Sabtu, 05 April 2014

Dari Ulujami menuju Beijing (Bagian-2)

Intermeso 63: Dari Ulujami menuju Beijing (Bagian-2)

Jalan menuju Beijing tidak selamanya mulus seperti yang ia bayangkan. Sebagai mahasiswa tentu harus izin ke fakultasnya, tapi ini mahasiswa baru, saat itu masuk kuliah saja, belum.

Waktu acara propesa ia akan menghadap rektor, tapi tidak diizinkan, karena rektor sedang sibuk, maka surat permohonan izin dan proposal dititipkan ke staf, jawaban sementara, "Kemungkinan pesimis, karena masih mahasiswa baru". Memang, untuk mengajukan cuti ada syarat-syaratnya, minimal semester sekian, IP-nya minimal sekian. 

Atas petunjuk teman-teman, pada hari berikutnya kami coba menghadap wakil rektor bidang akademik, alhamdulillah diterima setelah menunggu beberapa menit.

Setelah mengemukakan maksud saya, wakil rektor bertanya, "Berapa kali kuliah akan ditinggalkan?". Kegiatan yang memakan waktu setengah bulan ini, hanya meninggalkan bangku kuliah dua kali. Wakil rektor hanya berujar, "Kalau waktu kuliah yg ditinggalkan tidak ada 20 persen, tidak ada masalah, tetapi kalau lebih 20 persen, harus memilih". "Memang hidup kadang-kadang harus memilih, pilih ke luar negeri tetapi hilang satu semester, atau tetap kuliah tetapi tidak keluar negeri?. Bagus kalau kedua-duanya dapat berjalan". Artinya, diizinkan, tinggal teknis pemberitahuan kepada dosen yg bersangkutan. 

Dengan rasa senang kami pulang.

                    ***
Kegiatan berikutnya adalah pengarahan, pembinaan, dan persiapan yg diselenggarakan oleh Dinas Olah Raga dan Pemuda (Disorda) DKI Jakarta setiap Sabtu dan Ahad. Kegiatan pembinaan antara lain membuat makalah dan diskusi, makalah-makalah yang ia buat  judul-judulnya sudah ditentukan, antara lain:
"Jakarta: Youth and Entrepreneurship" dan "Youth: Nationalism and Leadership in Jakarta.

 Di antara makalah ada yg dibuat setelah kunjungan ke Musium Nasional, "Jakarta: Youth Social and Culture Life". Ada juga makalah bebas, judulnya tidak ditentukan, ia memberi judul, "The Role of Al-Quran for Youth as An Application for Creating High-Quality Human Resources in City Development" (Peran Al-Quran untuk Pemuda sebagai Aplikasi untuk Membina Sumber Daya Manusia Berkualitas Tinggi dalam Pembangunan Kota). 

Dari sini cerita dimulai. Makalah itu banyak membahas pemuda dengan ayat-ayat Al Quran, seperti, "Allah tdk akan merubah nasib suatu Bangsa sehingga Bangsa itu merubah nasibnya sendiri". Ternyata diskusi menjadi panas dan ada yang mengomentari makalah itu berbau SARA.

Selesai diskusi, makalah itu menyita fikiran, sampai berfikiran negatif takut didiskualifikasi. Saya katakan, "Ini bukan SARA!, kalau mengatakan agama lain itu jelek, itu SARA". "Tetapi kalau menunjukkan bahwa Al Quran itu mendukung perubahan, menumbuhkan jiwa optimis, itu bukan SARA".

 Untuk mengerjakan tugas dan membuat laporan, peserta disarankan membawa laptop. Pembaca tentu paham, untuk membawa laptop ke luar negeri, barang dan program harus orisinil (asli), sewaktu-waktu  bisa diperiksa oleh yang berwajib, jika kedapatan membawa program bajakan bisa didenda 60 juta, sedangkan program yang ori harganya bisa 1,5 jutaan.

 Terus, bagaimana caranya?

Prugram bajakan sebaiknya dihapus saja, dan bawalah program yang free alias gratisan, nanti di negara tujuan, yang gratisan itu di-upload. Atau, download program ori dari situs yg juga gratisan. 


Kalau masih khawatir juga, saat akan pulang kampung program itu dihapus dulu.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar