Jumat, 23 Oktober 2026

346 10 November

 

10 NOVEMBER

 

Jejak Kiai, Santri, dan Arek Soerabaja Menghadapi Sekutu

 

 

Penyusun:

H. Abdul Haris Qodir, S.Mn., M.Pd.




 

DAFTAR ISI

Prakata penyusun

Kata pengantar

Pendahuluan: Mengapa Pertempuran 10 November Perlu Ditulis Kembali?


BAGIAN I — SURABAYA MENJELANG PERTEMPURAN

Latar geografis, sosial, politik, dan keagamaan yang membentuk perlawanan rakyat Surabaya.

 

Bab 1. Surabaya, Kota Pelabuhan dan Pusat Perjuangan

  1. Letak strategis Surabaya dalam sejarah Nusantara
  2. Surabaya pada masa kolonial Belanda
  3. Kehidupan masyarakat dan perkembangan kota
  4. Pelabuhan, perdagangan, dan mobilisasi rakyat
  5. Surabaya pada masa pendudukan Jepang

 

Bab 2. Kehidupan Islam dan Pesantren di Jawa Timur

6.      Perkembangan Islam di Surabaya dan sekitarnya

  1. Jaringan kiai dan pesantren di Jawa Timur
  2. Masjid, pesantren, dan pendidikan masyarakat
  3. Hubungan ulama dengan kaum pergerakan
  4. Tradisi keagamaan dan semangat kebangsaan

 

Bab 3. Proklamasi Kemerdekaan dan Perubahan Situasi Surabaya

11.  Berita Proklamasi 17 Agustus 1945

  1. Penyebaran berita kemerdekaan di Surabaya
  2. Pengambilalihan kantor dan fasilitas pemerintahan
  3. Pembentukan badan perjuangan dan organisasi rakyat
  4. Kedatangan pasukan Sekutu dan kembalinya NICA

BAGIAN II — LAHIRNYA RESOLUSI JIHAD

Peran ulama dalam memberikan landasan keagamaan bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

 

Bab 4. KH Hasyim Asy'ari dan Kepemimpinan Ulama

  1. Biografi KH Hasyim Asy'ari
  2. Pesantren Tebuireng sebagai pusat pendidikan Islam
  3. Peran ulama dalam kehidupan kebangsaan
  4. Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan
  5. Hubungan ulama, santri, dan laskar perjuangan

Bab 5. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

  1. Situasi politik Indonesia setelah Proklamasi
  2. Ancaman kembalinya kekuasaan kolonial
  3. Pertemuan ulama NU di Surabaya
  4. Isi, makna, dan sasaran Resolusi Jihad
  5. Kewajiban mempertahankan kemerdekaan dalam pandangan ulama

Bab 6. Dari Fatwa ke Mobilisasi Perjuangan

  1. Penyebaran Resolusi Jihad melalui jaringan pesantren
  2. Peran kiai dan pengasuh pesantren
  3. Mobilisasi santri dan masyarakat
  4. Hubungan laskar Islam dengan kelompok perjuangan lainnya
  5. Resolusi Jihad dalam konteks perjuangan nasional

Bab ini perlu membedakan isi dokumen Resolusi Jihad dari penafsiran dan pengaruh historisnya. Dengan demikian, hubungan antara seruan ulama dan mobilisasi rakyat dapat dijelaskan berdasarkan bukti sejarah, bukan hanya berdasarkan ingatan kolektif.


BAGIAN III — AREK SOERABAJA BERSIAP MELAWAN SEKUTU

Perkembangan kekuatan rakyat, pemuda, laskar, dan organisasi perjuangan setelah kemerdekaan.

Bab 7. Arek Soerabaja dan Semangat Kemerdekaan

  1. Identitas arek Surabaya dalam sejarah kota
  2. Pemuda, buruh, dan masyarakat kampung
  3. Perkembangan organisasi perjuangan
  4. Senjata, logistik, dan persiapan pertahanan
  5. Solidaritas masyarakat menghadapi ancaman kolonial

Bab 8. Bung Tomo dan Gema Perlawanan

  1. Biografi Sutomo atau Bung Tomo
  2. Perkembangan radio dan komunikasi perjuangan
  3. Pidato-pidato yang membangkitkan semangat rakyat
  4. Hubungan propaganda, agama, dan nasionalisme
  5. Pengaruh komunikasi terhadap mobilisasi masyarakat

Bab 9. Ulama, Santri, dan Laskar Pejuang

  1. Kiai sebagai pemimpin masyarakat
  2. Santri dalam jaringan perjuangan
  3. Hizbullah dan Sabilillah
  4. Hubungan laskar dengan tentara Republik
  5. Perjuangan rakyat di luar pusat kota Surabaya

Bab 10. Insiden Hotel Yamato dan Ketegangan dengan Sekutu

  1. Kedatangan pasukan Sekutu di Surabaya
  2. Insiden pengibaran bendera di Hotel Yamato
  3. Perobekan warna biru pada bendera Belanda
  4. Meningkatnya ketegangan antara rakyat dan Sekutu
  5. Dampak insiden terhadap suasana perjuangan

BAGIAN IV — PERTEMPURAN SURABAYA 10 NOVEMBER 1945

Rekonstruksi pertempuran, kepemimpinan, strategi, dan pengalaman masyarakat.

Bab 11. Menuju Pertempuran Besar

  1. Kedatangan Brigadir Jenderal A. W. S. Mallaby
  2. Perundingan antara pihak Republik dan Sekutu
  3. Insiden yang menewaskan Mallaby
  4. Ultimatum Sekutu kepada rakyat Surabaya
  5. Kegagalan meredakan ketegangan

Bab 12. 10 November 1945: Surabaya Membara

  1. Awal serangan besar-besaran Sekutu
  2. Perlawanan tentara dan laskar rakyat
  3. Peran pemuda, santri, dan masyarakat
  4. Pertempuran di berbagai kawasan kota
  5. Perkembangan pertempuran dan mundurnya pejuang

Bab 13. Kiai dan Santri di Tengah Pertempuran

  1. Peran pesantren dalam mendukung perjuangan
  2. Kiai sebagai penggerak solidaritas masyarakat
  3. Santri dan jaringan laskar perjuangan
  4. Dukungan logistik, kesehatan, dan komunikasi
  5. Kisah perjuangan lokal yang perlu ditelusuri melalui arsip dan kesaksian

Bab 14. Perempuan, Keluarga, dan Korban Sipil

  1. Peran perempuan dalam perjuangan
  2. Dapur umum dan pelayanan kesehatan
  3. Pengungsian penduduk Surabaya
  4. Kehilangan rumah dan anggota keluarga
  5. Pengalaman masyarakat setelah pertempuran

Bab 15. Dampak Pertempuran terhadap Surabaya

  1. Kerusakan kota dan infrastruktur
  2. Korban jiwa dan persoalan dokumentasi jumlah korban
  3. Pengungsian dan perubahan kehidupan masyarakat
  4. Perjuangan berlanjut di wilayah sekitar Surabaya
  5. Dampak pertempuran terhadap diplomasi kemerdekaan

BAGIAN V — DARI SURABAYA UNTUK INDONESIA

Makna nasional Pertempuran Surabaya dan perkembangan ingatannya dalam sejarah bangsa.

Bab 16. Pertempuran Surabaya dalam Revolusi Indonesia

  1. Surabaya dalam rangkaian perjuangan 1945–1949
  2. Hubungan perjuangan bersenjata dan diplomasi
  3. Pengaruh Pertempuran Surabaya terhadap perjuangan nasional
  4. Hubungan tentara, laskar, ulama, dan rakyat
  5. Perdebatan historiografis tentang makna pertempuran

Bab 17. Lahirnya Hari Pahlawan

  1. Sejarah penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan
  2. Makna pengorbanan rakyat Surabaya
  3. Perkembangan upacara dan peringatan nasional
  4. Monumen dan situs sejarah Pertempuran Surabaya
  5. Perubahan cara masyarakat mengenang para pejuang

Bab 18. Sejarah yang Kurang Dikenal dari Pertempuran Surabaya

  1. Tokoh lokal di luar narasi populer
  2. Jaringan pesantren dan laskar daerah
  3. Kisah keluarga pejuang dan korban sipil
  4. Arsip, surat kabar, dan kesaksian yang belum banyak dimanfaatkan
  5. Membedakan fakta sejarah, legenda, dan ingatan kolektif

BAGIAN VI — WARISAN PERJUANGAN KIAI, SANTRI, DAN AREK SOERABAJA

Pelajaran sejarah bagi pesantren, pendidikan kebangsaan, dan generasi muda.

Bab 19. Pesantren dan Nasionalisme Indonesia

  1. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pembentukan karakter
  2. Hubungan ajaran agama dan tanggung jawab kebangsaan
  3. Tradisi perjuangan dalam pendidikan pesantren
  4. Pesantren dan pembangunan masyarakat
  5. Menjaga persatuan dalam keberagaman

Bab 20. Merawat Memori Pertempuran 10 November

  1. Dokumentasi sejarah ulama dan santri
  2. Pengumpulan arsip pesantren dan keluarga pejuang
  3. Penulisan biografi tokoh lokal
  4. Pendidikan sejarah melalui buku dan media digital
  5. Mewariskan nilai keberanian, persatuan, dan kemanusiaan

BAGIAN AKHIR BUKU

  1. Epilog: Semangat 10 November dan Tanggung Jawab Generasi Penerus
  2. Kronologi peristiwa 17 Agustus–November 1945
  3. Biografi tokoh-tokoh utama
  4. Peta Surabaya dan lokasi penting pertempuran
  5. Glosarium istilah sejarah
  6. Catatan kaki
  7. Daftar pustaka gaya Chicago
  8. Indeks nama dan tempat

REFERENSI AWAL UNTUK PENULISAN

Beberapa buku yang dapat dijadikan titik awal penelitian:

  1. Frederick, William H. Visions and Heat: The Making of the Indonesian Revolution. Athens: Ohio University Press, 1989.
  2. Reid, Anthony. The Indonesian National Revolution, 1945–1950. Melbourne: Longman, 1974.
  3. Bataviaasch Genootschap dan koleksi surat kabar sezaman, untuk penelusuran konteks kolonial dan berita sejarah.
  4. Arsip Nasional Republik Indonesia, untuk dokumen pemerintahan dan periode revolusi.
  5. Arsip dan dokumentasi Nahdlatul Ulama serta Pesantren Tebuireng, untuk menelusuri Resolusi Jihad dan jaringan ulama.

Sumber-sumber tersebut perlu dilengkapi dengan penelitian khusus tentang Surabaya, dokumen Resolusi Jihad, surat kabar November 1945, dan kesaksian pelaku maupun keluarga korban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar