Jumat, 07 Maret 2014

Berebut Masuk Roudhoh (Dua)

Intermeso 57: Berebut Masuk Roudhoh (Dua)

            Setelah shalat Isya' dan makan malam, kami memasuki Masjid Nabawi. Dengan mendahulukan kaki kanan, kami menuju Babu Salam. 
            Sambil berjalan ke arah Makam Rosul, kami membaca salawat. Sepanjang dinding masjid, tertulis kaligradi nama-nama Nabi Muhammad SAW; Hamid, Mahmud, Thoha, Yasin, Musthofa, dst.
            Ketika sampai di depan makam nabi, kami menghadap ke arah makam dan membaca salawat atas nabi, kemudian bergeser ke kanan menyampaikan salam kepada Abu Bakar Shiddiq, dan bergesr ke kanan lagi kemudian menyampaikan salam kepada Umar bin Khotthob.

Kami kembali ke kiri ke arah banner yg sebentar lagi akan dibuka. Begitu banner dibuka, kami lari ke arah ruang Roudhoh, alhamdulillah dapat masuk, kaki saya dapat menginjak karpet berwarna hijau di antara tiang-tiang yang berwarna putih. Warna karpet dan tiang sengaja dibedakan dengan yang lain supaya kita dapat mengenali ruang Raudhah yaiyu di antara Makam Rasul (dulunya kediaman Rosul) dan mimbar sebagai mana hadits shohih Muslim yang tertulis di atas pintu:
مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
“Tempat antara rumahku dan minbarku adalah satu taman dari taman-taman surga.”
            Kami hanya bisa berdiri, belum bisa bergerak, apa lagi sholat. Maka petugas mulai menarik tangan orang-orang di bagian depan supaya keluar dari Roudhoh, maka saya bergeser ke belakang, ke arah kiri mendekati Makam Rosul. Alhamdulillah, saya dapat "mojok", logika saya yg di pojok akan "diusir" terakhir.
            Ruang Roudhoh mulai longgar, saya dapat sholat dg leluasa, dan berdo'a se-banyak-banyaknya. Berdo'a untuk diri sendiri, keluarga, kerabat dekat, dan ada juga do'a-do’a titipan teman. Supaya tidak lupa, do'a-do’a itu sudah ditulis di kertas kecil. 
            Ruang Roudhoh semakin longgar, petugas keamanan mulai ke belakang, mulai mencolek-colek saya untuk keluar. Strategi saya, saya shalat lagi, dan saya berdo'a pada sujud terakhir.
            Selesai sholat tangan saya ditarik, saya ke depan sampai mendekati pintu, saya sholat lagi. Petugas tidak berani mencolek atau mengusir orang yang lagi sholat. 
            Dengan dituntun petugas, saya keluar dari Raudhah, tapi hati saya sudah puas, sudah sholat beberapa roka'at dan sudah berdo'a berulang kali.
            Ruang Roudhah pun menjadi kosong, dan banner dibuka lagi, maka orang-orang berdesak-desakan berlari menuju Roudhoh seperti saya tadi. Saya pulang ke hotel dg perasaan senang dan menang, karena. sebelumnya, dua kali saya tidak berhasil masuk Roudhoh, karena kurang strategi.

Berebut Masuk Roudhoh (Satu)

Intermeso 56: Berebut Masuk Roudhoh (Satu)


            Berdo'a di Roudhoh menjadi idaman setiap orang yang menunaikan ibadah haji atau umroh. Roudhoh termasuk tempat mustajabah untuk berdo'a dari sekian banyak tempat-tempat mustajabah.
            Karena banyak yang ingin masuk Roudhoh, maka dipakai sistem buka-tutup. Seluruh jalan menuju Raudhoh ditutup plastik banner.
            Orang-orang menunggu di sepanjang banner yg dipasang. Di dalam Roudhoh dijaga petugas, berdo'a di situ jangan terlalu lama, sutu-dua-tiga orang disuruh keluar, dan semua harus kelar, dan ruangan Roudhoh menjadi kosong lagi.
            Maka banner pun dibuka, dan orang-orang yang sudah lama menunggu,
berlarian menuju Roudhoh, tentu saja sambil berdesak-desakan. 
            Karena masuk Roudhoh itu sulit maka saya memakai "guide", mahasiswa UIM yg wajahnya mirip saya.
            Waktu yang dipilih ialah setelah salat Isya', waktu itu masjid sedang kosong, karena orang-orang pada umumnya sedang pulang ke hotel untuk makan malam.
            Begitu banner dibuka, orang-orang berlarian masuk ke ruang Roudhoh, dalam hitungan detik, Raudhoh penuh kembali.

Tampang Indonesia

Intermeso 55: Tampang Indonesia


            Saya orang Indonesia asli, lahir dan besar di Indonesia. Tampang saya yang pasti tampang Indonsia. 
            Setelah shalat Subuh, saya ziarah ke Makam Baqi', jalan-jalan sampai tengah dan balik lagi ke pintu gerbang.
            Di depan makam ada antrian, ternyata pembagian brosur dan DVD, orang-orang juga dibagi buku. Karena penasaran, saya ikut ngantri juga. 
            Sampai di loket, saya sok akrab, saya tegur petugasnya, "Assamu'alaikum, ya Syekh!" Petugas langsung jawab, "Wa'alaikum salam, Anta Indonisi?"
            Kemudian saya cuma dikasi DVD dan brosur. Padahal orang-orang di depan saya dikasi beberapa buku. Kemudian saya bertanya, "Aina kitab!"
            Petugas menjawab, "Ma fi kitab". Kemudian saya pegang buku yang di depan saya, "Hadza kitab!"
            Mungkin maksud petugas, buku untuk orang Indonesia tidak ada. Kemudian saya sambung lagi, "Fahimtu lughatal 'Arobiyah".
            Dia masih nanya lagi, "Fahimta!?”.
            Kemudian saya dibagi dua buku dan DVD-nya ditambah satu lagi.
            Ini gara-gara saya bertampang Indonesia. Orang-orang yang ngantri di depan saya tadi; tinggi, besar, brewokan; tidak pakai ditanya lagi, langsung saja dibagi buku.

Mihrob Tidak Ada Imamnya

Intermeso 54: Mihrob Tidak Ada Imamnya


      Tahun 1980-an di kampung saya ada yang menunaikan ibadah haji, dialah orang pertama naik haji sejak saya lahir.
            Sepulang saya ibadah haji April 1998, ia datag ke rumah dan bertanya, "Di Masjid Nabawi saya sering salat di shaf paling depan di depan mihrob, tetapi imamnya tidak ada. Di mana itu imam shalat?"
            Jangan-jangan ini merupakan pertanyaan yg disimpan di dalam hati bertahun-tahun lamanya. Tetapi, karena ia orang yang pertama naik haji, bingung akan bertanya kepada siapa? Kalau kebingungan ini diceritakan kepada orang yang belum haji, hanya akan menularkan kebingungan saja, kira-kira begitu pikirnya.
            Kebetulan, sebelum naik haji, saya sudah baca buku-buku haji yang saya dapat dari Departemen Agama, sehingga pertanyaan itu alhamdulillah bisa saya jawab,
            "Masjid Nabawi pertama kali dibangun tanpa adanya Mihrob. Mihrob pertama kali dibangun pada tanggal 15 Sya'ban tahun ke-2 H setelah Rosululloh SAW menerima perintah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Yerussalem ke Baitullah di Makkah. 
            Mihrab di Masjid Nabawi sekarang ini berjumlah lima buah:
1. Mihrob Nabawi, berada di sebelah timur mimbar. Tempat ini dahulu digunakan untuk mengimami jamaah shalat. Mihrob ini hadiah dari Al-Asyraf Qait Bey dari Mesir.
2. Mihrob Sulaiman, berada di sebelah kiri mimbar dan bentuknya sama dengan Mihrab Nabawi. Mihrab ini dibangun pada tahun 938 H dan merupakan hadiah Sultan bin Salim dari Turki.
3. Mihrob Utsmany, berada di tengah-tengah dinding arah kiblat yang sekarang digunakan imam memimpin shalat.
4. Mihrab Tahajjud, berada di sebelah utara jendela makam Rosululloh dan bentuknya lebih kecil daripada Mihrob Nabawi dan Mihrab Sulaiman. Di tempat inilah Rosululloh sering melakukan shalat Tahajjud. Mihrab ini mengalami perombakan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Majid.
5. Mihrob al-Majidi, berada di sebelah utaranya Dakkatul Agawat, jaraknya kurang lebih 4 meter."
            Kemudian obrolan saya tutup, "Mestinya sampean pergi haji lagi dan duduk di depan Mihrob Utsmany, insya'aAllah imamnya di situ."

Madinah (Juga) Banjir

Intermeso 53: Madinah (Juga) Banjir

            Tadi pagi di Madinah hujan, kata orang pribumi, “Hujan tadi pagi cukup lebat”. Air pun menggenang di mana-mana. Nampak petugas menyedot air di beberapa tempat, termasuk di jalan underpass. 
            Beberapa mobil "klelep" (tenggelam) di jalan underpass.
            Kota Nabi yang beriklim subtropis ini jarang turun hujan, setahun paling 5-10 kali.
            Jika hari hujan, kampus pun otomatis diliburkan, baik hujan air ataupun hujan debu. Lain di Jakarta, banjir dianggap musibah, tetapi di Madinah, banjir menjadi tontonan. Para keluarga menggelar tikar di pinggir wadi' (lembah) menikmati "indahnya" banjir.  Hujan kali ini, bisa jadi sebagai pertanda pergantian dari musim dingin ke musim panas.
            Demikian kata salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah yang memandu kami.

(Madinah, 28 Januari 2014)

Lesehan Beratap Langit

Intermeso 52: Lesehan Beratap Langit


            Kira-kira pertengahan perjalanan Madinah - Mekah, mobil berhenti di makanul istirohah (rest area). Fasilitas yang tersedia selain tempat parkir yg luas adalah; masjid, WC, dan tentu saja makanan yang dijual.
            Makanan yg fres banyak pilihan, dari ikan goreng, ayam bakar, dan ayam goreng.   Para pembeli bisa makan di mobil, dalam ruangan, atau lesehan.
            Lesehan di sini berbeda dengan di Indonesia, yaitu bangunan berbentuk segi empat, kira-kira dua kali dua meter, di dalamnya digelar karpet. 
            Yang berbeda adalah bangunan ini tidak beratap, alias atapnya langit. Kalau malam hari kita bisa makan sambil memandang bintang di langit, tetapi pada siang hari, tentu kita bisa makan sambil kepanasan.

Makan Lauknya Nasi

Intermeso 51: Makan Lauknya Nasi

            Setelah shalat Dhuhur di mushalla kampus Univertas Ummul Quro' Mekah, silaturrahim dilanjutkan di tempat lain. Kami dibawa bus kampus menuju tempat lesehan.
            Tempat lesehan ini nampaknya istimewa dibanding tempat lesehan sekitarnya yang tidak pakai atap, hanya kerangka saja.
            Di dalam ruangan yang berpendingin ada sofa panjang dan rendah yang merapat ke seluruh dinding.
            Para pimpinan Darunnajah banyak berdiskusi dengan masyayikh Ummul Quro, dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan.
            Kemudian di tengah lantai karpet di bentangkan sufroh, yaitu plastik panjang untuk alas makan bersama. Nampaknya saat itu acara makan besar, Syeikh Hasan Al Bukhori akan menjamu tamunya.
            Piring besar, kecil, dan nampan yang berisi makanan dan ditutup alumnium foil diletakkan di atas sufroh.
            Setelah alumnium foil dibuka, isinya, ikan goreng, ikan bakar, ikan sayur, cah kangkung, dsb. Ada juga tamis (roti tawar bundar) dan nasi. Nasinya cuma sedikit, lebih banyak ikan dan lauknya.
            Maka ada yang komentar, "Makan ikan, lauknya nasi!".