Intermeso 53:
Madinah (Juga) Banjir
Tadi pagi di Madinah hujan,
kata orang pribumi, “Hujan tadi pagi cukup lebat”. Air pun menggenang di
mana-mana. Nampak petugas menyedot air di beberapa tempat, termasuk di jalan underpass.
Beberapa mobil "klelep" (tenggelam) di jalan underpass.
Kota Nabi yang beriklim subtropis ini jarang turun hujan, setahun paling 5-10 kali.
Jika hari hujan, kampus pun otomatis diliburkan, baik hujan air ataupun hujan debu. Lain di Jakarta, banjir dianggap musibah, tetapi di Madinah, banjir menjadi tontonan.Para keluarga menggelar tikar di pinggir wadi'
(lembah) menikmati "indahnya" banjir. Hujan kali ini, bisa jadi sebagai pertanda
pergantian dari musim dingin ke musim panas.
Demikian kata salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah yang memandu kami.
Beberapa mobil "klelep" (tenggelam) di jalan underpass.
Kota Nabi yang beriklim subtropis ini jarang turun hujan, setahun paling 5-10 kali.
Jika hari hujan, kampus pun otomatis diliburkan, baik hujan air ataupun hujan debu. Lain di Jakarta, banjir dianggap musibah, tetapi di Madinah, banjir menjadi tontonan.
Demikian kata salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah yang memandu kami.
(Madinah,
28 Januari 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar