Rabu, 25 Februari 2015

Lupa Melepas Celana Dalam

Lupa Melepas Celana Dalam
Intermeso 194

Dalam rangka Kesyukuran 54 Tahun Darunnajah, Dewan Nazir (Pembina) Yayasan Darunnajah mengadakan Sujud Syukur di Masjid Nabawi dan Masjid Harom.

Setelah ziarah Mekah, jama'ah Umroh Darunnajah sampai di Masjid Ji'ronah. Mereka akan menunaikan ibadah umroh yg kedua.
   
Mereka berwudlu, ganti pakaian ihrom, sholat sunnat, dan kembali ke mobil. Ni'at ihrom dibaca bersama-sama dan mobilpun bergerak meninggalkan Ji'ronah.
   
Rombongan tiba di Mekah, sampai di depan hotel bersamaan dengan iqomat sholat Dhuhur dikomandangkan. Sebagian dari kami ada yg langsung shalat Dhuhur dan sebagian yang lain terus ke hotel. Saya sendiri, sholat kemudian ke hotel. 
   
Rencananya makan siang, karena jam 14.00 kumpul di lobby, ber-sama-sama ke Masjid Harom dan sujud syukur di lantai tiga, kemudian dilanjutkan ibadah umroh.

Sementara itu saya ke kamar mandi dulu, mau pipis. Di situ saya baru sadar kalau dalam keadaan ihrom tidak boleh memakai celana dalam.

Rupanya waktu di Masjid Ji'ronah saya lupa melepas celana dalam. Dengan demikian ihrom saya batal.
   
Ya sudah, mau bagaimana lagi. "Itu dibahas nanti saja setelah acara sujud syukur di Masjid Harom selesai", kata saya kepada anak saya yg siap memandu. Anak saya juga membatalkan ihromnya dan melepas kain ihromnya.
   
Insya'allah setelah kunjungan ke Syu'bah Tahfizh Al-Quran ba'da sholat Maghrib, kami akan umroh lagi dengan mengambil miqot di Tan'im. Semoga dapat terlaksana, dan saya tidak lupa lagi.

Mekah, 30 Januari 2014

Selasa, 24 Februari 2015

Sukses Karena Sepatu

Sukses Karena Sepatu
Intermeso 210

Ini cerita alumni Darunnajah angkatan sekian (sengaja tidak disebutkan), yang juga wali santri Darunnajah. Sebut saja namanya Z.

Saat itu ia masih duduk sebagai santri. Suatu hari adik kelasnya masuk kamarnya, sebut saja namanya A.

"Assalamu'alaikum?" Salam si A.

Rupanya  ia sedang mencari sepatu, ia hendak  latihan, si A memang dikenal aktif dalam kegiatan Pramuka.

"Itu sepatu siapa?" Tanya A.
"Wa'alaikum salam. Ini sepatu saya", jawab Z.

Z memang rajin mencuci sepatu. Sepatu yang sudah bersih itu  ditaruhnya di atas lemari.

"Ini sepatu, saya tukar dengan sepatu saya ya!?",
"Silakan!", jawab Z.

Maka A memakai sepatu yang masih bersih itu dan pergi ke lapangan.

Beberapa tahun kemudian, setelah terjun di masyarakat, si A menjadi muballigh yang sukses, sedangkan Z menjadi bankir di sebuah kabupaten di Serambi Mekah.

Kadang-kadang Z bercanda, "Beliau itu sukses karena sepatu saya".

Bisa jadi sepatu yang A pakai, mengandung barokah, sehingga siapa saja yang pakai akan sukses dalam hidupnya.

Tapi ini cuma bercanda, jangan ditanggapi dengan serius. Jika ada kesamaan inisial, hanya kebetulan saja.

Sopir Taxi dan Malaikat

Sopir Taxi dan Malaikat
Intermeso 164

Kalau Garut dikenal sebagai Kota Dodol, Kudus populer dengan sebutan Kota Jenang. Tetapi kudus juga terkenal dengan pesantren tahfizhnya.
   
Pada suatu hari, saya numpang taxi, untuk mencairkan suasana saya bertanya kepada sopir, "Pak poolnya di mana?" dan juga asal sopir, "Pak, asalnya dari mana?", pak sopir jawab, "Kudus".
     
"Wah, saya punya teman tahfizh dari Kudus, di sana ada pesantren tahfizh ya Pak?".
"Ada, Pesantren mBah Arwani," jawabnya.
     
"Mbah Arwani bagus, tahfizh-nya bagus, qiro'ahnya bagus, tilawah-nya juga bagus", lanjutnya.

Rupanya sopir ini santri juga, gumam saya dalam hati.
   
"Teman saya itu mungkin santrinya mBah Arwani, sekarang imam di Darunnajah", lanjut saya.
   
"Darunnajah berapa santrinya?", tanya pak sopir. "Dua ribu lima ratus!". Jawab saya.
   
"Wah, kalau yang jama'ah 40 orang ada satu malaikat yang turun, kalau 2500, berapa yang turun?" Lanjut pak sopir.
   
Tanpa menjawab dan menghitung pakai kalkulator, saya berfikir dan merenung sendiri. "Kalau saya salat sendirian di kamar, berapa malaikat yg turun?"

Senin, 23 Februari 2015

HP Bukan Pisang

HP bukan Pisang
Intermeso 215

Telepon genggam dibuat pertama pada tahun 1973, tetapi saya melihatnya baru pada tahun 1990.

Pada tahun itu HP beratnya 2 kg dan bentuknya sebesar bata merah. HP itu dilengkapi antena dan dihibungkan dengan baterey sebesar paving blok.

Orang yang sedang menelpon, tangan kirinya memegang HP, dan tangan kanannya menenteng baterey, sambil ber-hallo-hallo dan mondar-mandir. Dia bukan lagi pamer  HP baru, tetapi sedang mencari sinyal yang pas.

Pada tahun 2000-an, bentuk HP sudah lebih kecil. Kira-kira sebesar jagung atau segede pisang. Ada yang bentuknya seperti pisang dan pakai antena.

Ini cerita alumni Darunnajah yang melanjutkan studi ke Negeri Jiran.

Pada suatu hari HP-nya hilang waktu ditinggal ke kamar mandi.

Ketika dicari tidak ketemu maka dicoba nomornya dihubungi dengan HP lain. Terdengar nada panggilnya aktif.

Tidak lama kemudian tetangganya juga mengeluh kehilangan HP. Setelah coba dipanggil juga nada panggilnya aktif.

Maka dengan sungguh-sungguh mencari, beberapa nomor HP yang hilang itu dipanggil dengan beberapa HP, dan samar-samar seperti ada suara dering di atas rumah.

Dengan seksama dan hati-hati nada dering itu diikuti. Akhirnya ditemukan HP itu ada di loteng di atas plafon. Di sana bukan hanya satu HP, tetapi ada beberapa HP, bahkan sebagian ada yang mendapat luka gigitan.

Lantas siapa yang mencuri dan mengumpulkan HP di sana?

Menurut yang punya cerita, HP-HP itu dikumpulkan monyet. Mungkin saja HP itu disangka pisang karena bentuknya memang seperti pisang, bahkan ada yang sempat digigit pula.

Konon di Negeri Jiran itu, monyet termasuk binatang yang dilindungi sehingga bebas berkeliaran ke mana-mana. Tetapi ada yang punya pendapat kalau monyet itu tidak dilindungi, tetapi orang Malaysia tidak sempat mengganggu monyet.

Kamis, 05 Februari 2015

Hadapi MEA, Ponpes Harus Kembangkan Kewirausahaan 04 Pebruari 2015 19:32 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, 
JAKARTA- Untuk menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN, pondok pesantren (ponpes) harus mempersiapkan diri dengan berbagai macam program. Salah satunya yang penting adalah program yang berorientasi pada penguatan kemandirian pesantren, yakni kewirausahaan. 

Direktur Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Mohsen, mengatakan hal tersebut kepada Republika, Senin (2/2). Melalui program kewirausahaan ini, ia menjelaskan, para santri akan memiliki keterampilan dan kemandirian sehingga mampu mengembangkan berbagai usaha kemandiran ekonomi, misalnya agrobisnis dan agroindustri. 

“Program kewirausahaan ini juga penting untuk memberi kesiapan kepada pesantren agar tidak tergantung kepada pihak lain,” katanya.

Selain program kewirausahaan, lanjut dia, para santri juga harus menguasai keterampilan hidup sehingga mereka memiliki kemampuan untuk bersaing. “Jadi, di samping memilki kemampuan dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi, santri juga harus memiliki keterampilan hidup sebagai bekal mereka untuk bekerja. Jadi, orientasi pada menjawab tantangan persaingan kerja,” ujar Mohsen.

Saat ini, kata dia, Kemenag sedang melakukan pemetaan ponpes untuk menciptakan pemerataan kesempatan. Pemetaan ini dilakukan untuk menggali potensi yang dimiliki tiap pesantren, misalnya ada pesantren bahari, yakni pesantren yang mengangkat potensi kawasan pesisir. 

"Kita sudah mulai tapi belum menyeluruh. Yang sudah baru beberapa. Nanti insya Allah semua pesantren.''

Belum semua siap
Mengenai kesiapan pesantren dalam menghadapi MEA, cendekiawan Muslim sekaligus Pimpinan Pesantren Mahasiswa dan Sarjana Ulil Albab, Bogor, Didin Hafidhuddin menilai, belum semua pesantren siap. 

Menurut dia, pesantren yang siap menghadapi MEA adalah pesantren yang di dalam kurikulumnya mengajarkan keterampilan hidup dan bahasa asing, selain mengajarkan ilmu syariah. “Keterampilan hidup  itu di antaranya ilmu ekonomi, pertanian, kewirausahaan, dan hal lainnya,” kata Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini, Senin. 

Ia menilai, jika pesantren belum mengajarkan keterampilan dan bahasa asing maka pesantren tersebut akan kesulitan menghadapi MEA 2015. Hal ini karena inti dari MEA adalah kemandirian dan tidak boleh tergantung pada siapapun. Jika seorang santri tidak menguasai bahasa asing, kata dia, maka dia akan ditindas oleh tenaga kerja Malaysia dan negara lainnya yang mampu berbahasa inggirs secara lancar. Pada akhirnya, ia akan menjadi asing di negeri sendiri.

"Sudah ada beberapa pondok pesantren yang sekarang begitu (mengajarkan keterampilan dan bahasa asing). Pesantren inilah yang akan siap menghadapi MEA. Lain halnya jika pesantren itu tidak pernah mengajarkan hal itu, rasanya memang agak berat kalau ada pasar tunggal.''

Sedangkan, pengamat ekonomi Islam Gunawan Yasni berpendapat, agar siap menghadapi MEA, pesantren harus meningkatkan pengajaran ilmu pengetahuan umum terutama dasar-dasar ilmu ekonomi dan teknologi informasi.

Ia menjelaskan, ketika MEA diberlakukan, Indonesia akan menjadi bagian dari pasar bebas ASEAN yang semuanya berkaitan dengan ekonomi, keuangan, dan teknologi informasi. Indonesia akan dimasuki secara liberal oleh produk-produk berteknologi tinggi. 

"Karena itu, pesantren harus lebih concern pada ilmu umum seperti ilmu ekonomi, networking, dan teknologi informasi,” ujarnya. 

Terkait hal itu, Gunawan menyarankan pesantren dan sekolah umum mulai membekali muridnya dengan ilmu ekonomi keuangan dan teknologi informasi di semua jurusan, baik IPA dan IPS.  c83 ed:Wachidah Handasah

Kalajengking dan Katak

Kalajengking dan Katak
Cerita Sebelum Tidur 2:

Suatu saat ketia sedang bepergian, Dzunnun Al Misri melihat kalajengking merayap ke pinggir sungai Nil dengan cepat. 

Dzunnun Al-Mishri mengikutinya karena ingin tahu. Ia ingin mendapat pelajaran dari apa yang ia lihat, bukan apa yang ia dengar.

Ketika kalajengking itu mendekati tepian sungai Nil, tiba-tiba dari dalam sungai muncul seekor katak. Kalajengking langsung menaiki punggung katak itu. Kemudian katak mengantarkannya ke seberang sungai.

Melihat itu, Dzunnun al-Mishri mengambil perahu dan mengejarnya. Sampai di seberang sana, kalajengking itu masih juga berjalan. 

Pada satu tempat di tepian sungai Nil, ada seorang anak muda sedang tertidur lelap.
Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan datang seekor ular berbisa yang mau mematuk anak muda itu. 

Belum sampai ular itu sampai pada pemuda itu, kalajengking menyergapnya. 

Terjadilah perkelahian antara kedua binatang itu dan berakhir dengan kekalahan ular. Ular itu mati dijepit kalajengking. 

Setelah itu, kalajengking kembali lagi ke tepian sungai Nil dan muncul lagi katak itu untuk meyeberangkannya ke tempat semula.

Apa yang dapat diperoleh dari pelajaran itu? Dzunnun al-Mishri menyimpulkan, betapa seringnya Allah melindungi kita tanpa kita ketahui. Begitu sayangnya Tuhan kepada kita, sampai ketika kita tidur dan tidak berdaya menghadapi bahaya, Tuhan masih masih melindungi kita.

Rabu, 04 Februari 2015

Khalifah Umar Mencari Menantu

Cerita Sebelum Tidur 1:
Khalifah Umar Mencari Menantu

Pada suatu malam Khalifah Umar bin Khattab melakukan incognito (blusukan) dengan ditemani ajudannya. Di tengah-tengah blusukannya itu, Umar merasakan lelah sehingga memutuskan untuk beistirahat di sebuah tempat.

Pada saat beistirahat, mereka tidak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan anak gadisnya.

"Wahai anakku, campurkanlah susu yang kamu perah tadi dengan sedikit air," perintah seorang ibu.

Sang gadis merasa heran dengan perintah itu karena baru kali ini ibunya melakukan hal ini. 

Dengan kata-kata yang sangat sopan, si gadis mencoba untuk menolak permintaan ibunya.

"Maaf Ibu, apakah ibu tidak pernah mendengar perintah Amirul Mukminin Umar bin Khattab untuk tidak menjual susu yang dicampur dengan air?" ujar sang gadis.
"Iya, ibu juga pernah mendengar perintah tersebut," jawab si ibu.

Kemudian ibunya berkilah,
"Tetapi, mana ada khalifah sekarang? Apakah dia melihat kita? Ayolah anakku, laksanakanlah perintah ibumu ini, ini juga hanya mencampur sedikit air saja kok."

Sang gadis kali ini terdiam saja. Ia masih belum tahu jalan pikiran ibunya yang dengan rela hati menyuruhnya melakukan kebatilan demi meraup keuntungan. Akan tetapi beberapa saat kemudian sang anak gadis mulai bekata-kata lagi.

Sang gadis berkata, "Dia (khalifah) memang tidak melihat kita, akan tetapi Allah melihat kita dan demi Allah saya tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan melanggar seruan Khalifah Umar bin Khattab untuk selama-lamanya."

Setelah mendengar percakapan gadis dengan ibunya tersebut, Umar dan ajudannya langsung pulag ke rumah.

Sesampainya di rumah, Umar bin Khattab bercerita tentang pengalaman blusukan tadi malam dan meminta putranya, 'Ashim bin Umar untuk menikahi gadis yang salehah tersebut. Ia ingin menjadikan gadis salehah tersebut sebagai menantunya.

Maka menikahlah 'Ashim bin Umar dengan gadis pilihan ayahnya. Dari pernikahan, Umar dikarunia cucu perempuan yang bernama Laila atau yang biasa disebut dengan Ummu Ashim.

Dan dari Ummu Ashim inilah lahir seorang pemimpin yang hebat dan terkenal yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Seorang khalifah kelima yang sangat adil, zuhud dan bijaksana.