Panitia kurban, selain membagikan daging kurban juga membagikan bingkisan, terutama untuk anak yatim dan miskin yg masih sekolah.
Sekitar jam 11, pemotongan dan pembungkusan daging sudah selesai, dan panitia sudah memegang daftar nama para mustahik yang dihimpun dari RT-RT sekitar. Maka dipanggillah satu per-satu.
"Si A dari RT sekian!", maka yg dipanggil maju dengan menyerahkan kupon dan ditukar dengan bungkusan dan bingkisan. "Si B", juga demikian dan seterusnya, dan sampailah pada Si Fulan dari RT sekian.
Adalah Si Fulan sudah dipanggil beberapa kali, tetapi tidak juga datang, menyahut pun tidak. Ternyata Si Fulan malu, karena sudah jadi ustadz Darunnajah dan saat itu bertugas sebagai panitia kurban.
Apakah Pak RT tidak meng-update data yatim? Apakah kalau sudah tamat SLTA juga masih yatim?
Sungguh kasihan, yg punya nama malu dan ngumpet di belakang panggung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar