Jumat, 27 Februari 2015

217: Lupa Nama Alumni

Lupa Nama Alumni
Intermeso 217

Bersyukur, pada tahun 1998 saya bersama teman dapat menunaikan ibadah haji. Meskipun pada tahun itu negeri Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi.

Jama'ah gelombang pertama, langsung menuju Kota Nabi. Selama 9 hari kami melaksanakan sholat Arba'in, yaitu sholat berjama'ah 50 waktu di Masjid Nabawi.

Di hotel kami tinggal, ada dua alumni Darunnajah yang sedang belajar di Universitas Madinah, datang menjenguk kami.

Kami bercerita macam-macam, tentang Darunnajah dan tentang Negara Indonesia yang sedang dilanda krisis ekonomi.

Karena asyiknya, sampai saya terlanjur cerita uang saku jamaah haji yang tidak kami terima. Mestinya setiap jamaah haji menerima uang saku 1500 riyal.

Besuknya dua mahasiswa itu datang lagi, membawa dua dus kurma. Setelah kami buka ternyata masing-masing ada amplop dan beberapa lembaran uang riyalnya.

Juli 2012 Pesantren Darunnajah Pusat dan Darunnajah 2 mengirim kotingen pada acara Perkemahan Pramuka Santri Nusantara ke-3 di Batam.

Para pimpinan Darunnajah juga hadir pada acara itu sekaligus menghadiri reuni alumni Darunnajah di Kepulauan Riau.

Adalah alumni Darunnajah yang menjadi anggota dewan di Kepulauan Riau. Ia sibuk menjemput dan memfasilitasi kami.

Karena alumni itu tamatan Madinah dan anak saya baru saja enam bulan di Madinah, maka saya bercerita tentang Madinah.

Juga saya bercerita saat ibadah haji dan berziarah ke kota Suci Madinah. "Saat itu saya dikunjungi dua mahasiswa Madinah, yang satu namanya A dan satu lagi namanya saya lupa".
Maka alumni Madinah tadi menyambung, " Yang satu lagi saya Tadz".

"Subhanalloh, dengan alumni kok lupa." Mungkin karena sudah 14 tahun, jadi lupa.

Saya sering begitu, nama orang mudah lupa, tapi uang riyal tidak lupa.

Kiai Meninggal, Santrinya Habis

Kiai Meninggal, Santrinya Habis

Menghadapi kegiatan Praktik Pengabdian Masyarakat (PPM)  Santri Darunnajah di sebuah kabupaten (sengaja tidak disebutkan) , Kiai Mahrus Amin dijadwalkan menghadap bupati.

Saya ditugasi mendampingi Kiai, malam itu istirahat di penginapan.

Seperti biasanya, sebelum Shubuh beliau mencari masjid terdekat untuk sholat berjamaah bersama masyarakat setempat. Itu cerita sopirnya.

Saya terbangun karena mendengar suara sopirnya sedang wiridan di musholla penginapan.

Selesai sholat Shubuh saya jalan- jalan menghirup udara pagi di halaman penginapan. Dan Kiai Mahrus datang dengan menumpang becak.

Beliau bercerita, baru sholat Shubuh di sebuah masjid di kampung.

Tidak jauh dari situ ada pesantren, berdiri sejak tahun 1920, pimpinannya sudah ganti tiga generasi, jumlah santrinya sudah ribuan.

Pimpinan generasi ketiga meninggal enam bulan yang lalu. Kader penerus tidak ada. Santrinya habis.

4 Desember 2009

Kamis, 26 Februari 2015

217: Lompat Pagar

Lompat Pagar
(Intermeso 217)

K.H. Mahrus Amin mendapat undangan mengisi seminar di sebuah kota (sengaja tidak disebutkan). Beliau didampingi seorang alumni dan dijemput pula alumni asal kota itu.

Kebiasaan Kiai Mahrus sebelum Shubuh sudah bangun dan mencari masjid terdekat.

Di pagi itu beliau didampingi dua alumni mencari masjid, yang terdekat adalah masjid raya.
Ternyata seluruh pintu pagar masjid itu dikunci dan tidak ada satpam yang jaga. Maka dengan dibantu dua alumni, beliau melompati pagar masjid raya.

Singkat cerita empat orang itu sholat Shubuh berjama'ah dengan imam Kiai Mahrus. Apa artinya? Kalau tidak ada tamu yang lompat pagar, setiap Shubuh yang sholat hanya satu orang, artinya dia yang adzan, dia yang iqomat, dan dia pula yang sholat.

Pengalaman Kiai Mahrus sholat di Masjid Raya itu mengilhaminya dan menjadi bahan seminar. Bahan seminar yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari itu, banyak dirubah dalam penyampaiannya.

"Bagaimana hidup ini mau berkah, kalau sholat Shubuhnya tidak berjama'ah."

"Bagaimana sebuah kota akan diberkahi, kalau jama'ah Shubuhnya sepi."

Birrul Walidaini

Birrul Walidaini
Intermeso 196

Umroh kesyukuran 54 Tahun Darunnajah belum lama berlalu, tentu setiap jama'ah mempunyai kenangan masing-masing.
   
Ada delapan alumni TMI Darunnajah yg sedang belajar di Universitas Islam Madinah. Mereka diberi kesempatan untuk menjadi pemandu (kalau tidak mau disebut muthowwif).

Satu mahasiswa di antaranya sedang mudhif, atau istilah yang popiler pada santri Darunnajah, sedang "dimudhifin". Itu mahasiswa yang wajahnya mirip saya.
   
Dalam acara kesyukuran itu, secara pribadi saya juga mensyukuri karunia Allah yang saya terima dan rasakan selama ini, di antaranya pada tahun ini saya dapat menunaikan ibadah umroh, napak tilas ibadah haji tahun 1998.
   
Saya harus bersyukur lagi, anak saya berkesempatan belajar di Universitas Islam Madinah. Sehingga saya didampingi pemandu khusus.

Di luar tugas-tugas kepanitiaan, anak saya selalu memandu saya, dari menunjukkan tempat Harom (Masjid), waktu-waktu yang tepat ke Roudhoh, memandu umroh, sampai jalan-jalan ke Musium Nabi. Tentu ini kesyukuran lagi.
   
Saya selalu dilayani, dari dibuatkan teh manis saat makan, sampai dikawal dan dipandu do'a saat ibadah umroh. Semoga menjadi anak sholeh sebagai harapan setiap orang tua.
   
Hari Jumat, pagi itu kami berdua pergi umroh, mengambil miqot dari Tan'im. Pk 11.00 umroh selesai dan kami lanjutkan sholat Jumat. Kami mendapat tempat di luar Mas'a karena tempat sa'i itu pintu-pintunya sudah ditutup.
     
Mohon maklum, hari Jumat adalah hari libur Saudi, sehingga pukul 10 Masjid Harom sudah penuh.

Kami bersimpuh di bawah terik sinar matahari, di samping proyek perluasan Masjid Harom. Untung saja, saya sudah tahallul, sehinnga sebagian kain ihrom bisa untuk menutup kepala botak saya.
   
Yang dapat giliran khotib pada hari itu Imam Besar dan Khotib Masjid Harom, Dr. Abdurrahman As-Sudais, judulnya Birrul Walidaini. Anak saya yg duduk di samping saya, yang mahasiswa Madinah dan tamatan MAK Darunnajah, pasti paham isi yang disampaikan khotib saat itu. Saya tidak usah pura-pura bertanya, "Apa isi khutbah tadi?".
   
Kembali ke hotel, saya mendengar komentar mahasiswa Madinah yg alumni Gontor, "Khutbahnya bagus sekali",

"Kata Kiai Hasan", maksudnya pimpinan Gontor yang juga sholat Jum'at di Masjid Harom, "Kalau penjelasan birrul walidaini itu dari orang tua, berarti orang tua meminta hak kepada anak, tetapi kalau dari orang lain, berarti memberi tahu kewajiban kepada anak".

Kiai Hasan Abdullah Sahal juga menunaikan ibadah umroh sambil menjenguk putranya yg sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah.
   
Alumni Darunnajah yang asal Mukomuko Bengkulu menambahkan, "Syeikh Sudais mengambil judul itu, karena orang tuanya baru meninggal. Saya juga waktu bapak saya baru meninggal, pakai judul itu", lanjutnya.
   
Mahasiswa asal Mukomuko ini, ayahnya meninggal tahun lalu saat menjelang libur musim panas.

Rabu, 25 Februari 2015

Lupa Melepas Celana Dalam

Lupa Melepas Celana Dalam
Intermeso 194

Dalam rangka Kesyukuran 54 Tahun Darunnajah, Dewan Nazir (Pembina) Yayasan Darunnajah mengadakan Sujud Syukur di Masjid Nabawi dan Masjid Harom.

Setelah ziarah Mekah, jama'ah Umroh Darunnajah sampai di Masjid Ji'ronah. Mereka akan menunaikan ibadah umroh yg kedua.
   
Mereka berwudlu, ganti pakaian ihrom, sholat sunnat, dan kembali ke mobil. Ni'at ihrom dibaca bersama-sama dan mobilpun bergerak meninggalkan Ji'ronah.
   
Rombongan tiba di Mekah, sampai di depan hotel bersamaan dengan iqomat sholat Dhuhur dikomandangkan. Sebagian dari kami ada yg langsung shalat Dhuhur dan sebagian yang lain terus ke hotel. Saya sendiri, sholat kemudian ke hotel. 
   
Rencananya makan siang, karena jam 14.00 kumpul di lobby, ber-sama-sama ke Masjid Harom dan sujud syukur di lantai tiga, kemudian dilanjutkan ibadah umroh.

Sementara itu saya ke kamar mandi dulu, mau pipis. Di situ saya baru sadar kalau dalam keadaan ihrom tidak boleh memakai celana dalam.

Rupanya waktu di Masjid Ji'ronah saya lupa melepas celana dalam. Dengan demikian ihrom saya batal.
   
Ya sudah, mau bagaimana lagi. "Itu dibahas nanti saja setelah acara sujud syukur di Masjid Harom selesai", kata saya kepada anak saya yg siap memandu. Anak saya juga membatalkan ihromnya dan melepas kain ihromnya.
   
Insya'allah setelah kunjungan ke Syu'bah Tahfizh Al-Quran ba'da sholat Maghrib, kami akan umroh lagi dengan mengambil miqot di Tan'im. Semoga dapat terlaksana, dan saya tidak lupa lagi.

Mekah, 30 Januari 2014

Selasa, 24 Februari 2015

Sukses Karena Sepatu

Sukses Karena Sepatu
Intermeso 210

Ini cerita alumni Darunnajah angkatan sekian (sengaja tidak disebutkan), yang juga wali santri Darunnajah. Sebut saja namanya Z.

Saat itu ia masih duduk sebagai santri. Suatu hari adik kelasnya masuk kamarnya, sebut saja namanya A.

"Assalamu'alaikum?" Salam si A.

Rupanya  ia sedang mencari sepatu, ia hendak  latihan, si A memang dikenal aktif dalam kegiatan Pramuka.

"Itu sepatu siapa?" Tanya A.
"Wa'alaikum salam. Ini sepatu saya", jawab Z.

Z memang rajin mencuci sepatu. Sepatu yang sudah bersih itu  ditaruhnya di atas lemari.

"Ini sepatu, saya tukar dengan sepatu saya ya!?",
"Silakan!", jawab Z.

Maka A memakai sepatu yang masih bersih itu dan pergi ke lapangan.

Beberapa tahun kemudian, setelah terjun di masyarakat, si A menjadi muballigh yang sukses, sedangkan Z menjadi bankir di sebuah kabupaten di Serambi Mekah.

Kadang-kadang Z bercanda, "Beliau itu sukses karena sepatu saya".

Bisa jadi sepatu yang A pakai, mengandung barokah, sehingga siapa saja yang pakai akan sukses dalam hidupnya.

Tapi ini cuma bercanda, jangan ditanggapi dengan serius. Jika ada kesamaan inisial, hanya kebetulan saja.

Sopir Taxi dan Malaikat

Sopir Taxi dan Malaikat
Intermeso 164

Kalau Garut dikenal sebagai Kota Dodol, Kudus populer dengan sebutan Kota Jenang. Tetapi kudus juga terkenal dengan pesantren tahfizhnya.
   
Pada suatu hari, saya numpang taxi, untuk mencairkan suasana saya bertanya kepada sopir, "Pak poolnya di mana?" dan juga asal sopir, "Pak, asalnya dari mana?", pak sopir jawab, "Kudus".
     
"Wah, saya punya teman tahfizh dari Kudus, di sana ada pesantren tahfizh ya Pak?".
"Ada, Pesantren mBah Arwani," jawabnya.
     
"Mbah Arwani bagus, tahfizh-nya bagus, qiro'ahnya bagus, tilawah-nya juga bagus", lanjutnya.

Rupanya sopir ini santri juga, gumam saya dalam hati.
   
"Teman saya itu mungkin santrinya mBah Arwani, sekarang imam di Darunnajah", lanjut saya.
   
"Darunnajah berapa santrinya?", tanya pak sopir. "Dua ribu lima ratus!". Jawab saya.
   
"Wah, kalau yang jama'ah 40 orang ada satu malaikat yang turun, kalau 2500, berapa yang turun?" Lanjut pak sopir.
   
Tanpa menjawab dan menghitung pakai kalkulator, saya berfikir dan merenung sendiri. "Kalau saya salat sendirian di kamar, berapa malaikat yg turun?"