Selasa, 08 Juli 2014

Syekh Madinah dan Polisi Cepek

   
Pesantren Darunnajah kembali mengadakan dauroh (penataran) Bahasa Arab dan muqobalah (seleksi masuk Universitas Islam Madinah), 27 Juni sampai 12 Juli 2012.

Dauroh guru bahasa Arab dan Imam masjid dan Khotib ini merupakan dauroh ketiga yang diselenggarakan bekerjasama dengan Universitas Islam Madinah.
   
Meskipun dauroh baru akan dimulai 27 Juni, sejak 21 Juni sudah ada seorang syekh yang tinggal di Darunnajah.
   
Pada suatu sore syekh minta diantar ke toko swalayan, maka dua orang ustadz mendampinginya menuju Carrefour Lebakbulus.
   
Jalan menuju Lebakbulus memang agak macet, di pertigaan rel kereta api Bintaro, ada “Polisi Cepek” yang sedang mengatur lalu-lintas. Bagi kita, itu pemandangan biasa sehari-hari, tetapi bagi Syekh  merupakan pengalaman baru, di negerinya bisa jadi tidak ada pekerja seperti ini. 
   
"Ini polisi apa bukan?, kok tidak pakai seragam". Kira2 demikian yang ada dalam fikiran Syekh. 
   
Pekerja seperti itu banyak terdapat di perempatan Jakarta. Disebut “Polisi Cepek”, atau juga disebut “Pak Ogah”. 
   
Maka Syekh bertanya, "Hal huwa syarthiyyun?" (Apakah dia polisi?), dijawab, "La, laisa huwa syarthiyyan!" (Bukan, dia bukan polisi!) 
   
Syekh bertanya lagi, "Huwa, mutathowwi'?" (Apakah dia sukarelawan). Maka dijawab, "Na'am!".
   
Sebenarnya akan dijawab "Itu Polisi Cepek", atau "Pak Ogah", cuma apa ya, bahasa Arabnya?
   
Itu kan istilah lokal, jangan-jangan belum masuk kamus bahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar