Intermeso 63: Dari Ulujami menuju
Beijing (Bagian-2)
Jalan menuju Beijing tidak selamanya mulus seperti yang ia
bayangkan. Sebagai mahasiswa tentu harus izin ke fakultasnya, tapi ini
mahasiswa baru, saat itu masuk kuliah saja, belum.
Waktu acara propesa ia akan menghadap rektor,
tapi tidak diizinkan, karena rektor sedang sibuk, maka surat permohonan izin dan proposal dititipkan
ke staf, jawaban sementara, "Kemungkinan pesimis, karena masih mahasiswa
baru". Memang, untuk mengajukan cuti ada syarat-syaratnya, minimal
semester sekian, IP-nya minimal sekian.
Atas petunjuk teman-teman, pada hari berikutnya
kami coba menghadap wakil rektor bidang akademik, alhamdulillah diterima
setelah menunggu beberapa menit.
Setelah mengemukakan maksud saya, wakil rektor
bertanya, "Berapa kali kuliah akan ditinggalkan?". Kegiatan yang
memakan waktu setengah bulan ini, hanya meninggalkan bangku kuliah dua kali.
Wakil rektor hanya berujar, "Kalau waktu kuliah yg ditinggalkan tidak ada
20 persen, tidak ada masalah, tetapi kalau lebih 20 persen, harus
memilih". "Memang hidup kadang-kadang harus memilih, pilih ke luar
negeri tetapi hilang satu semester, atau tetap kuliah tetapi tidak keluar
negeri?. Bagus kalau kedua-duanya dapat berjalan". Artinya, diizinkan,
tinggal teknis pemberitahuan kepada dosen yg bersangkutan.
Dengan rasa senang kami pulang.
***
Kegiatan berikutnya adalah pengarahan,
pembinaan, dan persiapan yg diselenggarakan oleh Dinas Olah Raga dan Pemuda
(Disorda) DKI Jakarta setiap Sabtu dan Ahad. Kegiatan pembinaan antara lain
membuat makalah dan diskusi, makalah-makalah yang ia buat judul-judulnya
sudah ditentukan, antara lain:
"Jakarta:
Youth and Entrepreneurship" dan "Youth: Nationalism and Leadership in
Jakarta.
Di antara makalah ada yg dibuat setelah
kunjungan ke Musium Nasional, "Jakarta:
Youth Social and Culture Life". Ada juga makalah bebas, judulnya tidak
ditentukan, ia memberi judul, "The Role of Al-Quran for Youth as An
Application for Creating High-Quality Human Resources in City Development"
(Peran Al-Quran untuk Pemuda sebagai Aplikasi untuk Membina Sumber Daya Manusia
Berkualitas Tinggi dalam Pembangunan Kota).
Dari sini cerita dimulai. Makalah itu banyak
membahas pemuda dengan ayat-ayat Al Quran, seperti, "Allah tdk akan
merubah nasib suatu Bangsa sehingga Bangsa itu merubah nasibnya sendiri".
Ternyata diskusi menjadi panas dan ada yang mengomentari makalah itu berbau
SARA.
Selesai diskusi, makalah itu menyita fikiran,
sampai berfikiran negatif takut didiskualifikasi. Saya katakan, "Ini bukan
SARA!, kalau mengatakan agama lain itu jelek, itu SARA". "Tetapi
kalau menunjukkan bahwa Al Quran itu mendukung perubahan, menumbuhkan jiwa
optimis, itu bukan SARA".
Untuk mengerjakan tugas dan membuat
laporan, peserta disarankan membawa laptop. Pembaca tentu paham, untuk membawa
laptop ke luar negeri, barang dan program harus orisinil (asli),
sewaktu-waktu bisa diperiksa oleh yang berwajib, jika kedapatan membawa
program bajakan bisa didenda 60 juta, sedangkan program yang ori harganya bisa
1,5 jutaan.
Terus, bagaimana caranya?
Prugram bajakan sebaiknya dihapus saja, dan
bawalah program yang free alias gratisan, nanti di negara tujuan, yang gratisan
itu di-upload. Atau, download program ori dari situs yg juga
gratisan.
Kalau masih khawatir juga, saat akan pulang
kampung program itu dihapus dulu.
(Bersambung)