Jumat, 07 Maret 2014

Lesehan Beratap Langit

Intermeso 52: Lesehan Beratap Langit


            Kira-kira pertengahan perjalanan Madinah - Mekah, mobil berhenti di makanul istirohah (rest area). Fasilitas yang tersedia selain tempat parkir yg luas adalah; masjid, WC, dan tentu saja makanan yang dijual.
            Makanan yg fres banyak pilihan, dari ikan goreng, ayam bakar, dan ayam goreng.   Para pembeli bisa makan di mobil, dalam ruangan, atau lesehan.
            Lesehan di sini berbeda dengan di Indonesia, yaitu bangunan berbentuk segi empat, kira-kira dua kali dua meter, di dalamnya digelar karpet. 
            Yang berbeda adalah bangunan ini tidak beratap, alias atapnya langit. Kalau malam hari kita bisa makan sambil memandang bintang di langit, tetapi pada siang hari, tentu kita bisa makan sambil kepanasan.

Makan Lauknya Nasi

Intermeso 51: Makan Lauknya Nasi

            Setelah shalat Dhuhur di mushalla kampus Univertas Ummul Quro' Mekah, silaturrahim dilanjutkan di tempat lain. Kami dibawa bus kampus menuju tempat lesehan.
            Tempat lesehan ini nampaknya istimewa dibanding tempat lesehan sekitarnya yang tidak pakai atap, hanya kerangka saja.
            Di dalam ruangan yang berpendingin ada sofa panjang dan rendah yang merapat ke seluruh dinding.
            Para pimpinan Darunnajah banyak berdiskusi dengan masyayikh Ummul Quro, dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan.
            Kemudian di tengah lantai karpet di bentangkan sufroh, yaitu plastik panjang untuk alas makan bersama. Nampaknya saat itu acara makan besar, Syeikh Hasan Al Bukhori akan menjamu tamunya.
            Piring besar, kecil, dan nampan yang berisi makanan dan ditutup alumnium foil diletakkan di atas sufroh.
            Setelah alumnium foil dibuka, isinya, ikan goreng, ikan bakar, ikan sayur, cah kangkung, dsb. Ada juga tamis (roti tawar bundar) dan nasi. Nasinya cuma sedikit, lebih banyak ikan dan lauknya.
            Maka ada yang komentar, "Makan ikan, lauknya nasi!".

Lupa Pakai Celana Dalam

Intermeso 50: Lupa Pakai Celana Dalam


            Setelah ziarah Mekah, jama'ah Umroh Darunnajah sampai di Masjid Ji'ronah. Mereka akan menunaikan ibadah umroh yg kedua. Mereka berwudlu, ganti pakaian ihrom, salat sunat, dan kembali ke mobil. Ni'at ihrom dibaca bersama-sama dan mobilpun bergerak meninggalkan Ji'ronah.
            Rombongan tiba di Mekah, sampai di depan hotel bersamaan denga iqomat sholat Dhuhur dikomandangkan. Sebagian dari kami ada yg langsung shalat Dhuhur dan sebagian yang lain terus ke hotel. Saya sendiri, sholat kemudian ke hotel.  
            Rencananya makan siang, karena jam 14.00 kumpul di loby, bersama-sama ke Masjid Harom dan sujud syukur di lantai tiga, kemudian dilanjutkan ibadah umroh.
            Saya ke kamar mandi dulu, mau pipis. Di situ saya baru sadar kalau dalam keadaan ihrom itu tidak boleh memakai celana dalam. Rupanya waktu di Masjid Ji'ronah saya lupa melepas celana dalam. Dengan demikian saya batal ihrom. Ya sudah, mau bagaimana lagi. "Itu dibahas nanti saja setelah acara sujud syukur di Masjid Haram selesai", kata saya kepada anak saya yg siap memandu. Anak saya juga membatalkan ihromnya dan melepas kain ihromnya.
            Insya'allah setelah kunjungan ke Syu'bah Tahfizh Al-Quran ba'da shalat Maghrib, kami akan umroh lagi dg mengambil miqot di Tan'im.
            Semoga dapat terlaksana, dan saya tidak lupa lagi. 

Sabtu, 01 Maret 2014

Intermeso 49: Musholla Bintang Lima

Intermeso 49: Musholla Bintang Lima


            Jika iqomat dikumandangkan, banyak orang yang lari, bahkan ada yang terbirit-birit. Bagi yg belum tahu, tentu saja kaget dan bertanya, "Ada apa, kok banyak yg lari?." Itu pemandangan di jalan di sekitar Masjid Harom.
            Sholat di Masjid Harom, jangan terlambat, tidak bisa masuk masjid, bisa jadi dapat tempat di halaman masjid, di depan hotel, atau di jalan raya. 
            Untuk dapat duduk manis di dalam masjid, tanpa tersenggol orang yang lalu-lalang, tentu harus datang lebih awal sebelum waktu sholat.
            Berutunglah orang-orang yang tinggal di hotel di sekitar Masjid Harom yg ada fasilitas mushollanya, musholla itu dindingnya dari kaca dan menghadap ke Harom.
            Bagi yang sholat di shof paling depan, tentu dapat melihat orang yang sholat di Masjid Harom. Sementara  sound system di ruangan itu tersambung dengan sound system masjid. Azan dan suara imam juga tersambung ke musholla itu, sehingga banyak penghuni hotel yang salat lima waktu di musholla itu denga imam dari Masjid Harom.
            Jika bulan Romadhon tiba, tentu banyak orang yang ingin sholat di musholla seperti itu, sehingga harga hotelpun menjadi ber-lipat2.
            Itulah musholla, bagian dari fasilitas hotel berbintang lima. "Ingin sholat di musholla?", tinggal masuk lift di depan kamar, pencet tombol "M", akan sampai di musholla, tanpa berpayah-payah berlari menyebarang jalan dan berdesak-desakan di pintu masjid.

Kamis, 27 Februari 2014

Intermeso 48: Birrul Walidaini

Intermeso 48: Birrul Walidaini


            Umroh kesyukuran 40 Tahun Darunnajah belum lama berlalu, tentu setiap jama'ah mempunyai kenangan masing2.
            Ada delapan alumni Tarbiyatul Mu’allimin/Mu’allimat Al Islamiyah (TMI) Darunnajah yang sedang belajar di Universitas Islam Madinah. Mereka diberi kesempatan untuk menjadi pemandu (kalau tidak mau disebut muthowwif). Satu mahasiswa di antaranya sedang mudhif (menerima tamu), atau istilah yg popiler pada santri Darunnajah, sedang "dimudhifin". Itu mahasiswa yg wajahnya mirip saya.
            Dalam acara kesyukuran itu, secara pribadi saya juga mensyukuri karunia Allah yg saya rasakan selama ini, di antaranya pada tahun ini saya dapat menunaikan ibadah umroh, napak tilas ibadah haji tahun 1998. 
            Saya harus bersyukur lagi, anak saya berkesempatan belajar di Universitas Islam Madinah, sehingga saya didampingi pemandu khusus. Di luar tugas-tugas kepanitiaan, anak saya selalu memandu saya, dari menunjukkan tempat Haram (Masjid), waktu-waktu yang tepat ke Raudhoh, memandu umroh sampai jalan-jalan ke Musium Nabi. Tentu ini kesyukuran lagi. 
            Saya selalu dilayani, dari dibuatkan teh manis saat makan, sampai dikawal dan dipandu do'a saat ibadah umroh. Semoga menjadi anak sholeh sebagai harapan setiap orang tua.
            Hari Jumat di Mekah, pagi itu kami berdua pergi umroh, mengambil miqot dari Tan'im. Pk 11.00 umroh selesai dan kami lanjutkan sholat Jumat. Kami mendapat tempat di luar Mas'a karena tempat sa'i itu pintu-pintunya sudah ditutup.
            Mohon maklum, hari Jumat adalah hari libur Saudi, sehingga pukul 10 Masjid Harom sudah penuh. Kami bersimpuh di bawah terik sinar matahari, di samping proyek perluasan Masjid Harom. Untung saja, saya sudah tahallul, sehinnga sebagian kain ihrom bisa untuk menutup kepala botak saya.
            Yang dapat giliran khotib pada hari itu Imam Besar dan Khotib Masjid Harom, Dr. Abdurrahman As-Sudais, judulnya Birrul Walidaini (berbakti kedua orang tua). Anak saya yang duduk di samping saya, yang mahasiswa Madinah dan tamatan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Darunnajah, pasti paham isi yg disampaikan khotib saat itu. Saya tidak usah pura-pura bertanya, "Apa isi khutbah tadi?".
            Kami kembali ke hotel, saya mendengar komentar mahasiswa Madinah yang alumni Gontor, "Khutbahnya bagus sekali", "Kata Kiai Hasan", maksudnya pimpinan Gontor yang pada saat juga sholat Jum'at di Masjid Harom, "Kalau penjelasan birrul walidaini itu dari orang tua, berarti orang tua meminta hak kepada anak, tetapi kalau dari orang lain, berarti memberi tahu kewajiban kepada anak". Kiai Hasan juga umroh sambil menjenguk putranya yg sedang menempuh pendidikan S2 di Madinah.
            Alumni Darunnajah yang asal Mukomuko Bengkulu menambahkan, "Syeikh Sudais mengambil judul itu, karena orang tuanya baru meninggal. Saya juga waktu bapak saya baru meninggal, pakai judul itu", lanjutnya. 
            Mahasiswa asal Mukomuko ini, ayahnya meninggal tahun lalu saat menjelang libur musim panas. 

Intermeso 47: Penipuan via Telepon

Intermeso 47: Penipuan via Telepon


    Modus operandi penipuan via telepon memang ada, mungkin kita pernah mendengar cerita ini. Pernah ada wali santri yang terkena pula, dan sempat mentransfer dana ke rekening penelpon.
    Pihak pesantren juga sudah berusaha mengingatkan kepada santri, wali santri, dan ustadz, baik melalui pengumuman saat ada pertemuan, melalui surat, maupun selebaran yang dibagikan saat wali santri berkunjung ke pesantren.
    Isi telpon biasanya berkisar pada anak kecelakaan, "Sekarang di rumah sakit, kalau anak Bapak ingin segera ditangani, mohon deposit dana 'sekian' juta ke nomor rekening 'sekian'!"
      Peristiwa ini terjadi dua minggu lalu, tapi kali ini memang beda, karena wali santri ini kebetulan seorang ustadzah. Ustadzah Darunnajah mendapat telpon, mengaku dari polisi, "Hallo, saya bicara dengan Ibu X?, ini telpon dari kantor polisi, sebentar saya sambungkan".
      Kemudian di seberang telepon terdengar suara, yang berat datar dan berwibawa, "Hallo, ini dari kantor polisi, anak Ibu yang bernama Y, sekarang ditahan di kantor polisi karena terlibat kasus Narkoba, kalau Ibu ingin berdamai, mohon menghubungi nomor sekian-sekian"
    Reaksi pertama, ustadzah itu panik, bingung, dan tentu saja menangis. Untung kemudian sadar dan menelpon musyrif-nya, ternyata anaknya Si Y ada di asrama dan dalam keadaan sehat wal afiat. Untuk meyakinkan ibunya,  anak itu disuruh menelpon ibunya.
    Sadar akan peristiwa ini adalah modus penipuan, maka tangis sang ibu berubah menjadi air mata bahagia.
    Heran juga ya? Dari mana "polisi" itu bisa tahu nama Ustadzah X, anaknya Y, dan nomor teleponnya?.
    Karena suasananya panik, maka serba terburu-buru, seandainya suasananya agak nyantai, "polisi"nya bisa diajak ngobrol yang lebih jelas, mungkin yang dimaksud Narkoba adalah nasi-karo-bakwan, bukan singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif berbahaya lainnya.

Intermeso 46: Nasi Panas dan Daging Empuk

Intermeso 46: Nasi Panas dan Daging Empuk


    Tahun 1979, Gedung Fatahillah 2 pojok (sekarang Lab Kimia), ditempati guru-guru SD sebagai kamar.
    Meskipun sudah disediakan dapur umum, kadang-kadang mereka masak juga di depan kamar. Atau ambil nasi di dapur tapi lauknya masak sendiri.
    Suatu ketika ada yang masak nasi dan "daging".
    Menjelang salat Isya' datanglah dua orang santri kelas niha'i, sambil keliling-keliling, siapa tahu ada santri yang ngumpet di kelas SD. Seperti biasanya menanyakan, "Masak apa?, ini daging apa?". Maka nasi sepiring dan daging dihabiskan berdua, untuk tuan rumah tidak disisakan barang sedikitpun, disangkanya tuan rumah sudah makan.  
    Apa lagi saat itu, nasi masih panas dan daging empuk sedikit kenyal.
    Setelah makanan habis, mereka berdua bertanya kepada tuan rumah, "Itu tadi daging apa, kok enak?!"
    "Daging yang mana?", tuan rumah pura-pura balik bertanya.
    "Itu, tu, yang tadi saya makan!" Jawab dua orang santri hampir bersamaan.
    Maka jawab tuan rumah, "Ma'af itu daging bekicot!"
    "Bekiicoott???" Kontan dua santri itu muntah-muntah.
    Mungkin juga tuan rumah agak sengaja, karena kebiasaannya begitu, ambil makanan tanpa izin tuan rumah.