Kamis, 25 Oktober 2012

Intermeso 27: Sakit Perut Berjamaah



  Tahun 1984, Idul Qurban dan hari Tasyriq, sekolah diliburkan. 
    Atas prakarsa panitia kurban (bukan kurban panitia), pad hari Tasyriq guru-guru mengadakan rihlah ke Ciamis, ke kampung salah seorang guru Darunnajah.          
Guru-guru yang berjumlah 21 orang itu naik dua mobil, satu mobil Hi Ace milik Darunnajah, satu lagi mobil sewa.
    Baru saja mobil memasuki wilayah Tugu, di atas Ciawi, brebet-brebet mobil mogok tidak bisa menanjak. Maklum mobil sewaan membeli bensin eceran, bensin campur, campur air. Setelah sarangan (filter) dibuka, air dibuang, mobil jalan lagi.
    Sampai di Nagrek, istirahat sejenak. Di seberang Masjid "Fa-aina Tadzhabun" rombongan makan siang. Enak juga ikan mas dengan sambal dan lalapan.
    Setelah melalui jalan yang panjang, melalui perkebunan kakao (cokelat), menjelang Maghrib kami sampai di tempat tujuan. Rumahnya besar, di samping masjid, halamannya asri, ditanami rumput jepang. Pemilik rumah ialah Pak Haji yang tokoh masyarakat setempat.
    Ternyata malam itu ada pengajian akbar, penceramahnya ulama' dari Jakarta 
    Menjelang salat Isya', ada pengumuman melalui pengeras suara, bahwa, "Penceramah, ulama' dari Jakarta sudah hadir di tengah-tengah kita".
    Siapa ulama' dari Jakarta? Kami juga bertanya-tanya. Di antara kami juga tidak ada yg menjadi anggota MUI, baik pusat maupun kelurahan.
    Ba'da salat Isya' diumumkan lagi. Masyarakat berbondong-bondong untuk menghadiri pengajian akbar, mereka memasuki masjid, yg lain di halaman dan di jalan.
    Yang dimaksud ulama' Jakarta mungkin guru-guru Darunnajah. Kebetulan di antara kami ada yg sudah terbiasa mengisi khutbah Jumat.
    Malam itu memang ada pengajian akbar dengan penceramah salah seorang rombongan kami. Masyarakat puas, semoga tidak ada yg kecewa.
    Malam hari kami tidur  dibagi-bagi, terpisah  di beberapa kerabat tuan rumah, mengingatkan kita dg peristiwa hijrah, semua kerabat ingin menampung kami.
    Entah karena apa, dini hari antara pk 01.00-03.00 kami terbangun karena sakit perut. Semuanya sakit perut dan mencari kamar mandi.
    Untung saja di Ciamis banyak empang, hanya saja kami tidak tahu di mana letak empangnya, karena kami datang sudah menjelang malam. Lagi pula, malam 12 Dzulhijjah sang rembulan sudah tenggelam di langit barat.
    Menjelang Subuh, secara otomatis kami berkumpul lagi di tempat tuan rumah, semuanya diam sambil memegangi perut masing-masing, seakan sudah paham apa yg telah terjadi.
      Kami tidak tahu penyebabnya, mungkin terlalu banyak makan sambal di Nagrek atau terlalu banyak makan daging kurban di hari Tasyrik. Atau mungkin kedua-duanya. Atau mungkin terkena virus "aji mumpung" (pinjam istilah politik Zaman Reformasi), makan di warung mumpung ada panitia; makan daging sebanyak-banyaknya, mumpung ada, konon sampai habis Tasyrik, daging belum habis; memang beda denga beli sendiri.
    Pagi itu ada yang nyeletuk, "Ulama' Jakarta kok sakit perut semuanya!". Mudah-mudahan tuan rumah dan pengunjung pengajian akbar tidak ada yang tahu masalah ini.
    Setelah makan pagi dengan agak malas, takut terjadi lagi, perjalanan dilanjutkan, meskipun badan agak lemas. 
    Mengunjungi pesantren mertua di desa sebelah. Untung saja rencana pertandingan sepak bola persahabatan ditiadakan. Seandainya dilaksanakan, bisa kebobolan 0-15, karena kami tidak pernah latihan dan baru saja kena "musibah". Bisa jadi ada komentar, "Ulama' Jakarta kok kalah main bola, padahal rumahnya dekat Senayan"
    Mengunjungi Situs Karangmulyan; peninggalan Raja Galuh, raja sebelum Pajajaran; Sungai Citanduy tempat dihanyutkan bayi Ciung Wanara, tempat sabung ayam Ciung Wanara dg ayam raja, dan bekas2 Kerajaan Galuh lainnya.
      Perjalanan menuju pulang, mampir dulu di Pantai Batu Hiu dan Pantai Pangandaran.
      Melewati Bandung Selatan saat malam hari, mengingatkan kami pada sebuah lagu, "Bandung Selatan di Waktu Malam".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar