Jumat, 07 Maret 2014

Tampang Indonesia

Intermeso 55: Tampang Indonesia


            Saya orang Indonesia asli, lahir dan besar di Indonesia. Tampang saya yang pasti tampang Indonsia. 
            Setelah shalat Subuh, saya ziarah ke Makam Baqi', jalan-jalan sampai tengah dan balik lagi ke pintu gerbang.
            Di depan makam ada antrian, ternyata pembagian brosur dan DVD, orang-orang juga dibagi buku. Karena penasaran, saya ikut ngantri juga. 
            Sampai di loket, saya sok akrab, saya tegur petugasnya, "Assamu'alaikum, ya Syekh!" Petugas langsung jawab, "Wa'alaikum salam, Anta Indonisi?"
            Kemudian saya cuma dikasi DVD dan brosur. Padahal orang-orang di depan saya dikasi beberapa buku. Kemudian saya bertanya, "Aina kitab!"
            Petugas menjawab, "Ma fi kitab". Kemudian saya pegang buku yang di depan saya, "Hadza kitab!"
            Mungkin maksud petugas, buku untuk orang Indonesia tidak ada. Kemudian saya sambung lagi, "Fahimtu lughatal 'Arobiyah".
            Dia masih nanya lagi, "Fahimta!?”.
            Kemudian saya dibagi dua buku dan DVD-nya ditambah satu lagi.
            Ini gara-gara saya bertampang Indonesia. Orang-orang yang ngantri di depan saya tadi; tinggi, besar, brewokan; tidak pakai ditanya lagi, langsung saja dibagi buku.

Mihrob Tidak Ada Imamnya

Intermeso 54: Mihrob Tidak Ada Imamnya


      Tahun 1980-an di kampung saya ada yang menunaikan ibadah haji, dialah orang pertama naik haji sejak saya lahir.
            Sepulang saya ibadah haji April 1998, ia datag ke rumah dan bertanya, "Di Masjid Nabawi saya sering salat di shaf paling depan di depan mihrob, tetapi imamnya tidak ada. Di mana itu imam shalat?"
            Jangan-jangan ini merupakan pertanyaan yg disimpan di dalam hati bertahun-tahun lamanya. Tetapi, karena ia orang yang pertama naik haji, bingung akan bertanya kepada siapa? Kalau kebingungan ini diceritakan kepada orang yang belum haji, hanya akan menularkan kebingungan saja, kira-kira begitu pikirnya.
            Kebetulan, sebelum naik haji, saya sudah baca buku-buku haji yang saya dapat dari Departemen Agama, sehingga pertanyaan itu alhamdulillah bisa saya jawab,
            "Masjid Nabawi pertama kali dibangun tanpa adanya Mihrob. Mihrob pertama kali dibangun pada tanggal 15 Sya'ban tahun ke-2 H setelah Rosululloh SAW menerima perintah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Yerussalem ke Baitullah di Makkah. 
            Mihrab di Masjid Nabawi sekarang ini berjumlah lima buah:
1. Mihrob Nabawi, berada di sebelah timur mimbar. Tempat ini dahulu digunakan untuk mengimami jamaah shalat. Mihrob ini hadiah dari Al-Asyraf Qait Bey dari Mesir.
2. Mihrob Sulaiman, berada di sebelah kiri mimbar dan bentuknya sama dengan Mihrab Nabawi. Mihrab ini dibangun pada tahun 938 H dan merupakan hadiah Sultan bin Salim dari Turki.
3. Mihrob Utsmany, berada di tengah-tengah dinding arah kiblat yang sekarang digunakan imam memimpin shalat.
4. Mihrab Tahajjud, berada di sebelah utara jendela makam Rosululloh dan bentuknya lebih kecil daripada Mihrob Nabawi dan Mihrab Sulaiman. Di tempat inilah Rosululloh sering melakukan shalat Tahajjud. Mihrab ini mengalami perombakan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Majid.
5. Mihrob al-Majidi, berada di sebelah utaranya Dakkatul Agawat, jaraknya kurang lebih 4 meter."
            Kemudian obrolan saya tutup, "Mestinya sampean pergi haji lagi dan duduk di depan Mihrob Utsmany, insya'aAllah imamnya di situ."

Madinah (Juga) Banjir

Intermeso 53: Madinah (Juga) Banjir

            Tadi pagi di Madinah hujan, kata orang pribumi, “Hujan tadi pagi cukup lebat”. Air pun menggenang di mana-mana. Nampak petugas menyedot air di beberapa tempat, termasuk di jalan underpass. 
            Beberapa mobil "klelep" (tenggelam) di jalan underpass.
            Kota Nabi yang beriklim subtropis ini jarang turun hujan, setahun paling 5-10 kali.
            Jika hari hujan, kampus pun otomatis diliburkan, baik hujan air ataupun hujan debu. Lain di Jakarta, banjir dianggap musibah, tetapi di Madinah, banjir menjadi tontonan. Para keluarga menggelar tikar di pinggir wadi' (lembah) menikmati "indahnya" banjir.  Hujan kali ini, bisa jadi sebagai pertanda pergantian dari musim dingin ke musim panas.
            Demikian kata salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah yang memandu kami.

(Madinah, 28 Januari 2014)

Lesehan Beratap Langit

Intermeso 52: Lesehan Beratap Langit


            Kira-kira pertengahan perjalanan Madinah - Mekah, mobil berhenti di makanul istirohah (rest area). Fasilitas yang tersedia selain tempat parkir yg luas adalah; masjid, WC, dan tentu saja makanan yang dijual.
            Makanan yg fres banyak pilihan, dari ikan goreng, ayam bakar, dan ayam goreng.   Para pembeli bisa makan di mobil, dalam ruangan, atau lesehan.
            Lesehan di sini berbeda dengan di Indonesia, yaitu bangunan berbentuk segi empat, kira-kira dua kali dua meter, di dalamnya digelar karpet. 
            Yang berbeda adalah bangunan ini tidak beratap, alias atapnya langit. Kalau malam hari kita bisa makan sambil memandang bintang di langit, tetapi pada siang hari, tentu kita bisa makan sambil kepanasan.

Makan Lauknya Nasi

Intermeso 51: Makan Lauknya Nasi

            Setelah shalat Dhuhur di mushalla kampus Univertas Ummul Quro' Mekah, silaturrahim dilanjutkan di tempat lain. Kami dibawa bus kampus menuju tempat lesehan.
            Tempat lesehan ini nampaknya istimewa dibanding tempat lesehan sekitarnya yang tidak pakai atap, hanya kerangka saja.
            Di dalam ruangan yang berpendingin ada sofa panjang dan rendah yang merapat ke seluruh dinding.
            Para pimpinan Darunnajah banyak berdiskusi dengan masyayikh Ummul Quro, dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan.
            Kemudian di tengah lantai karpet di bentangkan sufroh, yaitu plastik panjang untuk alas makan bersama. Nampaknya saat itu acara makan besar, Syeikh Hasan Al Bukhori akan menjamu tamunya.
            Piring besar, kecil, dan nampan yang berisi makanan dan ditutup alumnium foil diletakkan di atas sufroh.
            Setelah alumnium foil dibuka, isinya, ikan goreng, ikan bakar, ikan sayur, cah kangkung, dsb. Ada juga tamis (roti tawar bundar) dan nasi. Nasinya cuma sedikit, lebih banyak ikan dan lauknya.
            Maka ada yang komentar, "Makan ikan, lauknya nasi!".

Lupa Pakai Celana Dalam

Intermeso 50: Lupa Pakai Celana Dalam


            Setelah ziarah Mekah, jama'ah Umroh Darunnajah sampai di Masjid Ji'ronah. Mereka akan menunaikan ibadah umroh yg kedua. Mereka berwudlu, ganti pakaian ihrom, salat sunat, dan kembali ke mobil. Ni'at ihrom dibaca bersama-sama dan mobilpun bergerak meninggalkan Ji'ronah.
            Rombongan tiba di Mekah, sampai di depan hotel bersamaan denga iqomat sholat Dhuhur dikomandangkan. Sebagian dari kami ada yg langsung shalat Dhuhur dan sebagian yang lain terus ke hotel. Saya sendiri, sholat kemudian ke hotel.  
            Rencananya makan siang, karena jam 14.00 kumpul di loby, bersama-sama ke Masjid Harom dan sujud syukur di lantai tiga, kemudian dilanjutkan ibadah umroh.
            Saya ke kamar mandi dulu, mau pipis. Di situ saya baru sadar kalau dalam keadaan ihrom itu tidak boleh memakai celana dalam. Rupanya waktu di Masjid Ji'ronah saya lupa melepas celana dalam. Dengan demikian saya batal ihrom. Ya sudah, mau bagaimana lagi. "Itu dibahas nanti saja setelah acara sujud syukur di Masjid Haram selesai", kata saya kepada anak saya yg siap memandu. Anak saya juga membatalkan ihromnya dan melepas kain ihromnya.
            Insya'allah setelah kunjungan ke Syu'bah Tahfizh Al-Quran ba'da shalat Maghrib, kami akan umroh lagi dg mengambil miqot di Tan'im.
            Semoga dapat terlaksana, dan saya tidak lupa lagi. 

Sabtu, 01 Maret 2014

Intermeso 49: Musholla Bintang Lima

Intermeso 49: Musholla Bintang Lima


            Jika iqomat dikumandangkan, banyak orang yang lari, bahkan ada yang terbirit-birit. Bagi yg belum tahu, tentu saja kaget dan bertanya, "Ada apa, kok banyak yg lari?." Itu pemandangan di jalan di sekitar Masjid Harom.
            Sholat di Masjid Harom, jangan terlambat, tidak bisa masuk masjid, bisa jadi dapat tempat di halaman masjid, di depan hotel, atau di jalan raya. 
            Untuk dapat duduk manis di dalam masjid, tanpa tersenggol orang yang lalu-lalang, tentu harus datang lebih awal sebelum waktu sholat.
            Berutunglah orang-orang yang tinggal di hotel di sekitar Masjid Harom yg ada fasilitas mushollanya, musholla itu dindingnya dari kaca dan menghadap ke Harom.
            Bagi yang sholat di shof paling depan, tentu dapat melihat orang yang sholat di Masjid Harom. Sementara  sound system di ruangan itu tersambung dengan sound system masjid. Azan dan suara imam juga tersambung ke musholla itu, sehingga banyak penghuni hotel yang salat lima waktu di musholla itu denga imam dari Masjid Harom.
            Jika bulan Romadhon tiba, tentu banyak orang yang ingin sholat di musholla seperti itu, sehingga harga hotelpun menjadi ber-lipat2.
            Itulah musholla, bagian dari fasilitas hotel berbintang lima. "Ingin sholat di musholla?", tinggal masuk lift di depan kamar, pencet tombol "M", akan sampai di musholla, tanpa berpayah-payah berlari menyebarang jalan dan berdesak-desakan di pintu masjid.