Selasa, 13 Maret 2012
Intermeso 8: Para Perawi Hadits
Seperti tahun lalu, peserta piket Syawal terdiri atas beberapa komponen; Tim-19, guru TMI, guru SD, guru TK, guru baru, mahasiswa baru, Ashabunnajah baru, dan karyawan.
Untuk karyawan juga terdiri atas beberapa komponen, di antaranya dari dapur ada tiga orang.
Yang dari dapur, secara kebetulan namanya bagus-bagus: Imam Bukhori, Muslim, dan Tarmudi (mungkin maksudnya Turmudzi). Namun para pembaca jangan salah, mereka itu bukan para perawi Hadits, tetapi mereka itu punya keahlian khusus yaitu memasak nasi.
Ada yg tanya ke kepala Biro Rumah Tangga, “Kenapa nama-nama yg bagus itu ditempatkan di tempat yg sama?”. Ada juga nama-nama yang sama: Khairuddin, jumlahnya ada tiga orang, semuanya ditempatkan di Satpam.
Intermeso 7: Menjadi Anak Saleh
Setelah ngobrol ngalor-ngidul, menanyakan berbagai hal; kapan lahir, berapa berat badan, dsb, dan tentu saja setelah minum dan makan kue, kami permisi pulang sambil mendo'akan, "Semoga menjadi anak saleh".
Selama dalam perjalanan pulang, di antara teman kami ada yg nyeletuk, "Sebenarnya tadi tidak usah didoakan menjadi anak saleh, pasti menjadi anak saleh"
"Kenapa?" tanya saya.
"Karena orang bapaknya bernama Saleh"
Mohon maaf, jika ada persamaan nama, itu hanya kebetulan saja.
Senin, 12 Maret 2012
Pohon Sawo di Depan Masjid
Untuk meluruskan shaf shalat, biasanya imam mengingatkan jama'ah dg kalimat, "Sawwuu, shufufakum fainna taswiyatasshufufi min tamamis shalah!".
"Shawwo, shawwo!", maka tidak aneh kalau di Jawa Timur, di depan masjid biasanya ditanam pohon "sawo".
Maksudnya disuruh lurus, bukan disuruh tanam pohon sawo. Di depan Masjidil Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah) saja tidak ditanam pohon sawo.
Khatib di Balik Kelambu
Khotib di Balik Kelambu
Interneso 5
Pada tahun 2006, kami mengunjungi Pulau Tidore.
Sore itu kami mengelili pulau yang tidak terlalu besar. Pulau yang dijuluki Seribu Masjid itu memang banyak masjidnya. Di sepanjang pantai banyak berdiri masjid dengan bebagai gaya arsitekturnya.
Menjelang waktu Maghrib, orang-orang berhamburan menuju masjid. Sehingga sepanjang jalan aspal yang terlihat adalah jama'ah yang menuju masjid. Yang putra berbaju koko, yang putri bermukena.
Di Pulau Tidore ada masjid bagus, ma'af namanya lupa. Mimbar tempat berkhutbah ditutup kelambu, sehingga saat khatib berkhutbah tidak kelihatan orangnya.
Kenapa demikian? Konon melaksanakan pepatah yg mengatakan "Unzhur ma qal, wa la tanzhur manqal" (Lihatlah perkataannya, jangan melihat yg berkata).
Dari pada sulit melarang orang untuk melihat khatib, lebih praktis yg berkhutbah saja yang ditutup kelambu.
Minggu, 11 Maret 2012
Intermeso 4: Masjid atau Lapangan
Maka pada pagi-pagi buta ada yg sengaja menyiram masjid supaya semua warga shalat di lapangan.
Ternyata pada hari itu cuaca tidak mendukung, pagi itu hujan lebat. Maka, kedua aliran itu tidak shalat Ied.
Cerita dari teman saya lebih seru lagi. Supaya tidak salat di lapangan, maka seminggu sebelum lebaran, lapangan itu dijadikan tempat menggembala kerbau, yg menjadikan lapangan itu penuh dengan "bintang lapangan" (ma'af kotoran binatang), sehingga semua orang akan shalat Ied di masjid.
Haram Merokok
Intermeso 3; Haram Merokok
Di kota Suci Mekah dan Madinah, istilah haram lazim dipakai untuk menyebut Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
Menjelang waktu salat, orang-orang berduyun-duyun pergi ke masjid, mobil umum juga menawarkan jasa angkutan ke masjid dengan teriakan khasnya "Haram!, haram!"
Adalah seorang jama'ah berjalan kaki menuju masjid sambil merokok. Maka lewatlah mobil umum dg kernetnya teriak2, "Haram!, haram!" sambil tangannya menunjuk ke arah orang itu, maka dibuanglah rokok yang sedang diisap di mulutnya.
Disangkanya "haram" (dilarang) merokok, tahunya ditawari ke "haram" (masjid).
Sabtu, 17 Desember 2011
Sopir Metro Mini
Sopir Metro Mini
Intermeso 2
Pada tahun 1980-an (persisnya saya lupa), saya jalan-jalan dengan seorang teman. Teman saya itu sedang semangat belajar bahasa Arab, apa saja yang dilihat dikomentarinya dengan bahasa Arab.
Ketika kami pulang ke pondok, kami naik Metro Mini 69 jurusan Blok M-Cileduk, kami duduk di kursi di belakang sopir. Sang sopir memakai kacamata hitam besar. Teman saya berkomentar dalam bahasa Arab, "Hadza sa'iq mindhoruhu qobih". (Sopir ini kacamatanya jelek).
Rupanya sopir itu mendengar dan menimpali, "Bisa bahasa Arab ya, Dik? Saya juga pernah bekerja di Arab 4 tahun"