Intermeso 80: Sopir Taxi dan Malaikat
Kalau Garut dikenal sebagai Kota
Dodol, Kudus populer dg sebutan Kota Jenang. Tetapi kudus juga terkenal dg
pesantren tahfizh-nya.
Pada suatu hari, saya numpang
taxi, untuk mencairkan suasana saya bertanya kepada sopir, "Pak poolnya di
mana?" dan juga asal sopir, "Pak, asalnya dari mana?", pak sopir
menjawab, "Kudus".
"Wah, saya punya teman
tahfizh dari Kudus, di sana ada pesantren tahfizh ya Pak?". "Ada,
Pesantren mBah Arwani," jawabnya.
"Mbah Arwani bagus,
tahfizh-nya bagus, qiro'ahnya bagus, tilawah-nya juga bagus", lanjutnya.
Rupanya sopir ini santri juga,
gumam saya dalam hati. "Teman saya
itu mungkin santrinya mBah Arwani, sekarang imam di Darunnajah", lanjut
saya.
"Darunnajah berapa
santrinya?", tanya pak sopir. "Dua ribu lima ratus!". Jawab
saya.
"Wah, kalau yg jama'ah 40 orang ada satu malaikat yg turun, kalau 2500, berapa yg turun?" Lanjut pak sopir.
Tanpa menjawab dan menghitung pakai kalkulator, saya
berfikir dan merenung sendiri. "Kalau saya salat sendirian di kamar,
berapa malaikat yg turun?"
"Wah, kalau yg jama'ah 40 orang ada satu malaikat yg turun, kalau 2500, berapa yg turun?" Lanjut pak sopir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar