Pesantren Darunnajah kembali mengadakan dauroh (penataran) Bahasa
Arab dan muqobalah (seleksi masuk Universitas Islam Madinah), 27 Juni
sampai 12 Juli 2012.
Dauroh guru bahasa
Arab dan Imam masjid dan Khotib ini merupakan dauroh ketiga yang
diselenggarakan bekerjasama dengan Universitas Islam Madinah.
Meskipun dauroh baru akan dimulai 27 Juni, sejak 21 Juni sudah ada seorang
syekh yang tinggal di Darunnajah.
Pada suatu sore syekh minta diantar ke toko swalayan, maka dua orang ustadz
mendampinginya menuju Carrefour Lebakbulus.
Jalan menuju Lebakbulus memang agak macet, di pertigaan rel kereta api
Bintaro, ada “Polisi Cepek” yang sedang mengatur lalu-lintas. Bagi kita, itu
pemandangan biasa sehari-hari, tetapi bagi Syekh merupakan pengalaman
baru, di negerinya bisa jadi tidak ada pekerja seperti ini.
"Ini polisi apa bukan?, kok tidak pakai seragam". Kira2 demikian yang ada dalam fikiran
Syekh.
Pekerja seperti itu banyak terdapat di perempatan Jakarta. Disebut “Polisi Cepek”, atau juga disebut
“Pak Ogah”.
Maka Syekh bertanya, "Hal huwa syarthiyyun?" (Apakah dia polisi?), dijawab, "La,
laisa huwa syarthiyyan!" (Bukan, dia bukan polisi!)
Syekh bertanya lagi, "Huwa, mutathowwi'?" (Apakah dia
sukarelawan). Maka dijawab, "Na'am!".
Sebenarnya akan dijawab "Itu Polisi Cepek", atau "Pak
Ogah", cuma apa ya, bahasa Arabnya?
Itu kan istilah lokal, jangan-jangan belum masuk kamus bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar