Jumat, 26 Februari 2016

Rhenald Kasali: Jika Ingin Anak-anak Anda Sukses

Prof Rhenald Kasali: Jika Ingin Anak-anak Anda Sukses, Jangan Manjakan Mereka

Serambimata.com – Sebuah tulisan yang menarik dan inspiratif terutama bagi orang tua tentang bagaimana seharusnya mendidik anak. Prof Rhenald Kasali memaparkannya dengan bahasa yang renyah sehingga mudah dicerna dan dipahami. Dikutip dari lamanIslammoderat.com.
Alkisah, seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.
Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.
Hadiah orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.
Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.
Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.
Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.
Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.
Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.
Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.
Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.
Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.
“Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan”.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar tapi sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

Prof Rhenald Kasali: Jika Ingin Anak-anak Anda Sukses, Jangan Manjakan Mereka

Sabtu, 09 Januari 2016

273: Mie Instan dan Air Keran

Mie Instan dan Air Keran
Intermeso 273

Ini cerita ustadz yang dikirim ke Inggris, mengikuti program pertukaran guru (teacher exchange) dengan salah satu sekolah di Keighley.

Pada tahun ke-9 ini, pengiriman guru dilaksanakan pada bulan Desember, tentu saja di Inggris sedang musim dingin, oleh karena itu kegiatan nyaris hanya mengajar dan pulang ke rumah.

Mereka sudah berpakaian rangkap tujuh, tetapi masih juga terasa dingin.

Seperti layaknya warga setempat,  setiap hari mereka makan roti; pagi makan roti, siang roti, dan malam juga roti. Bagi orang Indonesia, kalau belum makan nasi, perutnya belum kenyang. Apa lagi di musim dingin, tentu lebih cepat lapar.

Suatu malam mereka berdua perutnya lapar, mau cari nasi tentu tidak mungkin. Untung saja maaih ada persediaan mie instan, maka mereka mencari air panas. Mau ke dapur tidak enak karena tinggal di rumah orang.

Tetapi bagaimana caranya mau merebus mie?

Umumnya di Eropa, di kamar mandi tersedia keran panas dan dingin. Air panas itulah yang dipakai menyiram mie instan, maka jadilah mereka menyantap makanan lezat seperti di  Indonesia.

Tentang air keran, tidak ada masalah, kalau toh ada kuman, tentu sudah mati tersiram air panas.

Alhamdulillah, mereka kembali ke Tanah Air dengan sehat, tidak ada yang sakit perut.

Minggu, 19 Juli 2015

229: Dibilang Anjing

Dibilang Anjing
Intetmeso 229

Tadi malam sekitar jam 22.30, istri saya mendapat telepon dari seseorang, mengaku seorang polisi.

Polisi itu mengabarkan kalau ponakan istri yang bernama X baru menabrak seorang anak dan disembunyikan di mobil polisi, karena X dikejar-kejar keluarga korban.

Polisi tadi menawarkan jalur damai atau jalur hukum. Maka istri minta waktu untuk bermusyawarah dengan keluaga.

HP diberikan kepada saya dan yang mengaku polisi tadi mengulang penawaran, "Bapak mau jalur hukum atau damai?"
Maka saya jawab, "Terserah Bapak mau jalur apa?"
Dia mengulang pertanyaan lagi, "Kok terserah, Bapak paham tidak?, pertanyaan saya"
"Saya paham, maka saya jawab, terserah" jawab saya.

"Polisi" tadi mengulang pertanyaan lagi, "Bapak mau jalur damai atau jalur hukum!?"
Saya jawab lagi, "Jalur hukum, saya siap jalur hukum!!"

Maka dia jawab lagi, "Bapak ini anjing!!!"

Saya jawab lagi, "Kalau saya anjing!, terus Bapak apa?!"

Dan suara HP di seberang sana mati. Ha ha ha..., plong, saya lega.

Memang ketika saya mulai mengangkat HP, istri membisiki saya, "Pak, itu penipuan, X ada di rumah, lagi tidur.

Kebetulan di rumah daya saat itu lagi banyak orang, baru saja selesai menghatamkan Al Quran dalam rangka haul mertua saya.

Penipuan seperti itu memang sering terjadi, sehingga kita tidak kaget lagi, tapi kalau pura-pura kaget boleh juga.

Atau kalau saya sabar sedikit, saya pilih jalur damai saja. Pasti akan terjadi tawar-menawar, terus saya tawar 5 ribu rupiah, biar transaksinya lama, itung-itung menghabiskan pulsa dia.

Mau nipu harus modal pulsa dong.

Kamis, 09 Juli 2015

228: Rahasia Peci Hitam

Rahasia Peci Hitam
Intermeso 228

Tahun 1998 saya menunaikan ibadah haji bersama teman saya.

Rombongan haji dari Indonesia pada awal kedatangan umumnya berseragam batik dan yang laki-laki memakai peci hitam, peci nasional.

Baru beberapa hari kemudian para jamaah banyak yang memakai peci putih. Saya juga memakai peci putih. Berbeda dengan teman saya yang satu ini, ia selalu memakai peci hitam.

Ia juga membeli sorban, iqal, dan peci putih, tetapi yang dipakai tetap saja peci hitam. Hanya ketika menjelang pulang, ia memakai peci putih.

Sebenarnya saya sudah lama penasaran, hanya ketika mau pulang, saya sempatkan bertanya, "Kenapa selalu memakai peci hitam?"

Ternyata itu pesan mertuanya, agar selalu memakai peci hitam.

Mertuanya menunaikan ibadah haji pada tahun 1979, waktu itu  Masjid Haram dikuasai pemberontak, di tempat-tempat yang tinggi dan menara masjid ditempatkan para penembak jitu.

Orang-orang yang bersorban atau memakai peci putih ditembaki, tetapi yang pakai peci hitam tidak.

Itulah pengalaman mertua.

Kamis, 21 Mei 2015

Al Quran Langgam Jawa

Penjelasan yang Mencerahkan tentang Al Quran Langgam Jawa

Oleh: Ustadz Nara Ar Raji Rahmata Rabbih, Lc.

Tanggal 20 Mei sudah berlalu, alhamdulilah Indonesia masih aman sentosa. Sekarang sudah waktunya saya menjawab pertanyaan sebagian teman-teman mengenai pembacaan Al-Qur’an dengan langgam daerah yang heboh pada akhir-akhir ini. Dari kemarin saya menahan diri untuk tidak bekomentar apapun di media sosial mengenai langgam. Agar komentar saya tidak menguntungkan pihak manapun, jika saja cerita langgam ini memang sengaja dibuat untuk pengalihan isu aksi 20 Mei.

Beberapa hari ini saya lihat berbagai macam argument yang bertengger ditimeline, baik yang pro ataupun kontra sudah mengeluarkan argumen-argumennya masing-masing. Nah saya tertarik untuk mengkritisi berbagai macam argumen serta sikap yang telah saya baca dan amati dari kemarin.

Pertama, mengenai “Asal langgam yang tujuh/maqamat syarqiyyah yang sering menjadi acuan para qari dunia.”

Jawaban:
Disini memang banyak tejadi perbedaan pendapat dari mana langgam yang tujuh itu berasal. Ada yang berpendapat dari Persia, adapula yang berpendapat dari nenek moyang orang Arab. Perbedaaan pendapat ini tentunya sangat wajar, mengingat tidak ada satupun orang yang mengetahui sejak kapan pastinya ilmu maqamat syarqiah ini ditemukan? Dan siapa orang pertama yang mengajarkannya?

Saya pernah menanyakan hal ini kepada salah seorang Syeikh di Mesir yang mahir dalam bidang maqamat, saya bertanya, “Sejak kapan maqamat syarqiah ditemukan di dunia??”

Syeikh tersebut menjawab, “Tidak ada yang tahu sejak kapan pastinya maqamat syarqiah tercipta, tapi yang jelas sudah lama sekali, bahkan ada yang mengatakan dari zaman Fir’aun sudah terdapat maqamat syarqiah.”

Dari berbagai macam perbedaan pendapat ini saya setuju dengan teman-teman yang mengatakan bahwa yang dimaksud “Luhun Arab” di hadits Nabi yang sering teman-teman kutip bukanlah tujuh langgam/maqamat syarqiah yang sekarang sering menjadi acuan para qari dunia.

Kedua, Mengenai “Hukum membaca Al-Qur’an dengan menggunakan maqamat syarqiah/tujuh langgam yang masyhur.”

Jawaban:
Sebelum kita membahas apa hukum membaca Al-Qur’an dengan langgam daerah, alangkah lebih baiknya jika kita bahas dulu apa hukumnya membaca Al-Qur’an dengan langgam yang tujuh/maqamat syarqiah.

Dalam hal ini para ulama terbagi kepada dua pendapat.

Pendapat pertama MENGHARAMKAN mutlaqan (tanpa qaid apapun). Mereka beralasan bahwa maqamat syarqiah ini menjadi Zariah (perantara) seorang qari kepada mempermainkan Al-Qur’an dengan mencederai tajwid karena mengikuti irama lagu, baik kesalahan tajwid karena memperpanjang huruf yang harusnya pendek, atau memperpendek huruf yang harusnya panjang ataupun bentuk kesalahan-kesalahan tajwid yang lainnya. Nah pendapat yang pertama ini tentunya mereka menggunakan qaidah “Sadduz Zariah” (antisipasi).

Pendapat kedua:
Mereka MEMBOLEHKAN dengan syarat, yaitu harus benar-benar mengikuti qaidah ilmu tajwid, bukan ilmu tajwid yang mengikuti lagu. Nah, jika saja teman-teman yang pro dengan pendapat yang membolehkan membaca Al-Qur’an menggunakan langgam daerah melihat kepada perbedaan pendapat diatas tentunya tidak akan ada yang ngotot untuk mengatakan boleh dan tidak akan ada pula yang keberatan ketika ada yang mengatakan haram dengan alasan sudah menjadi tradisi daerah dan lain-lain, karena langgam yang tujuh/maqamat syarqiah saja, terdapat ulama yang mengharamkannya, padahal hal ini juga sudah menjadi tradisi bangsa Arab.

Ketiga: Mengenai “Hukum membaca Al-Qur’an dengan langgam Jawa ataupun dengan langgam lainnya yang diluar dari maqamat syarqiah.”

Jawaban:
Sebagaimana kita lihat dari kemarin para pakar sudah ada yang mengomentari hal ini, ada sebagian mereka yang mengharamkan, adapula yang membolehkan.

Saya mengapresiasi kepada teman-teman yang mengharamkan dengan mengambil qaidah “Sadduz zariah” (antisipasi), ditakutkan jika diperbolehkan maka akan banyak langgam yang bermunculan, tidak menutup kemungkinan diantara banyaknya langgam yang akan muncul terdapat langgam yang tidak layak dengan Al-Qur”an, bahkan cendrung merendahkan Al-Qur’an, bayangkan saja jika nanti ada yang membaca Al-Qur’an dengan langgam hip-hop.

Saya menyarankan kepada kelompok yang membolehkan membaca Al-Qur’an dengan langgam daerah, agar menambahkan “dhawabit-dhawabit” (catatan-catatan) syarat-syarat tertentu dalam pembolehannya, jangan hanya dengan sekedar “dhawabit” (catatan) harus mengikuti qaedah ilmu Tajwid. Ini demi menjaga harkat martabat Al-Qur’an. Jika syaratnya hanya sekedar harus mengikuti ilmu Tajwid saja, maka tidak menutup kemungkinan akan ada pembacaan Al-Qur’an dengan langgam keroncong dengan dalih yang penting sesuai dengan ilmu Tajwid.

Keempat, Mengenai statemen, “Terlalu paranoid jika pengharaman langgam daerah karena takut kepada hal yang belum terjadi, enggak ada juga kali yang mau baca Al-Qur’an dengan langgam dangdut, emang kurang kerjaan apa?”

Jawaban:
Memang hal ini belum terjadi, tapi kita berpikir panjang untuk kedepan, waktu selalu berputar, manusia terus berkembang, gadget yang hari ini keren, lusa akan jadi gadget butut yang bikin minder orang yang memakainya. Secara sosial bisa dikatakan tingkat kreatifitas masyarakat kita lumayan tinggi. Tiga puluh tahun yang lalu mungkin tidak ada satupun orang yang terpikir untuk membuat ritme syair shalawat dengan ritme dangdut, tapi hari ini kita sudah menyaksikan bagaimana tembangSekuntum Mawar Merah punya Rhoma Irama menjadi irama syair shalawat, terlepas pembicaraan layak atau tidaknya untungnya yang dibuat dari tembang dangdut ini hanya berbentuk syi’ir (sajak) bukan Al-Qur’an sehingga tidak terlalu penting kita ributkan.

Jika sekarang ada orang yang membaca Al-Qur’an dengan langgam dangdut kita akan bilang kurang kerjaan, bisa jadi besok lusa malah menjadi kerjaan anak cucu kita. Dari karena itu kita perlu untuk antisipasi atau paling tidak menambahkan syarat-syarat tertentu agar hal ini tidak terjadi.

Kelima: Mengenai statemen, “Yang pentingkan sesuai dengan ilmu tajwid.”

Jawaban:
Statemen seperti ini hanya akan keluar dari orang yang tidak pernah menyelami dunia maqamat syarqiah/lagu yang tujuh atau bahkan bisa jadi buta sama sekali dengan dunia tersebut. Semua orang yang menggeluti dunia maqamat pasti mengetahui betapa susahnya menyeimbangkan antara lagu dan tajwid, antara memikirkan waqaf ibtida yang benar sambil menyesuaikan dengan kemampuan nafas yang dimiliki.

Bayangkan jika anda menyetir mobil, tangan kanan sambil memegang hanphone, tangan kiri sambil memegang tasbih, dikursi belakang ada anak kecil yang bermain-main, di jalan yang padat dengan kecepatan tinggi. Tentunya anda harus bisa membagi konsentrasi dengan baik, jika anda kurang konsentrasi sedikit saja maka akan berhujung dengan kecelakaan.

Begitu juga orang yang membaca Al-Qur’an dengan maqamat secara mujawwad, konsentrasinya terbagi kepada ayat yang dia baca, tajwid, lagu, pengaturan napas.

Saya dari umur delapan tahun sudah bersentuhan dengan dunia maqamat sampai sekarang masih sering salah dalam Tajwid jika saya membaca Al-Qur’an dengan maqamat secara mujawwad, sampai sekarang saya masih belajar bagaimana caranya menyeimbangkan antara tajwid yang benar dengan lagu yang indah serta pengaturan napas yang baik. Jangankan seorang pemula seperti saya, qara qari Internasional yang namanya sudah masyhur ke seantero alam, yang mungkin tidak layak jika saya sebutkan nama-nama mereka, terkadang juga kesusahan untuk menyeimbangkan antara tajwid dan lagu. Hal itu terbukti dengan terdapat kritikan dari ulama-ulama pakar tajwid dunia kepada mereka.

Lima: Mengenai “Video langgam Magribi yang dijadikan penguat atas bolehnya membaca Al-Qur’an dengan langgam daerah masing-masing.”

Jawaban:
Diantara yang beredar di timeline terdapat langgam magribi yang dijadikan penguat atas bolehnya membaca Al-Qur’an dengan langgam daerah masing-masing. Saya mencoba untuk mendengarkan agar menghilangkan rasa penasaran saya seperti apa siih langgam Magrib tersebut. Setelah saya dengarkan memang terlihat sekali dari cengkoknya ciri khas magribi tapi langgam tersebut bukanlah langgam Magribi seutuhnya, yang dibaca qari adalah maqam hijaz dan maqam Nahawand yang juga termasuk dari bagian maqamat syarqiah/lagu yang tujuh.

Hal ini sekaligus menjadi jawaban kepada teman-teman yang menjadikan berbeda-bedanya langgam penduduk Negara Timur Tengah untuk menguatkan bahwa membaca Al-Qur”an dengan langgam daerah dibolehkan. Misalnya maqam Hijaz penduduk Arab teluk berbeda dengan maqam Hijaz penduduk Mesir. Perlu diketahui bahwa yang berbeda disini bukanlah langgamnya secara keseluruhan, tapi yang berbeda hanyalah karakter cengkoknnnya. Mayoritas langgam nasyid yang beredar di Timur Tengah saat ini rata-rata dari maqamat syarqiah, hanya ada sedikit nasyid langgam barat yang akhir-akhir ini bermunculan.

Enam: Mengenai “Vonis murtad atau kafir kepada orang yang membaca Al-Qur’an dengan langgam daerah.”

Jawaban:
Vonis murtad atau kafir kepada setiap orang yang membaca Al-Qur’an dengan langgam daerah terlalu gegabah. Janganlah kita saling mengkafirkan, pembahasan takfir sangatlah dalam, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa seseorang hanya bisa divonis kafir setelah melalui proses pengadilan dan dinyatakan oleh qadhi bahwa seseorang tersebut sudah keluar dari agama Islam, mengingat besarnya bahaya jika semua orang punya hak untuk mengkafirkan siapapun. Makari kita lihat Syiria, Iraq, Afghanistan, Pakistan, yang porak-poranda, karena perang saudara. Semua itu terjadi bukan hanya karena hasrat politik belaka, tapi juga karena terlalu mudah dalam permasalahan takfir.

Kita tidak dapat memungkiri di Indonesia memang terdapat orang-orang yang anti dengan Arabisasi, sehingga terkesan alergi dengan segala hal yang berbau Arab. Dan kita juga tidak dapat menampik bahwa mereka sangat diuntungkan dengan kasus langgam ini. Padahal memisahkan Islam dengan Arab secara keseluruhan adalah sebuah keniscayaan.

Hal yang tidak boleh kita lupakan pula bisa jadi mereka gencar menyuarakan anti arabisasi sebagai bentuk balasan kepada orang-orang yang memposisikan sunnah yang juga kebetulan menjadi budaya Arab seakan menjadi kewajiban, bahkan ada yang sampai mengintimidasi orang yang tidak mengerjakan. Kita ambil contoh misalnya memakai gamis, semua kita sepakat bahwa memakai gamis bagian dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. tapi tentunya jangan sampai kita mengintimidasi orang yang tidak memakai gamis atau kita posisikan dia seperti orang yang meninggalkan kewajiban shalat. Mari kita ajak manusia kepada agama Allah dengan hikmah, mari kita ajak muslimin untuk menghidupkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. dengan hikmah, bukan dengan memaksa.

Nah disini tugas kita untuk menengahi kedua kelompok ini. Pertama, kelompok yang fokus untuk memaksakan sunnah yang kebetulan berasal dari budaya Arab. Kedua, kelompok yang alergi dengan segala hal yang berbau Arab.

Ketujuh: Mengenai “Pertanyaan teman-teman kepada para masyaikh Al-Azhar dalam kasus ini serta jawaban para Masyaikh.”

Jawaban:
Kita tidak meragukan kapabelitas masyaikh disini tapi yang perlu kita ingat, sehebat- hebatnya keilmuan masyaikh disini tentunya pengetahuan mereka tentang budaya, sosial, politik Indonesia tidak akan sedalam pengetahuan yang jelas-jelas orang Indonesia, yang tumbuh berkembang di Indonesia. Saya yakin jika saja para masyaikh mengetahui bahwa dalam qadiyyah ini bukan hanya permasalahan langgam tapi disini juga terdapat permasalahan lain, seperti politik, budaya, sosial tentu beliau-beliau tidak akan memberikan jawaban kecuali setelah melalui pengkajian yang benar-benar dalam. Nah perantashwirul mas’alah disini sangatlah penting.

Para Masyaikh disini mungkin beliau-beliau tidak mengetahui bahwa langgam yang dipertontonkan kepada Beliau juga dipakai untuk sindenan. Bahkan kemungkinan besar beliau-beliau juga tidak mengetahui apa itu sinden. Di Timur Tengah maqamat syarqiah bukan hanya dipakai untuk membaca Al-Qur’an tapi juga dipakai untuk musik bergenre Arabic. Nah keistimewaan maqamat syarqiah ini walaupun dasarnya mempunyai tujuh maqam tapi variasi-variasinya sampai ratusan bahkan ada yang mengatakan hingga ribuan, sehingga walaupun juga dipakai untuk membaca Al-Qur”an, tashawwur (penggambara) orang yang mendengar tidak akan mentashawwurkan Ummi Kultsum atau Abdul Halim Hafez, karena memang tidak sama persis, yang sama hanya irama dasarnya saja.

Bagi saya yang bukan orang Jawa dan tidak terlalu mengenal budaya Jawa, ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan langgam Jawa tashawwur yang ada dipikiran saya adalah sinden, saya tidak tahu apakah hal ini juga berlaku bagi teman-teman yang asli Jawa dan sangat mengenal budaya Jawa. Saking saya ingin mengetahuinya apakah langgam Jawa juga mempunyai banyak variasi seperti maqamat syarqiah, saya coba buka-buka Youtube. Setelah sekitar tujuh sinden berbeda saya dengarkan, saya dengarkan lagi bacaan Al-Qur’an langgam Jawa di Istana Negara, dan saya bandingkan, teryata di telinga saya tetap sama, tak ada beda antara irama yang digunakan Pak Yasser dengan Sinden. Mungkin ditelinga saya saja kali ya, telinga yang jarang mendengar sinden.

Dari karena itu kepada teman-teman yang bertanya kepada para masyaikh kemarin, untuk memahamkan kepada Beliau tashwirul masalah yang sesuai dengan apa yang terjadi di Indonesia sekarang, coba tanyakan seperti ini “Syeikh Apa hukumnya membaca Surah ” Wassyamsi wa duhaha” dengan maqam rast versi Ummi Kultsum di lagu “Gannini” atau surah “Wallaili iza yaghsya” dengan maqam Ajam/Jiharkah versi Gannat di lagu “Hubbi Gamid”?”. Jika di Mesir ada qari yang membaca Al-Qur’an dengan dua variasi di atas dalam acara resmi Negara, saya yakin Mesir tidak akan kalah ribut dari kita sekarang, bahkan mungkin lebih geger.
***

Semoga pemerintah kita bisa lebih matang dalam memilah-milih hal baru apa saja yang tidak bikin gaduh masyarakat. Jika saja tempat kejadian langgam ini di keraton Jogja atau di keraton Solo mungkin tidak akan seheboh ini. Tapi karena berhubung kasus ini terjadinya di Istana Negara, akhirnya pembicaraan menjadi panjang. Suka atau tidak suka kita harus mengakui bahwa keributan akhir-akhir ini bukan hanya karena permasalahan agama, bukan hanya karena urusan halal dan haram. Sentimen politik, Suku, Sosial, Tradisi turut ambil bagian dalam melanggengkan keributan ini, baik bagi kubu yang pro ataupun kontra.

Sekian beberapa catatan dari saya, mohon maaf jika ada khilaf. Semoga catatan ini bisa menjadi pendingin dunia persilatan, bukan malah menjadi kayu bakar di tengar kobaran api. Walau pendapat kita dalam kasus ini berbeda-beda. Semoga kita tetap rukun, tetap menjaga silaturrahmi, tetap bersaudara sebagai Umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

http://www.fimadani.com/7-penjelasan-yang-mencerahkan-tentang-al-quran-langgam-jawa

Selasa, 12 Mei 2015

226: Daun Kecibatu

Mencari Daun Kecibatu ke Gunung Lawu
Intermeso 226

Daun kecibeling (strobilanthes crispus) tentu kita sudah paham, jika disedu dengan air dan diminum, bisa mengobati penyakit batu kemih dan batu ginjal.

Konon, daun kecibeling jika dicampur dengan air cucian, piring dan gelas yang dicuci bisa pecah berkeping-keping, karena proses kimiawi, saya sendiri belum pernah mencobanya.

Daun kecibatu lain lagi. Jika dicampur dengan air dan disiramkan ke atas batu, maka batu itu bisa terbelah-belah.

Ada sebuah pesantren sedang menggali sumur bor, tetapi sudah beberapa hari hasilnya sedikit sekali, bisa jadi lobang sumur itu ada batunya. Untuk itu perlu dicari solusi.

Ada informasi kehebatan daun kecibatu tadi. Maka diutuslah seorang santri untuk mencari daun itu di puncak Gunung Lawu.

Pagi-pagi sekali santri itu berangkat, sore menjelang malam baru sampai pada lokasi yang dituju.

Untuk mendapatkan informasi tentang daun kecibatu, bertanyalah kepada orang-orang tua. Dan memang ada tumbuhan yang dimaksud di daerah itu.

Karena sudah malam, dengan obor tumbuhan itu bisa terlihat.

Ada tumbuhan di sela-sela batu. Seakan-akan batu itu terbelah dan pecah karena dorongan tumbuhan tadi. Itulah pohon kecibatu.

Setelah memetik beberapa tangkai, pada malam itu juga santri itu kembali ke pesantren dengan perasaan harap-harap cemas.

Paginya, untaian daun kecibatu tadi diserahkan kepada penaggung jawab sumur bor, dan dicoba.

Daun tadi ditumbuk dan dicampur air, kemudian dimasukkan ke dalam lobang sumur bor.

Hasilnya bagaimana?

Ternyata hasilnya tidak ada. Bor yang kandas di lobang sumur itu masih kandas juga.

Memang, ikhtiar itu hukumnya wajib, tetapi berhasilnya tidak wajib.

Santri tadi juga tidak merasa bersalah, karena petunnjuk dan prosedur sudah dilalui dengan benar. Daun yang dimaksud juga berhasil ditemukan dan di bawa serta.

Jika daun kecibatu tidak bisa memecah batu?, wallahu a'alam.

Senin, 27 April 2015

225: Dari Ulujami ke Ulu Camii

Dari Ulujami ke Ulu Camii
Intermeso 225

Ulujami nama sebuah kelurahan di Jakarta Selatan. Di sana berdiri balai pendidikan pondok pesantren dengan sejumlah unit pendidikan.

Pada awal tahun 1980-an, saya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Kementerian Agama utusan pesantren di Ulujami.

Para pejabat kementerian pada saat itu, mendengar nama Ulujami, seperti nama yang aneh, bahkan sering diplesetkan nenjadi Ulul Azmi. Terkadang ditambah juga do'a, "Semoga warganya mempunyai sifat-sifat para Rosul-Ulul Azmi.

Pada tahun ini para pimpinan pesantren yang berpusat di Ulujami, mengadakan kunjungan kerja sama ke Turki dan Qatar.

Rombongan sempat mengunjungi Ulu Camii di Adana.

Ulu Camii, ulu artinya tinggi dan camii berarti masjid.

Ulu Camii adalah masjid terbesar dan bersejarah di Bursa. Masjid ini dibangun pada masa Ottoman zaman Sultan Beyazid I pada tahun 1396.

Masjid ini dibangun selama tiga tahun oleh arsitek Ali Neccar.

Masjid ini diapit oleh dua menara tinggi. Di dalamnya terdapat air mancur (sadirvan) yang disediakan untuk berwudlu, yang terletak di tengah bangunan masjid.

Di dalam masjid terdapat 192 kaligrafi yang terkenal pada masa Kesultanan Ottoman yang menghiasi dinding dan langit-langit masjid.