Intermeso 55:
Tampang Indonesia
Saya orang Indonesia asli, lahir dan besar di Indonesia .
Tampang saya yang pasti tampang Indonsia.
Setelah shalat Subuh, saya ziarah ke Makam Baqi', jalan-jalan sampai tengah dan balik lagi ke pintu gerbang.
Di depan makam ada antrian, ternyata pembagian brosur dan DVD, orang-orang juga dibagi buku. Karena penasaran, saya ikut ngantri juga.
Sampai di loket, saya sok akrab, saya tegur petugasnya, "Assamu'alaikum, ya Syekh!" Petugas langsung jawab, "Wa'alaikum salam, Anta Indonisi?"
Kemudian saya cuma dikasi DVD dan brosur. Padahal orang-orang di depan saya dikasi beberapa buku. Kemudian saya bertanya, "Aina kitab!"
Petugas menjawab, "Ma fi kitab". Kemudian saya pegang buku yang di depan saya, "Hadza kitab!"
Mungkin maksud petugas, buku untuk orangIndonesia
tidak ada. Kemudian saya sambung lagi, "Fahimtu lughatal 'Arobiyah".
Dia masih nanya lagi, "Fahimta!?”.
Kemudian saya dibagi dua buku dan DVD-nya ditambah satu lagi.
Ini gara-gara saya bertampangIndonesia .
Orang-orang yang ngantri di depan saya tadi; tinggi, besar, brewokan; tidak
pakai ditanya lagi, langsung saja dibagi buku.
Setelah shalat Subuh, saya ziarah ke Makam Baqi', jalan-jalan sampai tengah dan balik lagi ke pintu gerbang.
Di depan makam ada antrian, ternyata pembagian brosur dan DVD, orang-orang juga dibagi buku. Karena penasaran, saya ikut ngantri juga.
Sampai di loket, saya sok akrab, saya tegur petugasnya, "Assamu'alaikum, ya Syekh!" Petugas langsung jawab, "Wa'alaikum salam, Anta Indonisi?"
Kemudian saya cuma dikasi DVD dan brosur. Padahal orang-orang di depan saya dikasi beberapa buku. Kemudian saya bertanya, "Aina kitab!"
Petugas menjawab, "Ma fi kitab". Kemudian saya pegang buku yang di depan saya, "Hadza kitab!"
Mungkin maksud petugas, buku untuk orang
Dia masih nanya lagi, "Fahimta!?”.
Kemudian saya dibagi dua buku dan DVD-nya ditambah satu lagi.
Ini gara-gara saya bertampang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar