HP bukan Pisang
Intermeso 215
Telepon genggam dibuat pertama pada tahun 1973, tetapi saya melihatnya baru pada tahun 1990.
Pada tahun itu HP beratnya 2 kg dan bentuknya sebesar bata merah. HP itu dilengkapi antena dan dihibungkan dengan baterey sebesar paving blok.
Orang yang sedang menelpon, tangan kirinya memegang HP, dan tangan kanannya menenteng baterey, sambil ber-hallo-hallo dan mondar-mandir. Dia bukan lagi pamer HP baru, tetapi sedang mencari sinyal yang pas.
Pada tahun 2000-an, bentuk HP sudah lebih kecil. Kira-kira sebesar jagung atau segede pisang. Ada yang bentuknya seperti pisang dan pakai antena.
Ini cerita alumni Darunnajah yang melanjutkan studi ke Negeri Jiran.
Pada suatu hari HP-nya hilang waktu ditinggal ke kamar mandi.
Ketika dicari tidak ketemu maka dicoba nomornya dihubungi dengan HP lain. Terdengar nada panggilnya aktif.
Tidak lama kemudian tetangganya juga mengeluh kehilangan HP. Setelah coba dipanggil juga nada panggilnya aktif.
Maka dengan sungguh-sungguh mencari, beberapa nomor HP yang hilang itu dipanggil dengan beberapa HP, dan samar-samar seperti ada suara dering di atas rumah.
Dengan seksama dan hati-hati nada dering itu diikuti. Akhirnya ditemukan HP itu ada di loteng di atas plafon. Di sana bukan hanya satu HP, tetapi ada beberapa HP, bahkan sebagian ada yang mendapat luka gigitan.
Lantas siapa yang mencuri dan mengumpulkan HP di sana?
Menurut yang punya cerita, HP-HP itu dikumpulkan monyet. Mungkin saja HP itu disangka pisang karena bentuknya memang seperti pisang, bahkan ada yang sempat digigit pula.
Konon di Negeri Jiran itu, monyet termasuk binatang yang dilindungi sehingga bebas berkeliaran ke mana-mana. Tetapi ada yang punya pendapat kalau monyet itu tidak dilindungi, tetapi orang Malaysia tidak sempat mengganggu monyet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar