Sabtu, 05 April 2014

Dari Ulujami Menuju Beijing (Bagian 3)

Intermeso 64: Dari Ulujami Menuju Beijing (Bagian 3)


Ada kabar kurang enak.

Selasa, 29 Oktober 2013, sesuai jadwal, rombongan ke Beijing akan kembali ke Tanah Air, pk 18,05 mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Saya dan istri berencana menjemput di Bandara.

Saat itu saya akan mengajar masuk jam ke-7, menunggu di Rektorat lantai 3 sambil membantu istri input data NUPTK, HP saya berdering, dari nomor yg tidak saya kenal, "Assalamu'alaikum Pak, Paspor Uqi hilang, ...." dan seterusnya. Dia minta saya mencari copy passport di lemarinya, men-scann, dan mengirim ke alamat e-mail yg akan segera di-SMS.

Tentu saja saya agak panik, bel jam ke-7 pun berdering, maka saya menugaskan seseorang untuk masuk kelas 4F dan memberi tugas meringkas halaman 75 sampai 77.

Sayapun pulang setengah berlari, mencari copy paspor, tetapi pk 11.12 ia SMS lagi, "Pah ga usah dikirim.. udah ada datanya di flashdisc. minta do’a sama sholawatnya aja". 

Saya agak lega, tidak usah lari mencari scanner dan tidak perlu kirim e-mail dalam suasana Darunnajah yg sedang diguyur hujan lebat, namun perasaan cemas, khawatir, bingung, dan penasaran tentu saja ada.

Pk 13.00-14.00 ada undangan Farewell Party with HFCS di Baitul Wakif, dua guru dari Inggris akan pamit pulang, saya tidak hadir karena mengajar. Rencananya  setelah mengajar kami akan pergi ke Bandara. 

Sementara saya mampir kantor Yayasan Darunnajah karena ada kepala sekolah Darunnajah cabang yang minta dibuatkan SK. Sementara saya permisi, "SK akan saya buat besuk, karena saya akan ke Bandara".

Jam 14.30 ada rapat PPSB gabungan di Baitul Wakif, tetapi saya tidak hadir, hati saya benar-benar galau pada saat itu.

Pk 15.00 HP saya berdering lagi, anak saya menelpon. Ia sudah boarding dan sudah duduk di pesawat, tetapi tiba-tiba passport-nya tidak ada, maka ia bertanya pada teman-teman dan seluruh temannya mencari. Paspor tidak ditemukan dan ia diminta keluar dari pesawat Singapore Airline (SQ). Saat menelpon dia sedang mengurus paspor di KBRI dan akan terbang malam ini atau besuk pagi. Pulsa HP sudah habis dan akan menelpon kalau sudah mendarat di Cengkareng. 

Perasaan saya agak lega, niat ke bandara saya batalkan, acara selanjutnya membuat SK. Sesekali istri saya menelpon meminta saya pulang, sambil seakan menahan tangis.
      
Azan Magrib berkumandang, saya ikut jamaah di masjid dan pulang. Di rumah, istri  sedang mengaji sambil meneteskan air mata, sayapun ikut mengaji.

Tidak lama kemudian telpon istri berdering, dari wali santri, rupanya sebelumnya ia sudah menghubungi wali santri yang bekerja di Disorda DKI Jakarta. Ia melaporkan bahwa possport atas nama Syauqi Muhammad ditemukan di bawah jok kursi, saat teman-temannya sudah mendarat di Bandara.


Tetapi anak saya masih di Beijing. Menurut informasi, nanti malam atau besuk Syauqi pulang ke Jakarta. Istri saya tenang, makan malam, dan tidur.  

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar