Intermeso 61: Pasaran di Kota Santri
Kaliwungu adalah sebuah kota kecamatan di barat Semarang. Disebut juga kota santri karena banyak santrinya dan banyak pula pesantrennya. Di dua Kelurahan Kaliwungu Wetan dan Kaliwungu Kulon, pada tahun 1970-an terdapat 50 pesantren besar dan kecil.
Setiap masjid atau musala mempunyai seorang kiai yang alim membaca kitab kuning sekaligus sebagai pimpinan pesantren di musalla atau masjid tersebut.Tradisi di pesantren Kaliwungu pada bulan Puasa, para santri belajar kitab kuning secara intensif, sebagai contoh: Tafsir Jalalain dibaca dapat selesai dalam waktu 20 hari. Kegiatan mengaji seperti itu sering disebut "pasaran". Seorang kiai membaca dan mengartikan kitab kuning dan para santri mendengarkan sambil mencatat.
Ada beberapa tempat kegiatan untuk mengaji. Di masjid besar Kaliwungu bisa dipakai tiga kiai. Santri boleh memilih tempat mengaji, juga waktu bisa dipilih; pagi, ba'da Dzuhur, atau ba'da Tarawih. Seorang santri juga boleh pilih, mau ngaji kitab apa? Tinggal pilih, tempat, waktu, kitab apa? dan siapa kiainya.
Tahun 1977, di awal bulan puasa saya berangkat ke Kaliwungu, tujuan saya ikut "pasaran". Membawa beras 15 kilo, uang, dan pakaian secukupnya.
Untuk belajar kitab, saya pilih waktu pagi jam 7 sampai jam 12 dan ba'da Dhuhur.
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa belajar 20 hari sudah selesai. Tapi saya masih menunggu Tafsir Jalalain yang akan khataman tanggal 21 siang.
Tanggal 21 Ramadhan ba'da Asar saya siap-siap untuk pulang ke Sukorejo. Di depan Masjid Besar saya menyetop mobil Colt berwarna hijau tua. Kaki saya sudah melangkah, hampir memasuki mobil. Tiba-tiba terdengar suara memanggil, "Ris, tunggu saya sebentar, saya mau bareng Kamu!". Ternyata Nasir, teman saya di SD dulu. Rupanya ikut pasaran juga, tapi 20 hari di Kaliwungu tidak pernah ketemu. Senang juga ketemu teman sekampung, karena perkiraan akan sampai Sukorejo sudah malam.
Agak lama memang, Nasir yang saya tunggu datang juga, langsung kami berdua naik mobil Colt. Di barat kota Cepiring mobil behenti. Sebelum jembatan Kali Bodri ada kecelakaan. Mobil Colt warna hijau tua tabrakan denga truk, kap mobil Colt sampai terlepas dan seluruh penumpangnya mati, sementara sopir terjepit di belakang stir, dan masih belum bisa diambil, sementara mayat-mayat ditutup daun pisang dijejer di pinggir jalan.
Saya baru sadar, mobil Colt berwarna hijau tua itu mobil yang tadi saya stop, tapi batal naik karena dipanggil Nasir.
Seandainya saya naik mobil itu, tentu saja saya sudah ditutup daun pisang dan ikut dijejer di pinggir jalan.
Saya memang percaya takdir, tapi sejak itu saya lebih percaya lagi, bahwa kematian seseorang adalah rahasia Ilahi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar