Bus Sadar
yang Sadar
Intermeso 32
Awal tahu 1990 saya
mengajar di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, setiap hari Selasa.
Transportasi menuju Darunnajah 2 ada beberapa pilihan, bisa naik kereta api
atau naik bus. Untuk
naik bus, mula-mula naik angkot ke Ciledug, naik angkot lagi ke Tangerang dan
turun di lampu merah.
Di situ saya menunggu Bus Sadar juruan Kalideres-Jasinga via
Darunnajah Cipining, atau Kalideres-Leuwiliang via Darunnajah Cipining.
Saat
itu hanya bus Sadar yang lewat Cipining, karena di samping jalan yang selalu
rusak, kalau sudah sore memang jarang ada penumpang.
Naik
bus Sadar dari perempatan Ciledug, bagi saya sebuah pengalaman. Kira-kira jam
16 naik bus, kalau nasib baik dapat tempat duduk, kalau tidak ya.., berdiri.
Di
sepanjang jalan ada penumpang naik dan turun. Memasuki Parung Panjang banyak
pekerja proyek yang naik, sampai di Cipining penumpang habis, tinggal saya
sendirian, dan saya pun turun.
Naik
bis Sadar yang saya alami, jika menjelang Maghrib, sopir dan kernetnya sibuk
cari makan dan minum, dan jika waktu Maghrib tiba, sopir dan kernetnya minum
dan makan, sementara bus terus berjalan. Besar kemungkinan mereka puasa, memang hari
itu hari Senin, entah itu puasa Senin atau puasa bayar utang, wallahu a'lam.
Jika hal itu merupakan puasa sunnah, bagi
sopir angkutan yang duduk di belakang mesin dan cuaca panas, sungguh luar
biasa.
Karena frekwensi mobil yang lewat itu jarang, maka pada siang hari penumpangnya
selalu penuh.
Kalau kebetulan hari Jumat dan datang waktu salat Jumat, mobil
berhenti, sopir dan kernetnya salat Jumat. Penumpang pun ada yang ikut salat
atau setia menunggu di atas bus, karena sulit mendapatkan mobil lain.
Anak-anak santri Darunnajah ada yang memplesetkan nama Sadar, singkatan dari
SA-ntri DAR-unnajah. Atau mungkin Sadar berarti insaf.
Entah
mengapa bus Sadar sekarang tak tampak lagi. Semoga masih banyak sopir truk yang
insaf.
(Perjalanan Pekan
Baru - Tambusai, 19 November 2011)