Jumat, 03 Oktober 2014

Shalat Menghadap Dua Arah

Shalat Menghadap Dua Arah

Intermeso 85

Dalam rangka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (P2SN) ke-3 dan Reuni Alumni Darunnajah Kepulauan Riau di Batam, awal Juli 2012 lalu, ada beberapa guru Darunnajah yang hadir pada dua acara itu. Di antara mereka ada pula beberapa orang yang menyeberang ke Singapura. 
           
Di Negeri patung Singa itu, mereka makan siang di restoran. Sambil menunggu makanan dihidangkan,  salah seorang di antara mereka ada yang mencari mushalla. Singkat cerita, tanpa banyak bertanya dan menanyakan arah kiblat, maka shalatlah dia sendirian. 
           
Di tengah-tengah shalat, ketika sedang sujud, dia melihat tanda panah arah kiblat di lantai, ternyata dia salah menghadap. Maka berputarlah dia 180 derajat menyesuaikan arah panah dan terus melanjutkan salatnya. 

Untung saja salatnya sendirian, seandainya berjamaah bisa jadi imamnya menjadi ma'mum.
           
Mungkin teman kita itu, terinspirasi cerita Masjid Bani Salamah. 
                   
 ***    
           
Saat itu ummat Islam salatnya masih menghadap ke Baitul Maqdis (Palestina). 

Pada tahun 2 H, hari Senin bulan Rajab, saat Rasulullah sedang salat Dhuhur, di Masjid Bani Salamah, tiba-tiba turun wahyu surat Al Baqarah ayat 144, maka Rasulullah menghentikan salatnya sementara dan melanjutkan kembali dengan mengalihkan arah menghadap ke Masjidil Haram. 
           
Maka sejak itu, Masjid Bani Salamah disebut juga Masjid Qiblatain.
                     
***
           
Ini dua masalah yang berbeda, yang pertama karena kesalahan, yang kedua karena wahyu. Apakah kasus yang pertama sah salatnya?
                   

Kata teman saya, kalau salatnya diulang, takut ditinggal teman-temannya, khawatir menjadi temannya Patung Merlion*).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar