Sabtu, 06 September 2014

Belajar Amtsilati ke Jepara

Intermeso 79: Belajar Amtsilati ke Jepara

 


Kabupaten Jepara bukan hanya dikenal ukirannya, di Kecamatan Bangsri ada Pesantren Darul Falah yg dikenal metode Amtsilati-nya, dan sering disingkat DAFA, Darul Falah Amtsilati. Yayasan yang menaunginya bernama Yayasan Darul Falah Amtsilati.

Amtsilati adalah metode cepat belajar menerjemahkan Al Quran dan bahasa Arab yg diciptakan K.H. Taufiqul Hakim.
Ia terinspirasi Qiro'ati sebagai metode cepat belajar membaca Al Quran.
  
K.H. Taufiq meringkas nadhom Alfiah yg jumlahnya seribu itu menjadi 184 nadhom saja. 

Belajar Alfiah yg umumnya memakan waktu 4-7 tahun itu bisa dipersingkat denga metode Amtsilati menjadi 6 bulan saja, itupun bagi pemula. Bagi yg pernah belajar Nahwul Wadhih, Jurumiah, atau nadhom Imrithi, tentu bisa lebih cepat lagi.

Rupanya metode Amtsilati ini meringankan qoidah dan memperbanyak contoh, pantas kalau namanya Amtsilati yang artinya contoh-contohku. 

Contohnya banyak diambil dari potongan ayat-ayat Al Quran yg setiap hari sering kita dengar dan kita ucapkan.

Berbeda dengan Jurumiah yang memperkuat qoidah dan sedikit contoh. Contohnya tidak jauh dari kata-kata Zaidun dan 'Amron. 

Anak saya yang alumni Darunnajah, kulianya lagi libur satu bulan. Dari pada waktunya kosong, ia tertarik dengan cerita temannya yang alumni Darunnajah juga. Temannya itu sudah lebih dahulu belajar Amtsilati bahkan sudah mengajar di sana.

Pada sore hari kemerdekaan RI yg ke-69 itu, mereka berangkat menumpang bus exekutif menuju kota kelahiran RA Kartini. Setelah satu hari di sana ia menelpon, bercerita tentang "sowan" ke kiai, cara hidup di pesantren, dan cara belajar.

Semula ia mengambil program satu bulan, ternyata baru dua minggu ia menelpon dan sudah akan pulang, saya tanya, "Kenapa?" Katanya, lima jilid kitab Amtsilati sudah ia selesaikan, selanjutnya tinggal belajar contoh-contoh saja.

Saya heran, kenapa begitu cepat, mungkin karena di kelas dua TMI Darunnajah sudah belajar Nahwul Wadhih yang juga banyak contohnya.

Akhirnya pulang juga. Selembar sertifikat sudah ia pegang, lengkap dengan nama dan fotonya. Yang pasti ditandatangani pimpinan pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, K.H. Taufiqul Hakim.

Semoga hal ini akan menambah kemampuan berbahasa Arab, di samping bahasa Inggris yang menjadi bahasa resmi di kampusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar