10 NOVEMBER
Jejak Kiai, Santri, dan
Arek Soerabaja Menghadapi Sekutu
Penyusun:
H. Abdul Haris Qodir, S.Mn.,
M.Pd.
DAFTAR ISI
Prakata penyusun
Kata pengantar
Pendahuluan: Mengapa Pertempuran 10
November Perlu Ditulis Kembali?
BAGIAN I — SURABAYA MENJELANG
PERTEMPURAN
Latar geografis, sosial, politik, dan
keagamaan yang membentuk perlawanan rakyat Surabaya.
Bab 1. Surabaya, Kota Pelabuhan dan
Pusat Perjuangan
- Letak strategis Surabaya dalam sejarah Nusantara
- Surabaya pada masa kolonial Belanda
- Kehidupan masyarakat dan perkembangan kota
- Pelabuhan, perdagangan, dan mobilisasi rakyat
- Surabaya pada masa pendudukan Jepang
Bab 2. Kehidupan Islam dan Pesantren
di Jawa Timur
6.
Perkembangan Islam di Surabaya dan sekitarnya
- Jaringan kiai dan pesantren di Jawa Timur
- Masjid, pesantren, dan pendidikan masyarakat
- Hubungan ulama dengan kaum pergerakan
- Tradisi keagamaan dan semangat kebangsaan
Bab 3. Proklamasi Kemerdekaan dan
Perubahan Situasi Surabaya
11. Berita Proklamasi 17 Agustus 1945
- Penyebaran berita kemerdekaan di Surabaya
- Pengambilalihan kantor dan fasilitas pemerintahan
- Pembentukan badan perjuangan dan organisasi
rakyat
- Kedatangan pasukan Sekutu dan kembalinya NICA
BAGIAN II — LAHIRNYA RESOLUSI JIHAD
Peran ulama dalam memberikan landasan
keagamaan bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Bab 4. KH Hasyim Asy'ari dan
Kepemimpinan Ulama
- Biografi KH Hasyim Asy'ari
- Pesantren Tebuireng sebagai pusat pendidikan
Islam
- Peran ulama dalam kehidupan kebangsaan
- Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan
- Hubungan ulama, santri, dan laskar perjuangan
Bab 5. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
- Situasi politik Indonesia setelah Proklamasi
- Ancaman kembalinya kekuasaan kolonial
- Pertemuan ulama NU di Surabaya
- Isi, makna, dan sasaran Resolusi Jihad
- Kewajiban mempertahankan kemerdekaan dalam
pandangan ulama
Bab 6. Dari Fatwa ke Mobilisasi
Perjuangan
- Penyebaran Resolusi Jihad melalui jaringan
pesantren
- Peran kiai dan pengasuh pesantren
- Mobilisasi santri dan masyarakat
- Hubungan laskar Islam dengan kelompok perjuangan
lainnya
- Resolusi Jihad dalam konteks perjuangan nasional
Bab ini perlu membedakan isi dokumen
Resolusi Jihad dari penafsiran dan pengaruh historisnya. Dengan demikian,
hubungan antara seruan ulama dan mobilisasi rakyat dapat dijelaskan berdasarkan
bukti sejarah, bukan hanya berdasarkan ingatan kolektif.
BAGIAN III — AREK SOERABAJA BERSIAP
MELAWAN SEKUTU
Perkembangan kekuatan rakyat, pemuda,
laskar, dan organisasi perjuangan setelah kemerdekaan.
Bab 7. Arek Soerabaja dan Semangat
Kemerdekaan
- Identitas arek Surabaya dalam sejarah kota
- Pemuda, buruh, dan masyarakat kampung
- Perkembangan organisasi perjuangan
- Senjata, logistik, dan persiapan pertahanan
- Solidaritas masyarakat menghadapi ancaman
kolonial
Bab 8. Bung Tomo dan Gema Perlawanan
- Biografi Sutomo atau Bung Tomo
- Perkembangan radio dan komunikasi perjuangan
- Pidato-pidato yang membangkitkan semangat rakyat
- Hubungan propaganda, agama, dan nasionalisme
- Pengaruh komunikasi terhadap mobilisasi
masyarakat
Bab 9. Ulama, Santri, dan Laskar
Pejuang
- Kiai sebagai pemimpin masyarakat
- Santri dalam jaringan perjuangan
- Hizbullah dan Sabilillah
- Hubungan laskar dengan tentara Republik
- Perjuangan rakyat di luar pusat kota Surabaya
Bab 10. Insiden Hotel Yamato dan
Ketegangan dengan Sekutu
- Kedatangan pasukan Sekutu di Surabaya
- Insiden pengibaran bendera di Hotel Yamato
- Perobekan warna biru pada bendera Belanda
- Meningkatnya ketegangan antara rakyat dan Sekutu
- Dampak insiden terhadap suasana perjuangan
BAGIAN IV — PERTEMPURAN SURABAYA 10
NOVEMBER 1945
Rekonstruksi pertempuran,
kepemimpinan, strategi, dan pengalaman masyarakat.
Bab 11. Menuju Pertempuran Besar
- Kedatangan Brigadir Jenderal A. W. S. Mallaby
- Perundingan antara pihak Republik dan Sekutu
- Insiden yang menewaskan Mallaby
- Ultimatum Sekutu kepada rakyat Surabaya
- Kegagalan meredakan ketegangan
Bab 12. 10 November 1945: Surabaya
Membara
- Awal serangan besar-besaran Sekutu
- Perlawanan tentara dan laskar rakyat
- Peran pemuda, santri, dan masyarakat
- Pertempuran di berbagai kawasan kota
- Perkembangan pertempuran dan mundurnya pejuang
Bab 13. Kiai dan Santri di Tengah
Pertempuran
- Peran pesantren dalam mendukung perjuangan
- Kiai sebagai penggerak solidaritas masyarakat
- Santri dan jaringan laskar perjuangan
- Dukungan logistik, kesehatan, dan komunikasi
- Kisah perjuangan lokal yang perlu ditelusuri
melalui arsip dan kesaksian
Bab 14. Perempuan, Keluarga, dan
Korban Sipil
- Peran perempuan dalam perjuangan
- Dapur umum dan pelayanan kesehatan
- Pengungsian penduduk Surabaya
- Kehilangan rumah dan anggota keluarga
- Pengalaman masyarakat setelah pertempuran
Bab 15. Dampak Pertempuran terhadap
Surabaya
- Kerusakan kota dan infrastruktur
- Korban jiwa dan persoalan dokumentasi jumlah
korban
- Pengungsian dan perubahan kehidupan masyarakat
- Perjuangan berlanjut di wilayah sekitar Surabaya
- Dampak pertempuran terhadap diplomasi kemerdekaan
BAGIAN V — DARI SURABAYA UNTUK
INDONESIA
Makna nasional Pertempuran Surabaya
dan perkembangan ingatannya dalam sejarah bangsa.
Bab 16. Pertempuran Surabaya dalam
Revolusi Indonesia
- Surabaya dalam rangkaian perjuangan 1945–1949
- Hubungan perjuangan bersenjata dan diplomasi
- Pengaruh Pertempuran Surabaya terhadap perjuangan
nasional
- Hubungan tentara, laskar, ulama, dan rakyat
- Perdebatan historiografis tentang makna
pertempuran
Bab 17. Lahirnya Hari Pahlawan
- Sejarah penetapan 10 November sebagai Hari
Pahlawan
- Makna pengorbanan rakyat Surabaya
- Perkembangan upacara dan peringatan nasional
- Monumen dan situs sejarah Pertempuran Surabaya
- Perubahan cara masyarakat mengenang para pejuang
Bab 18. Sejarah yang Kurang Dikenal
dari Pertempuran Surabaya
- Tokoh lokal di luar narasi populer
- Jaringan pesantren dan laskar daerah
- Kisah keluarga pejuang dan korban sipil
- Arsip, surat kabar, dan kesaksian yang belum
banyak dimanfaatkan
- Membedakan fakta sejarah, legenda, dan ingatan
kolektif
BAGIAN VI — WARISAN PERJUANGAN KIAI,
SANTRI, DAN AREK SOERABAJA
Pelajaran sejarah bagi pesantren,
pendidikan kebangsaan, dan generasi muda.
Bab 19. Pesantren dan Nasionalisme
Indonesia
- Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan
pembentukan karakter
- Hubungan ajaran agama dan tanggung jawab
kebangsaan
- Tradisi perjuangan dalam pendidikan pesantren
- Pesantren dan pembangunan masyarakat
- Menjaga persatuan dalam keberagaman
Bab 20. Merawat Memori Pertempuran 10
November
- Dokumentasi sejarah ulama dan santri
- Pengumpulan arsip pesantren dan keluarga pejuang
- Penulisan biografi tokoh lokal
- Pendidikan sejarah melalui buku dan media digital
- Mewariskan nilai keberanian, persatuan, dan
kemanusiaan
BAGIAN AKHIR BUKU
- Epilog: Semangat 10 November dan Tanggung Jawab
Generasi Penerus
- Kronologi peristiwa 17 Agustus–November 1945
- Biografi tokoh-tokoh utama
- Peta Surabaya dan lokasi penting pertempuran
- Glosarium istilah sejarah
- Catatan kaki
- Daftar pustaka gaya Chicago
- Indeks nama dan tempat
REFERENSI AWAL UNTUK PENULISAN
Beberapa buku yang dapat dijadikan titik
awal penelitian:
- Frederick, William H. Visions and Heat: The
Making of the Indonesian Revolution. Athens: Ohio University Press,
1989.
- Reid, Anthony. The Indonesian National
Revolution, 1945–1950. Melbourne: Longman, 1974.
- Bataviaasch Genootschap dan koleksi surat kabar
sezaman, untuk penelusuran konteks kolonial dan berita sejarah.
- Arsip Nasional Republik Indonesia, untuk dokumen
pemerintahan dan periode revolusi.
- Arsip dan dokumentasi Nahdlatul Ulama serta
Pesantren Tebuireng, untuk menelusuri Resolusi Jihad dan jaringan ulama.
Sumber-sumber tersebut perlu dilengkapi
dengan penelitian khusus tentang Surabaya, dokumen Resolusi Jihad, surat kabar
November 1945, dan kesaksian pelaku maupun keluarga korban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar