Mungkin Antum masih ingat, waktu kita
belajar tahsinul qira'ah di Gedung SD
Darunnajah, tahun 2007. Saat itu seorang tutor sedang menjelaskan tentang Qira'ah Sab'ah dan ada peserta yg
bertanya, "Bagaimana hukumnya orang membaca Al Quran semacam, 'al kamdu lillahi robbil ngalamin..'"
Maka tutor menjawab, "Qira'ah sab'ah adalah logat-logat bacaan yg ada di sekitar Arab pada saat itu. Logat-logat itu disampaikan kepada Nabi dan di-iyakan, sehingag pada saat ini ada tujuh imam qira'ah, 14 perawi dan thariqahnya lebih banyak lagi."
"Al kamdulillahi robbil ngalamin.. itu qira'ahnya Ken Arok dan Ken Dedes, sedangkan Ken Arok dan Ken Dedes belum pernah bertemu Nabi untuk menyampaikan qira'ahnya."
Itu logika yg disampaikan pada saat itu. Memang dimensi waktunya jauh berbeda, Muhammad menjadi Nabi pada tahun 611 sedangkan Ken Arok menjadi raja pada tahun 1222 dan pada saat itu masih Hindu.
Pernah hal itu saya tanyakan ke doktor qira'ah, Ust Abu 'Alim Muhammad Dzunnuroyn via SMS, jawabnya: "Selama dia belajar dari gurunya begitu shah2 saja. Kalau ia mengerti ada guru yg mengajar lebih fashih dan ia berkesempatan belajar harus belajar, kalau tdk belajar berdosa. Kalau sudah belajar, lidahny tdk bisa sdh kaku tdk papa, yg penting belajar terus! Batu saja bisa legok (cekung) kena tetesan air?"
Maka tutor menjawab, "Qira'ah sab'ah adalah logat-logat bacaan yg ada di sekitar Arab pada saat itu. Logat-logat itu disampaikan kepada Nabi dan di-iyakan, sehingag pada saat ini ada tujuh imam qira'ah, 14 perawi dan thariqahnya lebih banyak lagi."
"Al kamdulillahi robbil ngalamin.. itu qira'ahnya Ken Arok dan Ken Dedes, sedangkan Ken Arok dan Ken Dedes belum pernah bertemu Nabi untuk menyampaikan qira'ahnya."
Itu logika yg disampaikan pada saat itu. Memang dimensi waktunya jauh berbeda, Muhammad menjadi Nabi pada tahun 611 sedangkan Ken Arok menjadi raja pada tahun 1222 dan pada saat itu masih Hindu.
Pernah hal itu saya tanyakan ke doktor qira'ah, Ust Abu 'Alim Muhammad Dzunnuroyn via SMS, jawabnya: "Selama dia belajar dari gurunya begitu shah2 saja. Kalau ia mengerti ada guru yg mengajar lebih fashih dan ia berkesempatan belajar harus belajar, kalau tdk belajar berdosa. Kalau sudah belajar, lidahny tdk bisa sdh kaku tdk papa, yg penting belajar terus! Batu saja bisa legok (cekung) kena tetesan air?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar