Rabu, 25 Juni 2014

Tidak Punya Golok dan Gergaji

Intermeso 71: Tidak Punya Golok dan Gergaji

Tahun 2010 Presiden SBY mendorong revitalisasi Gerakan Pramuka. Pramuka sebagai tempat untuk mencetak generasi muda yang unggul. 
 
Character building dapat dilaksanakan antara lain melalui latihan Pramuka. Banyak hal positif yang diperoleh melalui kegiatan ini.

Pondok Pesantren Darunnajah sejak awal berdirinya sudah menjadikan gerakan Pramuka sebagai pendidikan ekstrakurikuler. Latihan pramuka merupakan kegiatan mingguan yang dilaksanakan sepanjang tahun.

Setiap golongan: Siaga, Penggalang, dan Penegak; sudah terjadwal kegiatan sepanjang tahun, dari kenaikan tingkat sampai perkemahan.

Suatu hari anak-anak santri sedang mempersiapkan perkemahan, mereka mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa, dari kebutuhan individu sampai kebutuhan regunya.

Kami yang tinggal di wilayah asrama putri tentu dapat menyaksikan kesibukan mereka, ada yang memotong bambu dan ada yang mencari perlengkapan lainnya. Ada juga yang datang ke rumah dan mengetuk pintu,
    "Assalamu'alaikum, Ustadzah?!"
    "Wa'alaikum salam, ada perlu apa?"
    Ustadzah punya cobek, pinjam dong buat kemah"
    "Cobeknya sudah dipinjam X"
    Tak lama kemudian, pintu diketok lagi,
    "Assalamu'alaikum, Ustadzah?!"
    "Wa'alaikum salam, ada apa sayang?"
    "Ustadzah punya golok dan gergaji?"
    "Punya, tapi sudah dipinjam Y"
    Jam 22 malam masih ada juga yang mengetuk pintu. 
    Tok tok tok, "Assalamu'alaikum Ustadzah?!"
    "Ada apa?"
    "Ustadzah punya kompor?, pinjam dong?!"
    "Punya, tapi dipakai sendiri."
    "Oh ya, sudah, assalamu'alaikum!?"
    Sampai jam 23, pintu masih diketuk juga. Kami juga merasa terganggu kalau selalu diketuk dan dido'akan "salam sejahtera".

Akhirnya saya buat tulisan besar dan ditempel di pintu: Ustadzah TIDAK PUNYA: COBEK, KOMPOR, GOLOK, GERGAJI.

Ternyata tulisan itu manjur juga. Kalau terdengar langkah-langkah kaki menuju pintu, berhenti dan balik kanan.
   
Pengalaman membuktikan, setiap barang yang dipinjamkan, biasanya tidak kembali, nama peminjamnya juga lupa.
   

Itu cerita masa lalu, sekarang tidak begitu lagi.

Adat Saweran

Intermeso 70: Adat Saweran

Saat prosesi haflatu takharruj berlangsung di Darunnajah 3 Serang, para wisudawan/wisudawati tengah berdiri berderet di panggung menghadap hadirin, seorang ibu maju ke depan melempar beberapa lembar uang kertas.

Kemudian maju lagi seorang ibu melempar beberapa lembar uang ketas dan beberapa keping uang logam. Hal seperti itu diikuti dengan beberapa ibu lainnya maju ke depan dan melempar uang yang diarahkan kepada anaknya.

Kegiatan itu menarik perhatian para hadirin dan diiringi tepuk tangan yang meriah. 

Sebelumnya, pada 5 Juli 2007, pada acara yang sama yang dihadiri ketua MPR, Hidayat Nurwahid, ada seorang ibu yang maju ke panggung, membawa uang yang sudah dirangkai dengan tali yang akan dikalungkan ke putranya.  

Itulah adat sawer, nyawer atau saweran. 


Sebenarnya saweran berasal dari adat Sunda pada upacara pernikahan, yaitu kedua orang tua mempelai melempar kepingan uang logam atau beras kuning kepada pengantin.

Sabtu, 07 Juni 2014

Salah Gembok

Intermeso 69: Salah Gembok

 Berita tentang sepeda motor hilang, membuat pemilik motor was-was, dan mencari cara yang diusahakan supaya motor tidak hilang. Cara yang paling umum adalah dengan kunci ganda.

 Ini kisah teman saya. Pagi itu ia memarkirkan motornya di parkiran yang telah disediakan. Tidak lupa ia mengunci jok, mesin, dan mengunci stang. Masih ada lagi, ia mengambil rantai dan gembok, kemudian memasang rantai pada jeruji  roda belakang dan menguncinya dengan gembok besar. Setelah merasa aman ia meninggalkan motornya menuju tempat tugas seperti biasa.

Siang hari, selesai tugas, ia menuju parkiran untuk mengambil motornya, tetapi ia menemukan gembok yg sudah tergeletak  di samping motornya dalam keadaan rantai terbuka, tapi stang, mesin, dan jok motornya masih terkunci. Ia befikir sejenak, bersyukur motornya masih ada, tidak hilang dan iapun pulang.

 Dalam perjalanan menuju rumah, hatinya masih bertanya-tanya tentang rantai gembok yg telah terbuka.

 Besuknya ia mendapat informasi, yang ia gembok itu ternyata motor temannya yg diparkir di sebelahnya karena memang mirip. 

Tentu saja pemilik motor jadi kebingungan, kenapa motornya digembok? Maka si pemilik motor tadi, mencari tukang untuk menggergaji rantai gembok itu.

Hati-hati memang harus!, tetapi teliti juga perlu.


Rabu, 21 Mei 2014

Kenangan Cipining

Intermeso 68: Kenangan Cipining
   
Darunnajah Cipining bagi saya adalah kenyataan masa kini dan kenangan masa lalu.

Awal tahun 1990-an, pada saat Pesantren Darunnajah 2 masih baru, Pesantren Darunnajah Jakarta setiap Jumat mengirim Pramuka santri kelas 2 Tarbiyatul Mu’allimin/Mu’allimat Al Islamiyah (TMI).  Mereka dikoordinir kakak kelasnya santri kelas 5. Sebagai wali kelasnya  saya mendampingi juga.

Kamis siang, sepulang sekolah mereka berangkat menumpang kereta api dari Stasiun Kebayoran Lama, turun di Stasiun Parung Panjang. 

Dari Parung Panjang mereka menumpang kendaraan yang ada, sampai di Cipining sudah menjelang Maghrib. Malam hari mereka istirahat, pagi hari melaksanakan kegiatan.

Banyak kegiatan yg dilakukan; baris-berbaris, wide game, mengunjungi Gua Gudawang bahkan bertanding sepak bola dg santri setempat.
   
Setelah Ashar mereka pulang. Salat Maghrib di Stasiun Parung Panjang, dan kembali menumpang kereta api dan turun di Stasiun Kebayoran Lama.
   
Semangat mereka masih tinggi, dari Kebayoran Lama mereka jalan kaki sampai Darunnajah.
     

Jumat depannya digilir kelas 2 yang lain.

Syekh Sya'ban Pulang

Intermeso 67: Syekh Sya'ban Pulang

40 hari Syekh Sya'ban Abdul Hamid Al Ma'ali berada di Pesantren Darunnajah.  

Kegiatan Syekh sehari-hari adalah tasji'ul lughah di Darunnajah Pusat dan Cabang-cabang, baik berbicara di depan umum, mengajar di kelas, atau bercakap-cakap dengan ustadz atau santri.

Syekh Sya'ban tinggal di guest hous Dewan Nazir, itu kesempatan baik bagi kami untuk sekedar saling bertegur sapa, "Assalamu'alaikum!, kaifa halukum!?", biasanya Syekh terus pergi, atau duduk di teras. 

Kalau lagi sepi, terkadang Syekh datang, buka pintu kantor yayasan, seraya menyapa, "Assalamu'alaikum!, kaifa halukum!". terus pergi, atau duduk di teras.

Kalau Syekh lagi duduk di teras, kami datang, sekedar menyapa, menawarkan kopi, atau lainnya. Syekh juga menawarka roti yg sedang disantap.

Keistimewaan syekh, dia tidak mau dikasi sesuatu dari seseorang, tetapi dia mau kalau sesuatu itu dari Darunnajah, meskipun masih di-tahkiq juga, "Hadza lana?!", dan masih diulang lagi, "Hadza lana?".

Syekh terbang Senin jam 01.45. Kemarin pagi,  upacara Sabtu, Syekh Sya'ban permisi untuk pulang. Pagi itu memang istimewa, hanya yang bernama Sya'ban yg ditakdirkan berbicara di atas podium. Ust Hasyim Sya'ban, kepala MA Darunnajah yg melepas kepergiannya dan Syekh Sya'ban yg dilepas.


“Selamat jalan, Syekh.”

Keajaiban KMD di Cipining

Intermeso 66: Keajaiban KMD di Cipining

Pesantren Darunnajah 2 yg tahun ini kebanjiran santri sampai 30 persen lebih banyak dari tahun lalu. Sampai dua hari lalu persediaan air di pesantren menipis, tetapi kemarin sore Allah SWT mengirimkan hujan dan sumber2 air mengalir deras. 

Tetapi sebaliknya hari ini tidak turun hujan bahkan sepanjang jalan dari Tangerang sampai Parung Panjang basah kuyup.

Alhadulillah air cukup  dan upacara pembukaan Kursus Mahir tingkat Dasar (KMD) cuaca bagus tidak kehujanan.


Semoga penyelenggaraan KMD ini diridlhoi Allah SWT. Demikian sambutan tuan rumah Pondok Pesantren Darunnajah 2, K.H. Jamhari Abdul Djalal, Lc. di hadapan 535 peserta dari Darunnajah Pusat dan Cabang, para pelatih dari Kwarcab Bogor dan guru2 Darunnajah.

Sabtu, 05 April 2014

Dari Ulujami Menuju Beijing (bagian Empat, Habis)

Intermeso 65: Dari Ulujami Menuju Beijing (bagian 4, habis)
     
Rabu 30 Oktober 2013, pk 02.30 dini hari saya terbangun, saya coba SMS ke nomor HP anak saya, SMS tidak masuk, berarti ia sedang terbang, pikir saya. Saya browsing di internet, penerbangan SQ Beijing-Singapura-Jakarta akan mendarat pk 07.35 dan 08.05 di Cengkareng. 

Pk 08.00 saya coba SMS, tetapi masih belum masuk juga. Hati saya bertanya-tanya lagi. Hari itu pikiran saya masih galau, rapat Tim-19 yg saya ikuti kurang kosentrasi. Apa lagi dalam keadaan kurang tidur. Sesekali saya coba telpon lagi, tetapi masih belum aktif.
     
Saya coba telpon pegawai Disorda yang terlibat kegiatan Sister City, tetapi dia ke Soul, waktu saya telpon dia paham deng permasalahan Syauqi, karena sinyal HP lagi kurang bagus, pk 12.02 dia kirim SMS: "Syauqi lg di pesawat pa, sktr jam 3an nyampe cibubur." Saya masih ragu, jangan-jangan kabar ini seperti kabar tadi malam, katanya jam 00.00 terbang, tetapi jam 09.00 pagi belum mendarat.
     
Jam 12.35 saya menelpon salah seorang pejabat Disorda, saat itu sedang di luar kota. Informasinya passport Syauqi jatuh di kursi pesawat dan diduduki orang lain, sudah dibuatkan passport (surat jalan laksana paspor) oleh KBRI di Beijing, posisi sudah di Singapura. Ketika saya tanya pesawat apa?, jam berapa?, dia tidak bisa menjelaskan, tetapi ia berjanji akan menghubungi saya lagi.
   
Saat kami sedang menerima tamu di Baitul Wakif, pejabat itu pk 13.27 menelpon saya, "Syauqi sudah mendarat di Bandara Cengkareng." Dengan perasaan lega saya kembali ke kantor.
   
Informasi yg paling meyakinkan, anak saya SMS pakai nomor HP yang sehari-hari ia ipakai sebelum berangkat, "Alhamdulillah.. baru aja sampe, uqi lgsg ke cibubur".
   
Cibubur, di Graha Wisata Pramuka, tempat pembekalan sebelum berangkat.
   
Pk 16.20 istri saya menelpon, "Pak, pulang!, Uqi sudah pulang." Sayapun pulang.
   
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yg mempertemukan kembali orang-orang yang terpisah.
   
Memang benar kata teman saya, "Ke luar negeri itu seribu satu masalahnya".
   
Allah SWT memberikan pengalaman lebih dibanding teman-teman serombongan, paling tidak, lebih satu hari di negeri orang, merasakan bagaimana mengurus passport di luar negeri sampai diwawancarai polisi juga.
   
Itulah proses menuju dewasa. Semoga pengalaman ini menjadi pengetahuan bagi yang lain.


(Habis)