
PGTK-PGSD Darunnajah berdiri tahu 2000,
kampusnya saat itu di Gedung Husni Thamrin (sekarang tempat foto copy dan kelas
di belakangnya). Akhir tahun 2002, pindah
ke Gedung Abu Bakar Shiddiq (sekarang Gedung Smes'Co mart). Saat itu jumlah
mahasiswa 56 orang, terdiri atas 37 mahasiswa PGTK dan 19 mahasiswa PGSD.
Untuk meningkatkan jumlah mahasiwa perlu dilaksanakan publikasi. Publikasi yang pernah dilaksanakan adalah seminar pendidikan dengan mengundang guru TK dan Guru SD se-Jabodetabek. Alhamdulillah pesertanya banyak, sehingga seminar dilaksanakan dua kali, hari Sabtu dan hari Ahad.
Tetapi seminar-seminar di tahun-tahun berikutnya pesertanya menurun, dan akhirnya seminar-seminar dilaksanakan hanya untuk kebutuhan intern saja.
Publikasi berikutnya, menempel stiker di pintu angkot, memasang iklan di koran, dan memasang spanduk di depan kampus.
Publikasi yang dianggap effektif saat itu, mengirim brosur ke SMA, SMK, da Madrasah Aliyah, bekerjasama dengan kepala sekolah atau TU agar brosur itu diberikan kepada siswa kelas III.
Di wilayah Kebayoran Lama, Pesanggrahan, dan Cileduk banyak sekolah besar, yaitu sekolah dengan jumlah siswa besar, meskipun tidak di jalan besar, tetapi dekat dengan perumahan.
Untuk menjangkau sekolah2 itu bekerjasama dengan ojek motor di Gg Dilun. Waktuny antara jam 9-11, pada saat penumpang sedang sepi.
Selama 2 jam dapat 4 sekolah sudah bagus. Besuknya dilanjutkan lagi.
Pada suatu hari, di wilayah Ciledug, saya akan memasuki sebuah SLTA, tiba2 dicegat seseorang bepakaian tentara; celana loreng, jaket loreng, dan pakai helm; karena baru turun dari motor.
Orang itu memegang pundak saya, sambil berbicara kurang jelas (karena pakai helm), kira2, begini, "Mau ke mana? Tidak boleh masuk!". Kemudian pelan2 orang itu membuka helmnya, yang terlihat pertama kumisnya, tebal sekali, dan akhirnya terbuka semuanya.
"Sialan!" kata saya (tapi dalam hati), "Saya kira siapa!?" Ternyata alumni Darunnajah angkatan 9. Akhir brosur PPMB saya titipkan di situ, di pintu gerbang, saya tidak usah masuk kantor.
Konon alumni tersebut sekarang menjabat sebagai wakil kepala sekolah.
Untuk meningkatkan jumlah mahasiwa perlu dilaksanakan publikasi. Publikasi yang pernah dilaksanakan adalah seminar pendidikan dengan mengundang guru TK dan Guru SD se-Jabodetabek. Alhamdulillah pesertanya banyak, sehingga seminar dilaksanakan dua kali, hari Sabtu dan hari Ahad.
Tetapi seminar-seminar di tahun-tahun berikutnya pesertanya menurun, dan akhirnya seminar-seminar dilaksanakan hanya untuk kebutuhan intern saja.
Publikasi berikutnya, menempel stiker di pintu angkot, memasang iklan di koran, dan memasang spanduk di depan kampus.
Publikasi yang dianggap effektif saat itu, mengirim brosur ke SMA, SMK, da Madrasah Aliyah, bekerjasama dengan kepala sekolah atau TU agar brosur itu diberikan kepada siswa kelas III.
Di wilayah Kebayoran Lama, Pesanggrahan, dan Cileduk banyak sekolah besar, yaitu sekolah dengan jumlah siswa besar, meskipun tidak di jalan besar, tetapi dekat dengan perumahan.
Untuk menjangkau sekolah2 itu bekerjasama dengan ojek motor di Gg Dilun. Waktuny antara jam 9-11, pada saat penumpang sedang sepi.
Selama 2 jam dapat 4 sekolah sudah bagus. Besuknya dilanjutkan lagi.
Pada suatu hari, di wilayah Ciledug, saya akan memasuki sebuah SLTA, tiba2 dicegat seseorang bepakaian tentara; celana loreng, jaket loreng, dan pakai helm; karena baru turun dari motor.
Orang itu memegang pundak saya, sambil berbicara kurang jelas (karena pakai helm), kira2, begini, "Mau ke mana? Tidak boleh masuk!". Kemudian pelan2 orang itu membuka helmnya, yang terlihat pertama kumisnya, tebal sekali, dan akhirnya terbuka semuanya.
"Sialan!" kata saya (tapi dalam hati), "Saya kira siapa!?" Ternyata alumni Darunnajah angkatan 9. Akhir brosur PPMB saya titipkan di situ, di pintu gerbang, saya tidak usah masuk kantor.
Konon alumni tersebut sekarang menjabat sebagai wakil kepala sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar