Intermeso 46: Nasi Panas dan Daging Empuk
Tahun 1979, Gedung Fatahillah 2 pojok (sekarang Lab Kimia),
ditempati guru-guru SD sebagai kamar.
Meskipun sudah disediakan dapur umum, kadang-kadang mereka masak juga di depan kamar. Atau ambil nasi di dapur tapi lauknya masak sendiri.
Suatu ketika ada yang masak nasi dan "daging".
Menjelang salat Isya' datanglah dua orang santri kelas niha'i, sambil keliling-keliling, siapa tahu ada santri yang ngumpet di kelas SD. Seperti biasanya menanyakan, "Masak apa?, ini daging apa?". Maka nasi sepiring dan daging dihabiskan berdua, untuk tuan rumah tidak disisakan barang sedikitpun, disangkanya tuan rumah sudah makan.
Apa lagi saat itu, nasi masih panas dan daging empuk sedikit kenyal.
Setelah makanan habis, mereka berdua bertanya kepada tuan rumah, "Itu tadi daging apa, kok enak?!"
"Daging yang mana?", tuan rumah pura-pura balik bertanya.
"Itu, tu, yang tadi saya makan!" Jawab dua orang santri hampir bersamaan.
Maka jawab tuan rumah, "Ma'af itu daging bekicot!"
"Bekiicoott???" Kontan dua santri itu muntah-muntah.
Mungkin juga tuan rumah agak sengaja, karena kebiasaannya begitu, ambil makanan tanpa izin tuan rumah.
Meskipun sudah disediakan dapur umum, kadang-kadang mereka masak juga di depan kamar. Atau ambil nasi di dapur tapi lauknya masak sendiri.
Suatu ketika ada yang masak nasi dan "daging".
Menjelang salat Isya' datanglah dua orang santri kelas niha'i, sambil keliling-keliling, siapa tahu ada santri yang ngumpet di kelas SD. Seperti biasanya menanyakan, "Masak apa?, ini daging apa?". Maka nasi sepiring dan daging dihabiskan berdua, untuk tuan rumah tidak disisakan barang sedikitpun, disangkanya tuan rumah sudah makan.
Apa lagi saat itu, nasi masih panas dan daging empuk sedikit kenyal.
Setelah makanan habis, mereka berdua bertanya kepada tuan rumah, "Itu tadi daging apa, kok enak?!"
"Daging yang mana?", tuan rumah pura-pura balik bertanya.
"Itu, tu, yang tadi saya makan!" Jawab dua orang santri hampir bersamaan.
Maka jawab tuan rumah, "Ma'af itu daging bekicot!"
"Bekiicoott???" Kontan dua santri itu muntah-muntah.
Mungkin juga tuan rumah agak sengaja, karena kebiasaannya begitu, ambil makanan tanpa izin tuan rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar