Mencari Daun Kecibatu ke Gunung Lawu
Intermeso 226
Daun kecibeling (strobilanthes crispus) tentu kita sudah paham, jika disedu dengan air dan diminum, bisa mengobati penyakit batu kemih dan batu ginjal.
Konon, daun kecibeling jika dicampur dengan air cucian, piring dan gelas yang dicuci bisa pecah berkeping-keping, karena proses kimiawi, saya sendiri belum pernah mencobanya.
Daun kecibatu lain lagi. Jika dicampur dengan air dan disiramkan ke atas batu, maka batu itu bisa terbelah-belah.
Ada sebuah pesantren sedang menggali sumur bor, tetapi sudah beberapa hari hasilnya sedikit sekali, bisa jadi lobang sumur itu ada batunya. Untuk itu perlu dicari solusi.
Ada informasi kehebatan daun kecibatu tadi. Maka diutuslah seorang santri untuk mencari daun itu di puncak Gunung Lawu.
Pagi-pagi sekali santri itu berangkat, sore menjelang malam baru sampai pada lokasi yang dituju.
Untuk mendapatkan informasi tentang daun kecibatu, bertanyalah kepada orang-orang tua. Dan memang ada tumbuhan yang dimaksud di daerah itu.
Karena sudah malam, dengan obor tumbuhan itu bisa terlihat.
Ada tumbuhan di sela-sela batu. Seakan-akan batu itu terbelah dan pecah karena dorongan tumbuhan tadi. Itulah pohon kecibatu.
Setelah memetik beberapa tangkai, pada malam itu juga santri itu kembali ke pesantren dengan perasaan harap-harap cemas.
Paginya, untaian daun kecibatu tadi diserahkan kepada penaggung jawab sumur bor, dan dicoba.
Daun tadi ditumbuk dan dicampur air, kemudian dimasukkan ke dalam lobang sumur bor.
Hasilnya bagaimana?
Ternyata hasilnya tidak ada. Bor yang kandas di lobang sumur itu masih kandas juga.
Memang, ikhtiar itu hukumnya wajib, tetapi berhasilnya tidak wajib.
Santri tadi juga tidak merasa bersalah, karena petunnjuk dan prosedur sudah dilalui dengan benar. Daun yang dimaksud juga berhasil ditemukan dan di bawa serta.
Jika daun kecibatu tidak bisa memecah batu?, wallahu a'alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar