Belajar Amtsilati ke Jepara
Intermeso 79: Belajar Amtsilati ke Jepara
Kabupaten Jepara bukan hanya
dikenal ukirannya, di Kecamatan Bangsri ada Pesantren Darul Falah yg dikenal
metode Amtsilati-nya, dan sering disingkat DAFA, Darul Falah Amtsilati. Yayasan
yang menaunginya bernama Yayasan Darul Falah Amtsilati.
Amtsilati adalah metode cepat belajar
menerjemahkan Al Quran dan bahasa Arab yg diciptakan K.H. Taufiqul Hakim. Ia terinspirasi Qiro'ati sebagai metode cepat belajar
membaca Al Quran.
K.H. Taufiq meringkas nadhom Alfiah yg jumlahnya
seribu itu menjadi 184 nadhom saja.
Belajar Alfiah yg umumnya memakan waktu 4-7
tahun itu bisa dipersingkat denga metode Amtsilati menjadi 6 bulan saja, itupun
bagi pemula. Bagi yg pernah belajar Nahwul Wadhih, Jurumiah, atau nadhom
Imrithi, tentu bisa lebih cepat lagi.
Rupanya metode Amtsilati ini meringankan qoidah
dan memperbanyak contoh, pantas kalau namanya Amtsilati yang artinya contoh-contohku.
Contohnya banyak diambil dari potongan ayat-ayat Al
Quran yg setiap hari sering kita dengar dan kita ucapkan.
Berbeda dengan Jurumiah yang memperkuat qoidah dan
sedikit contoh. Contohnya tidak jauh dari kata-kata Zaidun dan 'Amron.
Anak saya yang alumni Darunnajah, kulianya lagi
libur satu bulan. Dari pada waktunya kosong, ia tertarik dengan cerita temannya yang
alumni Darunnajah juga. Temannya itu sudah lebih dahulu belajar Amtsilati
bahkan sudah mengajar di sana.
Pada sore hari kemerdekaan RI yg ke-69 itu, mereka
berangkat menumpang bus exekutif menuju kota kelahiran RA Kartini. Setelah satu
hari di sana ia menelpon, bercerita tentang "sowan" ke kiai, cara
hidup di pesantren, dan cara belajar.
Semula ia mengambil program satu bulan, ternyata
baru dua minggu ia menelpon dan sudah akan pulang, saya tanya,
"Kenapa?" Katanya, lima jilid kitab Amtsilati sudah ia selesaikan,
selanjutnya tinggal belajar contoh-contoh saja.
Saya heran, kenapa begitu cepat, mungkin karena
di kelas dua TMI Darunnajah sudah belajar Nahwul Wadhih yang juga banyak
contohnya.
Akhirnya pulang juga. Selembar
sertifikat sudah ia pegang, lengkap dengan nama dan fotonya. Yang pasti
ditandatangani pimpinan pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, K.H. Taufiqul
Hakim.
Semoga hal ini akan menambah kemampuan berbahasa
Arab, di samping bahasa Inggris yang menjadi bahasa resmi di kampusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar